Bukan Salah Komunikasi; Melainkan Salah Alat Komunikasi


Suatu hari kakak saya menegur saya “mencari presiden rasanya lebih mudah daripada mencari kamu”. Kalimat tersebut sebenarnya berupa sindiran yang mengatakan bahwa mencari saya itu sangat sulit dan menyebalkan. Karena seringkali saya tidak membalas SMS dan tidak mengangkat telpon di handphone.

Saya menjawab “maaf, karena saya tidak ada pulsa untuk membalas SMS dan tidak dengar waktu ditelpon karena lupa menyalakan ring tones nya sewaktu selesai meeting tadi”. Memang benar, waktu itu saya menggunakan nomor prabayar dan pada waktu di telpon, posisi handphone masih silent sehingga tidak dengar ada telpon masuk.

Sebagai solusi, saya disarankan mengganti nomor pasca bayar dan (memang sedikit dipaksa) untuk menggunakan blackberry yang bisa chatting sepuasnya sehingga tidak ada alasan lagi untuk penghematan misalnya.

Akhirnya, setelah saya melakukan semua sarannya, setiap kali ada message yang masuk, saya berusaha untuk membalas. Tetapi untuk masalah telp, saya hanya bisa berusaha untuk mengaktifkan vibrate dan menggunakan ring tones yang cukup bisa membuat saya dengar ketika ada orang yang menelpon. Tentu saja selama ini saya bukannya sengaja tidak membalas SMS atau tidak mengangkat telpon seseorang, tetapi karena memang ada kendala yang lain.

Cerita lain lagi terjadi ketika seorang teman tidak bisa dihubungi karena telponnya off, tidak dinyalakan, sehingga tidak dapat dihubungi sama sekali. Atau ada lagi yang masih bisa ditelpon dan bisa di SMS tetapi telponnya sering tidak dibawa, diletakkan di kamar atau di mobil dan tidak pernah di cek apakah ada telpon atau SMS yang masuk. Dan yang lebih menjengkelkan lagi ketika seseorang itu tidak melakukan suatu kesibukan yang berarti, handphone ada di saku baju atau celana, tetapi telpon dan SMS yang masuk diabaikan.

Saya adalah seorang yang tidak akan menelpon atau SMS jika tidak ada sesuatu yang penting. Kalau pun saya SMS seorang teman hanya untuk menanyakan kabar, maka saya tidak akan mengharapkan balasan secepatnya. Dan saya rasa, kebanyakan orang pun sama seperti saya, jika tidak ada sesuatu yang perlu ditanyakan atau dibicarakan maka mereka tidak akan berusaha untuk menghubungi seseorang yang lain.

Kalau pun seandainya ada orang-orang yang sengaja menghubungi karena ingin berbuat kejahatan misalnya meneror dan hanya untuk menipu kita, maka wajar jika kita menghentikan dengan cara mematikan telepon untuk sementara waktu atau mengabaikan setiap telpon dan SMS yang masuk.

Setiap kita tentunya mengerti tujuan dibuatnya alat tele-komunikasi seperti handphone, yaitu untuk mempermudah komunikasi, tetapi ketika alat itu justru mendatangkan pertengkaran hanya karena kita mengabaikan telpon dan SMS penting yang masuk, misalnya saja dari keluarga atau sahabat kita, apalagi untuk ‘selingkuh’ misalnya, maka alat komunikasi itu tentunya sudah tidak pada fungsinya lagi.

Ide tulisan ini datang sama sekali bukan untuk menghakimi atau mempermasalahkan orang-orang yang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam hal berkomunikasi dan menggunakan semua alat komunikasi yang mereka miliki, melainkan ingin menjelaskan bahwa segala hal yang diciptakan untuk sesuatu yang baik, bisa menjadi buruk karena sikap kita sendiri.

Bisa dibayangkan, seorang saudara bertengkar hebat akibat yang seorang tidak mengangkat telponnya karena merasa tidak penting (toh akan bertemu juga), padahal seorang yang lainnya lagi hendak mengatakan tentang perubahan rencana karena ada suatu kendala. Akibatnya mereka tidak jadi bertemu sesuai yang direncanakan, bukan masalah miscommunication tetapi masalahnya tidak mau atau malas mengangkat handphone.

Atau bisa dibayangkan ketika seseorang hendak menginformasikan suatu berita gembira, tetapi karena kita tidak pernah peduli pada handphone akhirnya tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang menghubungi kita dan akhirnya seseorang itu yang tadinya menghubungi kita dengan gembira lalu berubah menjadi marah.

Hal sederhana yang kelihatannya tidak penting, tetapi bisa berakibat pertengkaran. Kita boleh mempunyai cara yang menurut kita pas dan nyaman untuk kita didalam menggunakan semua fasilitas yang kita miliki, kita boleh mempunyai kebiasaan atau sifat cuek misalnya, tidak peduli orang mencari kita atau membutuhkan kita, tetapi ketika kita memutuskan untuk membeli atau mempunyai suatu fasilitas dan ketika kita sadar bahwa kita hidup tidak seorang diri, maka kita seharusnya bisa menyesuaikan diri agar orang tidak jadi kesal dan marah terhadap kita.

Dalam hal ini, jika kita membalas SMS atau menerima telpon sama sebenarnya tidak ada hubungannya dengan menjadi berkat bagi orang lain atau tidak, tetapi kita bisa belajar untuk lebih menghargai orang lain. Bayangkan jika kita pribadi sedang perlu dengan seseorang, tetapi seseorang itu tidak mengangkat telpon kita atau tidak membalas SMS kita hanya karena dia sedang main game, sehingga dia tidak memperhatikan handphone nya, atau karena dia serius menonton film di ruang keluarga tetapi handphone nya didalam kamar, bagaimana perasaan kita?

Maka dari itu, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tuhan memberkati

Iklan

2 thoughts on “Bukan Salah Komunikasi; Melainkan Salah Alat Komunikasi

  1. Comunication is happen between two people or more…two people or more who comunicate each other..and have the necesary to comunicate…than the comunication happen.. 😀

  2. Comunication is happen between two people or more…two people or more who comunicate each other..and have the necesary to comunicate…then the comunication happen.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s