Berani Mengajar Tanpa Takut Tertinggal


Berawal dari posisi yang dari bawah, dengan tekadnya mau berjuang dan belajar, akhirnya dia menjadi seorang kapten kapal. Kapten kapal ini dipercaya untuk menjalankan kapal, mulai dari kapal yang kecil, hingga kapal yang sangat besar, dari wilayah dalam negeri sampai keluar negeri. Walau pun posisinya itu didapat dari kerja kerasnya sendiri, bertanya sana sini untuk mendapatkan ilmu, tetapi dia tidak pernah ‘pelit’ ilmu kepada semua anak buahnya.

Sampai beberapa anak buah sang kapten kapal ini pun akhirnya menjadi kapten kapal ditempat lain dan jauh lebih berhasil, bahkan sudah melupakan sang kapten kapal itu, tetapi sang kapten kapal itu tidak pernah merasa sakit hati. Bahkan dia masih suka menawarkan kepada semua anak buahnya untuk belajar dengannya dan dengan sepenuh hati, dia memberikan dukungan agar anak buahnya terus maju dan meningkat.

Ada lagi seseorang yang awalnya bukan pekerja yang sukses dan mungkin tidak punya pengalaman bekerja yang cukup banyak. Tetapi dia mau belajar dan berusaha, sehingga dia menjadi seorang yang sukses, kita sebut dia seorang pengusaha.

Suatu hari pengusaha ini didatangi oleh seorang anak laki-laki yang ingin belajar dengannya perihal dunia kerja. Tanpa ragu pengusaha memberikan semua ilmu dan pengalamannya kepada anak laki ini. Beberapa waktu kemudian, anak laki ini menelpon pengusaha itu lalu mereka membuat waktu untuk bertemu.

Dilihat oleh pengusaha itu, anak laki itu mulai menemukan karirnya dan sepertinya akan menjadi seorang yang sukses. Tetapi pengusaha itu tetap tidak berpikir untuk menjadi “pelit” didalam memberikan semua pengetahuan dan pengalaman yang pernah didapatnya. Mungkin saja pengusaha tahu pasti bahwa kemungkinan besar anak laki ini akan menjadi seorang yang sukses (bahkan lebih darinya), tetapi dia tetap membagikan semua pengalaman dan pengetahuannya kepada anak itu dengan kasih.

Didalam perusahaan, anak laki-laki pada cerita tersebut diatas, sering melihat orang-orang disekelilingnya, hampir-hampir tidak pernah ada rekan kerja yang mau memberitahukan atau mengajarkan pekerjaan pada teman-temannya yang baru khususnya, kecuali jika teman-teman yang baru itu bertanya, baru dijawab seadanya.

Sehingga anak laki-laki ini memilih untuk membagikan semua hal yang dia ketahui jika ada rekan-rekan kerja yang bertanya padanya. Tentu saja bukan berarti anak laki itu berusaha untuk menjadi “sok pahlawan” tetapi dia juga merasakan susahnya bekerja jika tak ada orang yang mau mengajarkannya. Banyak orang mengatakan dia bodoh karena mau repot-repot mengajarkan sesuatu hal kepada rekan kerjanya, tetapi dia tetap bersikap untuk tidak “pelit”.

Sikap wajar yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan orang adalah berusaha menyimpan semua cerita, pengalaman mau pun ilmu yang dimilikinya, tujuannya agar tidak tersaingi oleh orang lain. Tetapi kebanyakan orang itu berusaha mencari pengalaman dan pengetahuan dari orang lain lagi untuk menggandakan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, berharap dia menjadi satu-satunya orang yang pandai dan berpengalaman.

Apa yang terjadi?

Tidak semua orang yang menyimpan pengalaman dan pengetahuannya sendiri itu menjadi sukses, sebaliknya justru ada banyak orang yang akan menyaingi dia dan akhirnya dia akan menjadi “terbelakang” dan “tertinggal”.

Tetapi jika kita menyelidiki kisah seseorang yang mau membagikan pengalaman dan pengetahuannya kepada orang lain (dan berharap untuk sesuatu yang baik terjadi pada orang lain itu) seperti “bukti” pada cerita tersebut diatas misalnya, maka seseorang itu akan terus mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang baru (menjadi semakin berkembang). Tentunya, dirinya sendiri juga harus mau terus belajar dan mengembangkan diri, sehingga dapat menjadi semakin lebih baik.

Kita sebagai seorang pemercaya, tentunya percaya dan mengerti tentang hukum tabur tuai “berilah, maka kamu akan diberi”. Ketika kita bersikap tidak “pelit”, mau membagikan apa yang bisa kita bagikan, dan bersaksi tentang kebaikan yang sudah Tuhan berikan didalam hidup kita kepada orang lain, agar namaNYA dipermuliakan, maka Tuhan akan disenangkan dan DIA tidak akan tinggal diam dan melupakan kita.

Tidak percaya?

Mari kita sama-sama membuktikannya mulai saat ini untuk tidak takut membagikan ilmu dan pengalaman yang kita miliki pada orang lain, tetapi juga terus belajar.

Tuhan memberkati.

If you would thoroughly know anything, teach it to others, by Tryon Edwards

**Inspired by Demsi Malumbot, Sonny Therik, and Frankly Reynold Malumbot

Iklan

One thought on “Berani Mengajar Tanpa Takut Tertinggal

  1. Salute..to all people who taught me many things…
    to my Pastors at church, my family, my friends..to all who i dont even know his/her name who taught me the lesson of LIFE..thank you… God bless u all.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s