Pertahankan Kesan Pertama Dalam Keseharian


Pada suatu hari, seorang ibu melihat anak gadisnya hendak bertemu dengan seorang pria untuk pertama kalinya. Ibu ini tersenyum bahagia melihat anak gadisnya itu dan berkata padanya “berpakaianlah yang menarik dan beriaslah sebaik mungkin karena ini merupakan pertemuan pertamamu dengan seorang pria (kencan pertama)”. “berilah kesan pertama yang luar biasa baik pada pria beruntung itu” lanjutnya.
Anak gadis itu pun tersenyum malu sambil berkata pada ibunya “ah ibu, tak perlulah saya berdandan sebaik mungkin hanya saat ini…bukankah setiap hari saya sudah cantik?”. Sang ibu mengangguk setuju sambil tersenyum.
Cerita tersebut adalah cerita sederhana yang seringkali kita dengar dari sekitar kita atau mungkin juga terjadi didalam keluarga kita sendiri, entah kita sebagai anak perempuan, atau pun sebagai seorang ibu yang memiliki anak gadis atau didalam keluarga yang memiliki anak perempuan.
Dalam keseharian, didalam dunia kerja, pada saat interview misalnya, kita seringkali berusaha untuk memberikan kesan pertama yang menarik agar orang lain yang melihat kita dapat mempunyai kesan yang baik. Kalau kita pernah mendengar sebuah iklan mengatakan “kesan pertama…begitu menggoda…selanjutnya terserah anda”, maka kita mengerti bahwa kesan pertama itu cukup memberikan pengaruh yang penting.
Tetapi sayangnya, seringkali kita lupa bahwa didalam keseharian kita seharusnya bisa mempertahankan kesan pertama itu. Akhirnya, seringkali orang menjadi kecewa terhadap satu dengan yang lain, akibat kesan pertama yang ‘menggoda’ itu. Sehingga berjalannya waktu, orang belajar untuk melihat hal-hal yang mungkin ditutup rapi dengan ‘dandanan’ luar.
Sebagai seorang kristiani, tanpa atau dengan kita sadari, seringkali kita hanya memberikan kesan yang baik pada hari Minggu didalam gereja. Dengan semangat kita datang ke gereja untuk memuji Tuhan, melompat-lompat, bernyanyi, berteriak, menari-nari, tersenyum ramah pada semua orang, dan berpenampilan sangat sopan, serta berkumpul bersama semua anggota keluarga seolah-olah semuanya baik-baik saja dan orang lain dapat melihat bahwa kita adalah seorang kristiani yang luar biasa baik.
Tetapi dalam keseharian, sayangnya kita lupa atau bahkan tidak mempertahankan sikap seperti pada saat didalam gereja. Kita lupa untuk tetap bersukacita didalam setiap doa dan pengharapan, karena kita hanya melihat masalah, masalah, dan masalah, kita hanya melihat orang-orang sekitar tampak menjengkelkan dan merepotkan aja.
Lalu, karena hidup penuh tekanan, akhirnya kita malas tersenyum pada suami, istri, atau anak-anak di rumah, pada anak buah di kantor, pada teman-teman. Kita lupa untuk tetap memuji dan menyembah Tuhan, karena terlalu sibuk dan lelah, sehingga saat teduh, saat-saat menjalin hubungan dengan Tuhan lebih baik ditiadakan saja.
Dalam banyak hal, kita sering lupa atau sengaja tidak melakukan apa yang baik untuk Tuhan, yang hanya kita lakukan beberapa jam saja didalam gereja di hari Minggu. Tak heran jika saat-saat ini banyak orang mengalami kepahitan terhadap orang Kristen dan didalam kesehariannya, orang-orang yang mengaku anak Tuhan ternyata hidupnya penuh dengan ketakutan, kekuatiran, dan perasaan tertekan yang sangat.
Ibadah yang hanya dilakukan pada saat kita berada didalam gereja, di hari Minggu, selama beberapa jam saja itu sebenarnya akan lebih berarti jika dalam keseharian kita melakukannya juga didalam keseharian kita. Suatu kebiasaan yang baik itu akan membentuk karakter yang baik.
Ada orang-orang tertentu yang merasa sudah sangat berdosa dan tidak enak menghadap Tuhan, atau ada juga yang berpikir bahwa orang sudah melihat dirinya itu buruk sehingga dia tidak layak untuk menghadap Tuhan lagi. Pikiran dan perasaan itu salah besar karena pada akhirnya nanti, kita menghadap Tuhan secara pribadi. Jadi tanggung jawab hidup kita secara pribadi yang akan dipertanyakan oleh Tuhan.
Jadi, jika kita hendak memberikan kesan pertama yang baik atau kesan yang baik (untuk dilihat) oleh orang lain, maka bangunlah hal itu dalam keseharian kita. Bangunlah hubungan dengan Tuhan setiap hari, bersikaplah apa adanya, dan tidak perlu berpura-pura baik. Maka hidup kita lebih terasa tenang dan nyaman.
Pada suatu saat nanti, orang pun akan mengetahui kelemahan atau kekurangan kita. Tetapi jika kita dapat menerima kekurangan orang lain dan menghormatinya, maka orang lain akan menerima kekurangan kita dan tetap menghormati kita.

Tuhan memberkati

**Inspired by: Sheilla Indrayani Prayitno

2 thoughts on “Pertahankan Kesan Pertama Dalam Keseharian

  1. Mantap….!!!!!!!!!!!!! Luar biasa…sebuah teguran yang akan membuat kita menjadi lebih murni dalam hidup kita. Tidak memakai topeng dalam kehidupan kita, dan tidak seperti “kuburan yang dilabur putih”..dari luar terlihat bagus tp ternyata dalamny berbeda. keep IMpacting All GEneration… 😀 thats what this world need…!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s