Menjadi Pahlawan Di ‘Rumah Lain’


Seorang pria bernama pak Sutris, sudah memiliki dua orang anak pria dan wanita, sudah menikah dua puluh tahun dengan istrinya yang menurutnya cukup suka bicara, tetapi sangat baik hati.

Kedua anak pak Sutris sudah dewasa dan semuanya sudah bekerja. Walau pun belum menikah tetapi anak-anaknya itu jarang ada dirumah karena sibuk bekerja. Sedangkan bu Sutris bekerja sebagai ibu rumah tangga, sehingga hampir setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu, bu Sutris hanya seorang diri dirumahnya itu, hampir-hampir tidak ada yang mengajaknya bicara, sehingga ketika pak Sutris pulang bekerja di sore hari, bu Sutris biasa mengajaknya bicara dan menceritakan tentang banyak hal.

Mereka adalah keluarga yang dapat dikatakan hampir tidak pernah mendapat masalah yang rumit. Kehidupan pernikahan pak Sutris selama dua puluh tahun itu dapat dikatakan baik-baik saja. Setiap hari sepulang kantor pak Sutris hanya mendengarkan semua cerita bu Sutris tentang keadaan rumah atau berita yang dilihatnya di televisi dan kadangkala mengulang cerita yang kemarin sudah diceritakan. Seandainya ada masalah dirumah bu Sutris akan segera menyelesaikannya karena sudah terbiasa, walau pun kadangkala bu Sutris harus meminta bantuan suaminya untuk masalah yang tidak dapat diselesaikannya sendiri.

Ternyata, sebagai seorang pria, pak Sutris merasa ada yang kurang dengan dirinya dan perasaan ini baru disadarinya ketika suatu hari tanpa sengaja dia lewat didepan rumah sekretarisnya dan dia melihat sekretarisnya itu sedang berdiri kebingungan seorang diri didepan rumahnya karena lampunya putus. Akhirnya pak Sutris menawarkan bantuan untuk menolongnya dan tampak begitu gembiranya, sekretarisnya ini sampai terus menerus mengucapkan terima kasih sehingga diam-diam ada rasa bangga didalam hati pak Sutris. Sejak itulah pak Sutris semakin dekat dengan sekretarisnya itu.

Walau pun ketika bersama keluarganya pak Sutris tidak mengalami masalah berat yang tampak nyata, tetapi perasaan berharga dan berarti sebagai seorang pria didapatinya ketika pak Sutris ada dengan sekretarisnya ini. Seolah-olah pak Sutris menjadi pahlawan bagi sekretarisnya itu yang memang ada banyak hal yang tidak terbiasa dikerjakannya sendiri oleh si sekretaris. Akibatnya, bu Sutris yang mengetahui hal ini akhirnya merasa kecewa dengan pak Sutris, hanya karena pak Sutris merasa seolah-olah tidak dibutuhkan dirumahnya sendiri, sehingga pak Sutris dekat dengan orang lain yang dirasanya lebih bisa membuat hidupnya berarti. Padahal sebenarnya, menurut bu Sutris ada banyak hal yang bisa dilakukan didalam rumah tangga pak Sutris sendiri, misalnya mengkomunikasikan apa yang dirasakan kurang selama ini atau mereka bisa merencanakan acara berlibur bersama jika merasa jenuh, sehingga masing-masing pribadi dapat mengkoreksi diri terus menerus dan belajar menjadi lebih baik.

Seringkali kita semua, baik sebagai seorang pria, mau pun seorang wanita, sebagai anak mau pun orang tua, sebagai mertua atau menantu, merasa dirinya hanya bisa menjadi pahlawan ketika ada ditempat lain bersama orang lain. Bangga jika bisa memiliki peran penting walau pun berada ditempat yang ‘salah’.

Memang benar bahwa kebutuhan untuk dihargai dan dihormati itu selalu ada didalam hati kita secara alami. Memang benar bahwa pertolongan yang kita berikan untuk keluarga atau orang terdekat, seringkali tidak mendapatkan balasan yang cukup melegakan, seolah-olah bantuan kita biasa-biasa saja. Dan memang benar kita hidup harus saling menolong. Tetapi bukan berarti kita harus memberikan pertolongan untuk orang lain yang hanya bisa merespon dengan cara yang kita sukai saja, sedangkan suami atau istri sendiri, mertua atau anak sendiri sedang membutuhkan pertolongan, kita berkeberatan untuk menolong karena respon mereka kurang berkenan di hati kita.

Sebenarnya, ketika kita mengetahui prioritas bahwa keluarga itu penting dan kita memiliki rasa tanggung jawab dengan hati yang murni, maka kita pasti bisa memberikan pertolongan tanpa pamrih. Selain itu, jika selama ini kita sendiri bisa memberikan respon yang baik untuk setiap pertolongan yang kita terima walau pun hanya sekedar mengucapkan kata terima kasih, maka kita pun pasti akan menuai respon yang baik juga.

Menjadi pahlawan dimana pun kita berada itu sangat baik, karena memang kita hidup tak pernah lepas dari hubungan saling menolong, tetapi jika kita dengan sengaja mengabaikan keluarga atau orang terdekat yang jelas-jelas membutuhkan pertolongan kita demi mendapatkan gelar pahlawan ditempat lain, maka pertolongan kita kepada orang lain itu pun bernilai nol dimata Tuhan.

Jadilah pahlawan ditempat yang ‘benar’. Miliki prioritas bukannya pilih-pilih siapa-siapa yang patut ditolong atau tidak. Hargai dan hormati orang lain terlebih dahulu, maka kita pasti juga akan dihargai dan dihormati orang lain.

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya padahal engkau mampu melakukannya” Amsal 3:27

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s