Dilarang Gengsi!


Sebuah cerita dari sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena si pria yang sedang mengutak atik sesuatu yang menjadi hobi barunya, sampai-sampai mengabaikan si wanita dan membuat si wanita marah, bahkan ketika ada sesuatu hal yang penting si pria masih saja bersikap acuh. Si pria mengerti akan kesalahannya itu, tetapi karena gengsi (sebagai seorang pria), akhirnya si pria memilih untuk diam.

Sampai beberapa jam kemudian, setelah si wanita benar-benar marah, barulah si pria mengucapkan kata “maaf”. Hanya dalam waktu beberapa detik, mereka pun langsung berbaikan. Andai saja si pria tidak menunda meminta maaf dan mengabaikan gengsinya, maka mungkin mereka tidak perlu waktu berjam-jam untuk bertengkar.

Cerita lain lagi dari seorang bapa yang bersikeras menolak permintaan anaknya untuk menikah hanya karena dari awal dia sudah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mengijinkan anaknya menikah, dengan alasan sang bapa terlalu mencintai anaknya itu dan tidak ingin kehilangan dia. Jadi jika kemudian sang bapa berkata “boleh” untuk anaknya menikah, maka hal itu hanya akan mempermalukan dirinya.

Waktu terus berjalan dan sang anak pun bertambah usia dan akhirnya sang anak memilih untuk kabur daripada tidak menikah atau menikah diusia yang sudah tua (terlambat). Sang bapa pun bukannya mendapat kasih dan kedekatan dari anaknya, tetapi justru kehilangan anaknya itu. Hanya karena gengsi, sang bapa rela mengorbankan anaknya sendiri dan mengecewakan hati anaknya.

Sama seperti kedua kisah tersebut diatas, dalam keseharian kita, tentunya dengan cerita atau kasus yang berbeda, seringkali kita juga mempertahankan gengsi. Tanpa atau dengan kita sadari, seringkali gengsi menghancurkan hubungan kita, gengsi membuat orang lain kecewa dengan kita, gengsi membuat kita kehilangan pekerjaan atau orang yang kita sayangi.

Gengsi itu sebenarnya ada baiknya juga, mungkin untuk mempertahankan harga diri, tetapi jika kita mempertahankan gengsi tidak tepat pada waktunya, maka gengsi justru akan berbalik menjadi sangat merugikan dan berdampak negatif bagi hidup kita.

Seperti kedua cerita tersebut diatas, misalnya pada cerita pertama, apa susahnya kita meminta maaf pada seseorang jika kita bersalah, apalagi jika kita menyadari bahwa kita memang bersalah? Dalam hubungan, ada tiga kata yang tidak boleh kita pertahankan hanya karena gengsi yaitu “terima kasih”, “saya mengasihi atau saya sayang kamu”, dan “maaf”. Tetapi jika kita mempertahankan gengsi, maka kita pasti akan sulit untuk mengucapkan tiga kata tersebut dan itu berarti kita akan mengalami kesulitan didalam menyelesaikan masalah serta mempertahankan hubungan.

Dalam cerita kedua, bisa dibayangkan, betapa egoisnya bapa itu. Hanya dengan dalih sayang pada anaknya, dia tidak mengijinkan anaknya menikah. Walau pun sang bapa menyadari bahwa keputusannya itu salah, tetapi hanya karena mempertahankan gengsi, dia tetap menolak permintaan anaknya untuk menikah. Padahal belum tentu orang-orang akan bersikap merendahkan dan menghinanya ketika dia mengubah keputusannya itu. Kenyataannya ketika sang bapa mempertahankan keputusannya itu, anaknya justru memutuskan untuk meninggalkannya.

Sampai saat ini, adakah sesuatu hal yang kita pertahankan hanya karena gengi? Perlu kita ketahui bahwa dengan gengsi, kita tidak akan pernah menyelesaikan masalah tetapi semakin memperkeruh masalah, dengan gengsi kita tidak akan mendapatkan kasih tetapi kebencian, dan dengan gengsi, harga diri kita tidak akan semakin meningkat tetapi akan semakin dianggap remeh oleh orang lain, yang mungkin sudah kita kecewakan hanya karena kita mempertahankan gengsi.

Harga diri dan kehormatan sudah diberikan Tuhan untuk semua manusia, tetapi bukan dengan gengsi manusia bisa mempertahankan harga diri dan kehormatan itu, melainkan dengan kerendahan hati dan melakukan kebenaran Firman Tuhan.

Selama kita masih mempertahankan gengsi, maka jangan pernah kita berharap untuk mencapai kesuksesan, mendapatkan kasih, dan kebahagiaan.

Tuhan memberkati.

One thought on “Dilarang Gengsi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s