Membangun Benteng Dengan Sakit Hati


Selalu mengingat dosa orang lain (atau menyimpan dendam) itu sama halnya dengan membangun tembok dengan orang lain, sehingga tidak mungkin ada komunikasi yang terbuka oleh karena dinding tersebut
(dikutip dari renungan harian, tanggal 2 Februari 2011, ’Meaningful Life’ by MDC)

Ada seorang teman gereja yang menyimpan sakit hatinya terhadap orang-orang disekitarnya khususnya yang ada didalam gereja. Diawali dengan keadaan didalam keluarganya, kemudian penolakan dari seorang pria yang disukainya, sampai dengan penolakan dari teman-teman disekitarnya yang dirasakannya ketika dia mulai berteman dengan orang-orang diluar gereja lalu dia mulai mengubah caranya berpenampilan sampai dengan perilakunya.

Ada banyak orang yang sangat mengasihinya dan melihat bahwa pergaulannya saat ini kurang baik, lalu mengingatkan dia, tetapi karena sakit hatinya, sehingga siapa pun yang menegurnya, selalu dibantahnya dengan perkataan-perkataan yang sangat pedas dan menyakitkan.
Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang menolak dia, termasuk keluarganya dan teman-teman dekatnya didalam gereja, mengingat dia adalah orang yang berhati baik.

Tetapi ada kemungkinan selama ini dia seperti merasa tersaingi oleh teman-teman disekitarnya dan merasa tidak dapat menikmati kehidupan yang ‘layak’ menurut pandangannya sendiri karena orang tuanya tidak dapat memberikan semua yang dia inginkan, ditambah dengan perasaan tertolak serta berbagai kekecewaan yang ditimbunnya setiap saat, sehingga akhirnya tumbuh sakit hati dan kepahitan.

Seperti kutipan dari renungan tersebut diatas, sakit hati dan kepahitan tanpa kita sadari akan membangun benteng yang tebal antara kita dengan orang-orang disekitar kita, demikian pula seperti cerita teman tersebut diatas, sakit hatinya membangun benteng yang sangat tebal antara dia dengan keluarganya dan teman-teman gerejanya.

Ada begitu banyak cerita mengenai seseorang yang mengalami sakit hati terhadap orang lain dan biasanya orang yang mengalami sakit hati itu pasti akan mempunyai kecenderungan untuk menyakiti hati orang lain lagi, yang mungkin tidak mengerti apa-apa. Tanpa disadari, sakit hati itu akan selalu menimbulkan sakit hati yang lain, sehingga akhirnya sakit hati itu akan berbentuk seperti lingkaran yang tidak ada putusnya, terus menerus saling menyakiti satu dengan yang lain, setiap saat.

Dan seperti yang tertulis dalam renungan tersebut diatas, orang yang menyimpan sakit hati itu akan membangun tembok antara dirinya sendiri dengan orang lain disekitarnya. Dengan kalimat yang lebih sederhana: orang yang menyimpan sakit hati dan kepahitan itu akan sulit mendengarkan nasehat apa pun dan dari siapa pun, walau pun caranya baik.

Orang yang sakit hati senang bergaul dengan orang yang sama-sama mempunyai sakit hati karena pembicaraan mereka menyatu (pembicaraan mengenai sakit hati mereka). Pada awalnya mereka akan bekerja sama untuk menghina dan menyakiti orang lain (yang tidak bersalah), tetapi tentu saja hubungan mereka itu akan berakhir dengan saling menyakiti.

Jika seseorang yang mengalami sakit hati itu tidak berusaha untuk mengampuni (tentunya dengan pertolongan Roh Kudus), maka sepanjang hidup mereka akan mengalami kesulitan untuk mengasihi, tidak akan pernah merasa puas atau bersyukur, dan tidak akan mengalami kemenangan, serta tidak akan menemukan jalur komunikasi yang ‘pas’ antara mereka dengan siapa pun juga, termasuk dengan Tuhan.

Seorang mama bercerita kepada anaknya bahwa dia baru saja mengampuni Tuhan. Mungkin hal ini terdengar sangat aneh, karena Tuhan itu tidak pernah bersalah, mengapa Dia perlu diampuni? Kenyataannya, ketika kita tidak bisa menerima keadaan kita, termasuk menerima keadaan orang lain (dengan mengampuni), tanpa kita sadari, sebenarnya kita sudah menyalahkan atau merasa tidak terima dengan Tuhan. Itulah sebabnya, ada kalanya kita perlu ‘mengampuni Tuhan’.

Jika kita memahami kutipan renungan tersebut, maka kita akan memahami juga bahwa sakit hati yang kita simpan tidak hanya membangun tembok antara kita dengan sesama tetapi kita sudah menutup jalur komunikasi kita dengan Tuhan juga.

Kita akan sulit untuk memahami pekerjaan Tuhan ketika kita masih menyimpan sakit hati, sama seperti ketika kita sulit menerima masukan atau nasehat orang lain karena kita masih menyimpan sakit hati.

Oleh karenanya, jangan mempersulit diri dengan menyimpan sakit hati dan kepahitan! Jika kita ingin ‘menuntut’ Tuhan untuk menjawab doa-doa kita, maka kita harus bisa ‘menuntut’ diri kita juga untuk mau mengampuni.

Runtuhkanlah tembok sakit hati itu, agar kita memiliki tubuh, jiwa, dan roh yang sehat! Lepaskanlah pengampunan! Karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengampuni kita (Matius 18:21-35) dan kita tidak berhak menyimpan sakit hati itu.
**sharing by Mrs.Sophia Kailas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s