Jangan Genggam Erat-Erat!


Sebuah perusahaan menerima seorang karyawan dan diberikannya berbagai fasilitas kepada karyawan tersebut, tetapi dengan syarat karyawan tersebut harus terikat kontrak selama dua tahun dengan perusahaannya. Jika karyawan merasa tidak cocok dan hendak meninggalkan perusahaan tersebut, maka karyawan tersebut harus membayar sebanyak enam puluh juta rupiah (Rp 60.000.000,-). Suka atau tidak suka, karyawan tersebut harus bertahan dalam perusahaan tersebut minimal selama dua tahun.

Cerita lain diambil dari kisah seekor monyet yang mengambil kacang disebuah toples. Dengan tangan yang menggenggam banyak kacang, monyet tersebut hendak mengeluarkan tangannya dari toples tetapi tidak bisa. Monyet tersebut tidak mengerti bahwa dia harus melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya baru dia bisa mengeluarkan tangannya dari dalam toples tersebut dan memilih untuk tetap menggenggam erat kacang tersebut.

Dan satu kisah lagi datang dari seorang ayah yang tidak ingin anaknya menikah diluar restunya, padahal belum tentu anaknya memiliki keinginan untuk menikah tanpa restunya. Tetapi karena sangat ketakutannya, sang ayah menyembunyikan semua surat-surat yang menjadi hak anaknya, seperti akte kelahiran, kartu keluarga, dan bahkan akte kematian istrinya pun dia sembunyikan. Semua hal yang ada didalam rumah itu dibuatnya harus melalui ijinnya dan sepengetahuannya agar jangan sampai anak-anaknya melakukan hal lain yang diluar ijinnya. Akibatnya semua anggota yang ada didalam rumah itu menjadi sakit hati dan sangat kecewa atas tindakan ayahnya itu.

Mungkin ada kisah yang berbeda tetapi serupa dengan ketiga kisah tersebut diatas yang pernah kita alami. Kadangkala tanpa atau dengan kita sadari, mungkin kita sudah ‘menggenggam’ erat seseorang atau sesuatu dan bersikeras tidak mau melepaskannya dengan alasan kita ‘sayang’, padahal sebenarnya hal itu terjadi karena ego kita atau yang pasti itu karena kita serakah.

Dalam suatu perusahaan memang tidak baik jika karyawan keluar masuk sehingga dibuat peraturan dengan cara mengikat karyawan dengan system kontrak. Didalam keluarga, orang tua memang berkewajiban untuk menjagai anak-anaknya dan mendidik dengan cara memberikan batasan-batasan agar anak-anaknya tidak sampai melakukan sesuatu yang tidak baik dan mengecewakan orang tuanya. Atau dalam hal lainnya, kita mungkin merasa kita mempunyai hak untuk ‘menggenggam’ apa yang menjadi milik kita. Sayang sekali, seringkali peraturan dibuat atau hak asasi terhadap kepemilikan ditegakkan tanpa mengerti bahwa semua yang ada didunia ini dan yang kita miliki itu perlu ‘perawatan’.

Pernahkah kita berpikir “mengapa karyawan semuanya pindah ke perusahaan lain? Apakah mereka mendapatkan gaji yang lebih tinggi? Atau fasilitas yang lebih baik? Atau mungkin atasannya lebih bijaksana? Dimanakah letak kekurangan yang ada didalam perusahaan saya?”.

Didalam keluarga, pernahkah kita berpikir “apa yang menjadi salah saya? Menurut saya, niat saya memang baik, tetapi apakah niat saya itu ternyata bukan yang terbaik menurut saya dan menyakiti anggota keluarga saya?”.

Dalam cerita lainnya juga, apakah pernah kita berpikir “saya memang harus melepaskan hak-hak (kesenangan) saya dan saya akan lebih memikirkan serta memperhatikan apa yang sedang diderita oleh orang lain?”.

Sikap ‘menggenggam’ itu terjadi karena kita tidak pernah memikirkan kesejahteraan atau perasaan orang lain. Kita menjadi sangat egois karena ‘kebetulan’ kita sedang memiliki kuasa untuk ‘menggenggam’ sesuatu atau hidup seseorang.

