Menghargai Kejujuran


Seringkali kejujuran itu menyakitkan, benar bukan? Coba kita bayangkan, misalnya pasangan kita berkata jujur bahwa tampang kita ini pas-pas, atau jika ada seorang anak yang berkata jujur bahwa dia baru saja mencuri uang, maka kita pasti akan merasa sakit hati. Tetapi itulah kejujuran, sebuah kebenaran yang kadangkala menyakitkan.

Seorang anak yang sudah memasuki dunia kerja, dan belum menikah sehingga dia masih tinggal di rumah orang tuanya. Suatu hari, anak ini menceritakan kondisi pekerjaannya pada kedua orang tuanya. Dia berhenti bekerja karena awalnya dia mendapatkan pekerjaan ditempat lain yang lebih baik, tetapi ternyata pekerjaan yang baru itu tidak memberikan janji sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, si anak pun akhirnya tidak mempunyai pekerjaan lagi saat ini.

Keadaan di rumah mereka sebenarnya tidak berlebih. Jadi dengan adanya si anak tidak mempunyai pekerjaan lagi, membuat orang tuanya kembali harus memenuhi kebutuhan hidup si anak. Setiap kali si anak minta uang untuk beli bensin misalnya, hati orang tuanya itu sebenarnya merasa jengkel, apalagi jika pada waktu itu mereka diperhadapkan dengan kondisi keuangan yang sedang tidak baik.

Tetapi sikap jujur si anak dan keberanian untuk meminta uang kepada orang tuanya, membuat orang tuanya selalu berpikir bahwa kalau tidak meminta kepada orang tuanya, lalu si anak itu harus meminta uang kepada siapa? Beruntunglah mereka jika anaknya tidak berbuat jahat untuk mendapatkan uang setiap harinya.

Sepertinya cerita tersebut sangat sepele, tetapi bisa kita bayangkan seandainya orang tua si anak tersebut menerima cerita si anak dengan penuh amarah dan menghukum si anak dengan tidak memberikan uang setiap kali anaknya meminta, apakah si anak bisa tetap hormat pada orang tuanya? Apakah si anak akan pulang kerumahnya? Apakah si anak bisa tabah menghadapi masalah pekerjaannya itu? Justru mungkin si anak akan dendam pada orang tuanya dan bisa berbuat nekad yang jahat untuk mendapatkan uang secara instan mengingat tuntutan akan kebutuhan hidup terus meningkat, sehingga dapat menimbulkan masalah baru.

Tetapi untunglah orang tua si anak itu dapat merespon kesusahan yang dihadapi oleh anaknya dengan baik walau pun hatinya jengkel. Dan beruntunglah jika si anak tidak memilih untuk mempertahankan harga dirinya dan mau bersikap jujur, mau menceritakan masalahnya pada orang tuanya walau pun hal itu tentu mempermalukan dirinya sendiri.

Kejujuran memang seringkali menyakitkan, dan pada waktu mendengar kejujuran itu, sepertinya lebih baik tidak mendengar hal yang jujur daripada mengalami sakit hati dan kesedihan. Tetapi tahukah kita bahwa kejujuran itu akan memberikan kenyamanan tersendiri didalam sebuah hubungan dan rasa aman didalam hati?

Seberapa sering kita memberikan respon yang tidak baik dan tidak adil terhadap sebuah kejujuran? Tidak sadarkah kita bahwa respon yang tidak baik dan tidak adil terhadap kejujuran itu hanya akan membuat kejujuran itu berbalik menjadi sebuah kebohongan yang mencelakakan? Lihatlah seberapa sering kita benar-benar bisa menemukan seorang yang jujur disekitar kita saat ini? Jangan-jangan kita sendiri ini bukan termasuk orang yang jujur. Hal ini terjadi karena seringnya orang tidak dapat menghargai sebuah kejujuran.

Bisa kita telusuri kembali setiap kejadian yang pernah kita alami yang berkaitan dengan kejujuran, mari kita berandai-andai seperti: seandainya saja kita mau jujur, mungkin orang itu akan marah tetapi hatiku akan merasa…dan suatu ketika orang itu pun mungkin akan bersikap…padaku atau sebaliknya, seandainya saja kita bisa merespon kejujurannya dengan baik…maka mungkin … (kita bisa meneruskan sendiri titik-titik pada kalimat tersebut).

Tuhan Yesus yang Maha Tahu itu saja masih menginginkan kita mempunyai sikap hati yang jujur dihadapanNYA dan DIA sangat menghargai setiap kejujuran serta memberkatinya. Lalu apakah kita mau memilih untuk dibohongi? Ataukah kita bisa menerima kejujuran yang menyakitkan? Jadi bersikaplah jujur dan berilah respon yang baik (hargai) terhadap kejujuran, walau pun mungkin itu akan menyakitkan.

Jangan terburu-buru marah atau kecewa didalam menghadapi sebuah kejujuran, tetapi belajarlah untuk bersikap bijaksana agar kejujuran itu dapat memberikan sukacita tersendiri didalam hati kita.

Tuhan memberkati.

Iklan

One thought on “Menghargai Kejujuran

  1. Saat kita melakukan kejujuran pikirkan efek baik yang akan kita terima dikemudian hari. Kejujuran mungkin akan melukai tapi akan memberikan kelegaan..banyak orang mencari kejujuran seberat apapun kejujuran itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s