Doakanlah Pemimpinmu!


Beberapa waktu lalu ketika saya membuat sebuah artikel yang berjudul “Dengarkanlah Jeritan Hati Mereka!” dan memuatnya di weblog saya, seseorang memberikan komentarnya untuk membuat sebuah artikel dengan tema apa yang sebaiknya dilakukan sebagai anggota terhadap pemimpinnya?

Tidak dapat dipungkiri jika kita mempunyai atasan yang tidak cukup ‘layak’ untuk dihormati, sikapnya semena-mena, dan selalu mengecewakan, maka kita akan berusaha untuk lebih baik menghindarinya. Masing-masing orang tentunya dapat menghindari dengan berbagai cara misalnya resign jika kita bekerja disuatu perusahaan dan mencari pekerjaan yang sekiranya menurut kita lebih baik, atau berpindah gereja, atau berpindah jam kebaktian misalnya, atau juga ada yang menggunakan cara bertahan tetapi tidak banyak bicara dan tidak terlibat apa pun juga, datang hanya untuk ber-fellowship (misalnya jika dalam komunitas gereja) sebagai anggota dan tidak melakukan komunikasi dengan pemimpinnya.

Jika sebagai anggota sudah memutuskan untuk bertahan dalam suatu tempat walau pun pemimpinnya tidak membuatnya ‘nyaman’ untuk diajak bicara dan tidak membuatnya ‘nyaman’ untuk didengarkan, maka sebenarnya hal itu cukup menyulitkan diri sendiri dan tentunya sebagai pemimpinnya. Tetapi kembali lagi kepada diri kita sendiri yang menjalaninya, bisakah kita bertahan pada kondisi yang tidak nyaman tersebut dan hanya bisa berharap bahwa keadaan akan membaik?

Diperlukan pertimbangan yang baik tanpa melibatkan emosi (jika bisa) untuk menentukan apakah kita akan meninggalkan pemimpin kita dan berpindah ke kelompok yang lain atau perusahaan yang lain atau bahkan gereja yang lain, ataukah kita akan bertahan didalamnya?

Jika kita anggota didalam keluarga, maka mau tidak mau, kita harus tetap berada dan mengakui keluarga kita. Sebagai anak, mungkin kita bisa merasa “lega” jika kita akhirnya menikah dan keluar dari rumah, walau pun didalam kehidupan pernikahan nanti kita tidak akan luput dari masalah juga. Tetapi yang pasti jika kita berada didalam suatu keluarga yang mana orang tua atau suami istri sudah tidak lagi membuat kita nyaman dan selalu membuat jengkel, maka kita hanya bisa bersabar dan berdoa setiap saat agar Tuhan memberi kita kekuatan dan memberikan kasihNYA untuk mengubahkan hati mereka. Karena keluarga adalah pemberian Tuhan yang kebahagiaannya harus kita jaga, usahakan, dan kita harus memiliki tanggung jawab didalamnya.

Tetapi jika kita berada didalam suatu perusahaan atau gereja, ketika kita memutuskan untuk keluar, maka yang masalah mungkin akan selesai karena kita sudah jauh dari orang yang menjengkelkan. Masalahnya, disetiap tempat, kemungkinan hadirnya orang-orang yang menjengkelkan dan tidak sesuai dengan kita itu pasti ada. Lalu apakah kita akan berpindah tempat lagi?

Pilihan lainnya, kita tetap bertahan. Bertahan bukan suatu keputusan yang terbaik, apalagi jika kita menyimpan sakit hati, maka cepat atau lambat kita akan menjadi sakit fisik sebagai wujud yang tampak nyata. Sisi positifnya kita bisa belajar penundukan diri pada seorang pemimpin walau pun dia sangat menjengkelkan. Karena sebenarnya, pemimpin memiliki otoritas dari Tuhan, dan sebagai anggota kita berkewajiban untuk tunduk kepadanya. Tentu penundukan diri itu sangat tidak mudah, apalagi jika seorang pemimpin memberikan perintah yang salah, maka sebagai anggota akan sangat sulit untuk melakukan apa yang bertentangan dengan hati.

Kita semua tahu bahwa kalau seorang pemimpin yang sudah tidak ada lagi dihati para anggotanya, maka kata sepakat itu akan sulit didapat. Jadi baik pemimpin kita adalah seorang yang baik atau pun tidak baik, berdoalah bagi pemimpin kita dimana pun tempatnya (perusahaan, gereja, sekolah, kelas, atau kelompok apa pun). Tidak ada kuasa lain yang dapat mengalahkan doa.

Berdoa pun sebenarnya sangat sulit apalagi jika mendoakan seseorang yang tidak dihati kita. Kita hanya bisa mempercayai bahwa Tuhan melihat niat hati. Cobalah untuk mengatakan kepada Tuhan sakit hati kita kepada pemimpin dan biarlah Roh Kudus yang memimpin kita untuk mendoakannya. Karena DIA Maha Tahu dan Mengerti semua yang kita alami. Ketika kita hendak jujur dihadapanNYA, maka DIA pun akan melegakan hati kita.

Dalam keseharian kita, tetap lakukan yang terbaik dengan hati yang tulus, yang menjadi bagian kita. Jika sudah waktunya nanti, kita akan melihat bahwa Tuhan yang akan berurusan sendiri dengan pemimpin kita.

Sampai detik ini saya menuliskan artikel, saya sendiri masih mempunyai ganjalan didalam hati mengenai pemimpin. Tetapi melalui setiap tulisan, saya sendiri berusaha untuk membawa setiap sakit hati saya terhadap pemimpin kepada Tuhan. Saya percaya, DIA melihat setiap kesusahan dan ketulusan hati saya.

Karena dimana pun kita berada, selalu akan menjadi anggota atau pun pemimpin. Oleh karena itu, kita harus bisa saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain, dan tidak bertindak semena-mena, agar kita dapat memperoleh kata sepakat. Ingatlah bahwa ketika Tuhan melihat kesepakatan itu terjadi, hatiNYA sangat disenangkan.

Hidup ini terlalu rumit, bahkan terlalu rumit untuk hati dan pikiran kita yang sangat terbatas, alangkah baiknya kita membawa setiap kerumitan kepada Sang Pencipta agar DIA yang membuatnya menjadi sederhana.

Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s