Cobalah kita menggenggam pasir dalam telapak tangan kita, beberapa butir pasir akan keluar melalui celah-celah jari kita, dan semakin keras kita menggenggamnya, maka lambat laun pasir itu pun akan habis. Demikian pula dalam hidup kita, semakin kita menggenggam erat seseorang agar selalu mengikuti mau kita atau agar kita tidak kehilangan seseorang, maka cepat atau lambat, kita akan semakin kehilangan.

Tuhan mempunyai rencana atas semua ciptaanNYA. DIA selalu punya tujuan yang indah ketika DIA menciptakan segala sesuatunya. Bahkan anak-anak yang mempunyai orang tua, dilahirkanNYA untuk menggenapi rencanaNYA, bukan rencana orang tuanya di bumi. Seorang karyawan, belum tentu selamanya dia akan menjadi karyawan, karena kita tidak pernah tahu apakah Tuhan akan mengangkatnya lebih dari seorang karyawan.

Let it go! Lepaskanlah genggamanmu terhadap semua orang yang kau kasihi atau yang kau ‘butuhkan’ mungkin didalam perusahaanmu! Berilah mereka semangat dan pengertian yang benar untuk berjalan didalam rencana Tuhan dalam hidup mereka. Pacu mereka untuk terus maju dan jangan pernah menahan-nahan mereka untuk kepentingan egomu sendiri. Karena ketika engkau melepaskan mereka-mereka untuk menemukan dan mengembangkan potensinya, maka engkau tidak akan pernah kehilangan, karena mereka akan mengingat engkau dan sangat mengasihi engkau yang telah memberikan dukungan yang baik untuk hidup mereka sampai mereka mengalami kesuksesan.

Ketika saya menuliskan artikel ini, saya menuliskannya dengan mengeluarkan air mata, karena saya mengerti bagaimana rasanya ketika seseorang melepaskan genggamannya dan membangkitkan semangat saya untuk maju, sehingga saya mengalami sukacita dan kemenangan walau pun saya harus mengalami masa-masa yang sulit, karena pada akhirnya saya memberkati semua orang dengan kesaksian saya. Tetapi saya juga merasakan bagaimana rasanya ketika seseorang mengenggam erat hidup saya, tidak membiarkan saya maju dan mengalami ‘kebebasan’, sehingga hati saya sangat terluka.

Saya salut kepada orang tua yang ‘merelakan’ anak-anaknya sekolah diluar negeri untuk menuntut ilmu atau menikah dengan orang-orang yang ‘tidak sesuai’ dengan harapan mereka, tetapi dengan dukungan dan doa yang naik kepada Tuhan, realitanya anak-anak mereka bisa hidup bahagia atau sekali pun bermasalah, akhirnya juga mengalami sesuatu yang baik. Tetapi sebaliknya saya juga melihat, masih ada begitu banyak orang juga mengalami tekanan karena mereka ‘digenggam’ kuat-kuat oleh perusahaan tempat mereka bekerja atau oleh orang tuanya.

Sadarilah bahwa dunia ini perlu terobosan, dunia ini perlu jembatan, dunia tidak akan pernah mengalami kasih Kristus dan mencicipi kebenaranNYA jika manusia terus menerus bersikap egois dan menggenggam erat orang-orang yang ingin Tuhan pakai untuk kemuliaanNYA. Biarkan mereka semua mengalami proses. Doakan mereka jika engkau takut melepaskan genggamanmu atas hidup mereka karena engkau mungkin terlalu mengasihi mereka. Pada saatNYA nanti, mereka akan bersaksi bahwa Tuhan menyertai mereka, bukan menyaksikan bahwa mereka sakit hati karena engkau sudah menahan-nahan mereka.

Tidak mudah melepaskan sesuatu yang berharga dan memiliki arti penting bagi kita (dan ego kita yang berkaitan dengan harga diri kita), tetapi sekali lagi saya tuliskan lepaskanlah! Karena Tuhan itu melihat hati kita dan DIA tidak akan membiarkan kebaikan hati kita. Lebih baik DIA, Tuhan Sang Pencipta yang telah memberikan dan yang mempertahankan apa yang menjadi hak kita daripada kita yang mempertahankannya sendiri.

Tuhan memberkati.

Iklan

One thought on “Jangan Genggam Erat-Erat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s