Sebotol Air Putih


Seorang customer datang di sebuah toko yang letaknya persis diujung jalan sana, hendak menemui seorang sales yang menawarkan jasanya. Didalam toko tersebut, tersedia air putih sebanyak galon besar untuk karyawan mereka, sehingga diletakkan diujung ruang yang cukup tersembunyi agar tak terlihat. Tetapi rupanya, seorang customer ini melihat air putih dalam galon itu dan herannya setiap saat customer itu datang ke toko itu, dia akan selalu meminta ijin untuk mengambil air putih sebanyak botol kecil yang sudah dia bawa dalam tasnya, padahal didalam toko tersebut sebenarnya dijual air mineral.

Awalnya pemilik toko ini beranggapan bahwa customer itu sedang kehausan, tetapi setiap kali customer ini datang, dia tidak pernah absen untuk mengisi air putih kedalam botol kosong yang dia bawa dalam tasnya, sehingga pemilik toko ini pun merasa sangat jengkel dan merasa bahwa customer ini memang sengaja membawa botol kosong untuk diisi air putih yang ada ditokonya. Walau pun demikian, pemilik toko ini tidak pernah berkata “tidak” ketika customernya minta air putih untuk mengisi botol kecilnya itu.

Kejadian lain diambil dari kisah seseorang yang selalu memilih makanan dan minuman yang lebih mahal walau pun belum tentu enak kalau dia ditraktir oleh orang lain. Dia tidak pernah peduli apakah seseorang itu saudara atau orang tuanya sendiri yang sedang mengalami kesulitan keuangan atau pun semua orang yang pada saat itu bersama dengannya sudah memilih makanan dan minuman dengan harga yang tidak mahal, tetapi yang dia pikirkan adalah yang penting dia senang dan dia sedang dibayari.

Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda ‘berhak’ memilih makanan atau minuman atau barang yang mahal jika Anda ditraktir oleh orang lain? Dan Anda benar-benar melakukannya, walau pun Anda tidak merasa benar-benar menginginkannya atau perlu, Anda tetap memaksakan diri untuk memilih yang mahal ‘lagi dibayari nih’? Atau sebaliknya, Anda bersikap lebih bijaksana untuk tidak memilih apa yang mahal, tetapi apa yang Anda suka dan memang diperlukan?

Selama hidup ini, dalam dunia kerja, keluarga, atau pun bersama teman, saya pernah melihat orang-orang yang bisa menyesuaikan diri, tidak asal memilih yang mahal misalnya ketika dia diajak makan oleh orang lain, tetapi sebaliknya, ada pula yang merasa ‘harus’ memilih yang sangat mahal walau pun dia tidak tahu apakah pilihannya itu benar karena dia ingin mencoba (pikirnya ah..ada yang sedang bayari kok). Tentunya, yang menyenangkan adalah ketika melihat seseorang itu bisa memilih sesuatu bukan karena dia sedang dibayari, dan akan menyedihkan ketika melihat seseorang itu memilih sesuatu karena dia sedang ditraktir, lantas ternyata pilihannya tidak sesuai dengan seleranya dan akhirnya dia tidak bisa menghabiskannya, atau memesan menu sebanyak-banyaknya sampai perut terasa sangat kekenyangan.

Untuk itu penting kita memiliki pengertian dan penilaian akan diri sendiri dan orang lain. Walau pun seseorang yang hendak memberi atau membayari kita makan itu kaya, tetapi alangkah bijaksananya jika kita lebih ‘mencukupkan’ diri dengan apa yang ada, dalam arti, tidak perlu kita memilih yang mahal atau sebanyak-banyaknya hanya karena seseorang akan memberi tetapi pilihlah yang kita benar-benar suka, pas banyaknya, dan atau bermanfaat untuk kita.

Pepatah mengatakan ‘perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan’, demikian pula jika kita tidak ingin suatu saat nanti orang akan memanfaatkan kebaikan hati kita, maka kita pun harus terlebih dahulu bersikap tidak memanfaatkan kebaikan hati orang lain. Karena sebenarnya apa yang kita tabur, suatu hari kelak kita pasti akan menuainya, jadi jika saat ini kita sering ‘memanfaatkan’ saudara atau teman yang kaya, maka suatu hari nanti akan ada orang yang juga ‘memanfaatkan’ dirimu.

Kelihatannya seperti sesuatu yang munafik, kita seakan-akan berpura-pura tidak senang atau tidak mau terlihat serakah (jaim – jaga image) ketika seseorang hendak memberi (membayari) kita, tetapi cobalah mengerti bahwa kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami oleh seseorang dan cobalah memahami diri kita sendiri, misalnya saja customer tersebut diatas, jika dia seorang pekerja keliling, maka pantas jika dia meminta air putih untuk bekal, tetapi jika kenyataannya dia hanya sekedar ‘tidak mau rugi’, maka kita bisa menilai bahwa customer tersebut sebenarnya sedang memanfaatkan kesempatan. Atau seperti cerita seseorang tersebut diatas, pahamilah bahwa saudaramu, orang tuamu, atau orang lain juga masih mempunyai kebutuhan hidup yang mungkin engkau ketahui atau bahkan tidak ketahui. Kalau dia hendak membelikan sesuatu untukmu, bukan berarti engkau berhak untuk memanfaatkan kesempatan itu, tetapi sebagai saudara mungkin dia hanya bertanggung jawab atasmu atau sebagai teman dia mungkin sedang mengalami keberuntungan atau sedang merayakan sesuatu.

Hal yang sangat sederhana yaitu berusaha memikirkan orang lain ketika seseorang itu hendak memberikan sesuatu untuk kita dan sulit untuk dimengerti “mengapa kita harus memikirkan orang lain yang hendak memberikan sesuatu untuk kita?”, tetapi tanpa kita sadari hal itu sangat penting dalam kehidupan ini.

Mungkin bagi orang-orang tertentu (yang benar-benar kaya), artikel ini kurang begitu bermakna, karena bagi mereka itu tidak masalah jika teman-temannya berfoya-foya bersama-sama dengannya, tetapi sebenarnya dari semuanya ini, sebenarnya yang terpenting adalah attitude kita. Coba pikirkan: bagaimana seseorang bisa mempercayai dan mengasihimu jika selama ini yang mereka lihat engkau adalah orang yang ‘serakah’? Atau mungkin orang jadi enggan bertemu denganmu karena mereka takut disuruh bayari.

Berkat yang diberikan Tuhan diberikan agar kita bisa memberkati orang lain, tetapi jika berkat yang diberikan Tuhan melalui pemberian orang lain itu kita ‘habis-habiskan’ lantaran sikap kita yang serakah namun tak tampak itu, maka berkat Tuhan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan hati kita sendiri dan orang lain.

Milikilah sikap yang tidak serakah dengan memanfaatkan setiap kesempatan dan berkat yang diberikan pada kita, agar hidup kita pun diberkati dengan berkat-berkat yang ada dan kita tidak dipermalukan, serta tidak mengecewakan atau membuat jengkel orang-orang disekitar kita yang hendak memberkati kita.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s