Mother


Semua orang mengenal Ibu Kartini sebagai sosok pejuang yang berani membela hak-hak wanita agar wanita yang dulunya berada di posisi yang sangat lemah, tak berdaya, dan bodoh, akhirnya bisa menjadi seorang wanita yang berpendidikan dan memiliki posisi yang ‘sama’ dengan pria dalam arti wanita akhirnya sampai saat ini bisa mempunyai kedudukan dan posisi yang tak kalah pentingnya di masyarakat, bahkan mungkin melebihi dari kemampuan seorang pria.

Ada begitu banyak artikel yang pernah saya terima melalui email dan blackberry messenger mengenai sosok seorang mama yang menyampaikan pesan agar kita tidak pernah melupakan mama. Mama yang benar-benar mempunyai hati untuk mengabdikan hidupnya untuk keluarganya atau yang walau pun masih bekerja tetapi masih benar-benar perhatian dan bertanggung jawab pada keluarganya pada akhirnya memiliki peran penting dalam kehidupan suami dan anak-anaknya dan akan mendapatkan kasih dari suami dan anak-anaknya walau pun itu tidak terucapkan.

Tidak semua mama telah berperan penting dalam kehidupan anak-anaknya, karena ada juga mama yang setelah melahirkan anak-anaknya kemudian perawatannya dipercayakan kepada orang tua mama atau biasa anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan oma, atau ada juga yang dipercayakan kepada suster yang telah digajinya, atau ada juga justru papa yang menjaganya dan mama pergi bekerja.

11 Januari 2009 mami saya meninggal dunia setelah perjuangannya melawan breast cancer dan rupanya Tuhan punya rencanaNYA sendiri atas mami saya. Selama hidup dari saya masih kecil sampai dia di vonis breast cancer, mami saya masih terus berusaha untuk melakukan berbagai hal yang terbaik bagi saya dan saya benar-benar dapat merasakan dukungan melalui kata-kata dan dalam doa-doanya untuk saya.

Namun selama hidupnya juga, sering saya tidak mendengarkan dan hanya berkomentar singkat ketika mami saya bercerita tentang sesuatu hal karena cerita itu sudah diulang bahkan mungkin sampai yang kelima kalinya oleh mami saya. Sering saya merasa terlalu lelah dan akhirnya kesal dihati karena harus melaksanakan perintah dan aturannya di rumah setiap hari. Sering saya merasa marah karena harus mendengarkan omelannya yang sangat lama dan panjang serta terus menerus diulang ketika mami sedang marah, baik kepada saya, atau kakak saya, atau kepada orang lain, sedangkan saya anak paling kecil, satu-satunya orang yang mau tidak mau harus mendengarkannya karena saya yang tinggal dekat serumah dengan mami saya semasa hidupnya. Bahkan ketika mami saya sedang dalam keadaan tidak sadar di Rumah Sakit pun saya sempat satu kali merasa kesal karena permintaannya yang meminta bantuan saya untuk membolak balikkan badannya, sedangkan tubuh saya sendiri sudah terlalu capek.

Mami saya bukan orang yang sempurna, tetapi apa pun yang diusahakan untuk saya benar-benar sangat sempurna bagi saya karena saya melihat mami melakukannya dengan segenap hatinya untuk saya. Jika saya mengingat kembali ketika saya marah dan bersikap tidak sopan terhadap mami saya, mami saya tetap dengan sabar membawa saya didalam doanya, mami mendoakan saya untuk hal-hal yang baik, bukan yang kemudian mengutuki saya.

Ketika saya tidak memperhatikannya dan lebih senang berkumpul dengan teman-teman saya sampai larut malam, mami saya tidak menaruh dendam pada saya, dia hanya berkata bahwa dia ingin ditemani saya tetapi dengan nada yang sabar. Dulu, pertama kali saya bisa menyampul buku saya sendiri, bahkan sampai saya dewasa pun jika mami saya melihat saya membungkus hadiah, walau pun masih tidak sebagus dan serapi buatannya, dia selalu berkata “bagus hanya sedikit kurang rapi di bagian ini” sambil tersenyum. Dan masih banyak lagi ceritanya, sangat panjang jika saya harus menceritakan semua kejadian baik dan buruk yang saya lalui bersama mami selama hidupnya.

Poin penting yang ingin saya sampaikan adalah kita tidak akan pernah bisa membayar dan membalas kebaikan hati orang-orang yang sangat mengasihi kita, dan yang bahkan rela memperjuangkan segala sesuatunya untuk kita karena kasih. Tetapi kita bisa memperlakukan mereka dengan sebaik mungkin agar suatu hari kelak kita tidak pernah menyesali perbuatan kita.

Semua orang yang kita cintai dan yang memiliki cinta untuk kita, dia sangat mampu menyakiti hati kita juga, bahkan bisa sampai membuat hati kita sangat terluka dan pahit. Tetapi apakah kita akan menyakitinya kembali atau kita akan tetap bersabar dengannya? Semua kembali pada pilihan kita.

Bersyukur karena saya diberikan kesempatan setiap hari menikmati waktu-waktu saya dengan mami sejak saya masih kecil dalam suka duka dan mempunyai kekuatan yang dari Tuhan untuk ‘melayani’ dan bersabar saat mami saya sakit dan ketika saya harus memiliki waktu extra untuk menjaganya, bahkan mengorbankan waktu saya untuk tidur enak. Mungkin hal yang saya lakukan masih penuh dengan kekurangan.

Tetapi bagaimana dengan kalian semua para pembaca? Apa yang ada didalam hati kalian sewaktu mama minta tolong diantar ke suatu tempat karena dia tidak bisa menyetir dan jalan sendiri misalnya? Apa yang ada didalam hati kalian sewaktu mama menceritakan hal yang sama berulang kali? Apa yang ada didalam hati kalian sewaktu mama menegur ketika kalian melakukan sesuatu yang dianggapnya salah? Apakah kalian marah? Apakah kalian kesal? Apakah kalian bosan? Apakah kalian menghindar? Atau apakah bahkan kalian tega membentak mama?

Mungkin diantara para pembaca sudah tidak lagi mempunyai orang tua, tetapi sudah menjadi orang tua, atau menjadi suami atau menjadi istri, atau mungkin masih belum sah menjadi pasangan suami istri, tetapi kalian saling cinta, apakah kalian sudah memperlakukan dengan baik pasangan kalian walau pun pasangan kalian mungkin sangat suka bicara, atau mungkin bicaranya tidak nyambung, atau mungkin dia terlihat bodoh dan mempermalukan kalian?

Seseorang yang sebenarnya kita cintai dan yang sangat mencintai kita, bisa menjadi sangat menjengkelkan buat kita, tetapi bagaimana cara kita untuk mencintainya yang akan membuatnya berubah walau pun sangat perlahan, tetapi cinta itulah yang bisa membawa perubahan demi perubahan, sehingga suatu hari kelak, kita tidak akan menyesali perlakuan kita padanya.

Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi kita walau pun kita penuh dengan dosa dan kesalahan, bisa menjadi panutan yang sempurna untuk kita semua. Mintalah kasih Bapa selalu memenuhi hati kita setiap hari, agar kita bisa mengasihi orang lain dengan setulus hati.

Tuhan memberkati.

**Inspired by Anita Kusen, my lovely mother

One thought on “Mother

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s