Kompor


Istilah kompor atau mengompori seringkali bermakna negatif yaitu mempengaruhi untuk melakukan sesuatu yang kurang baik, misalnya saja untuk berbelanja (atau lebih tepatnya membeli barang yang tidak diperlukan) atau untuk semakin membenci orang lain.

Ada seorang teman, kita sebut saja namanya Theresia, dengan panggilannya Tere, yang sangat suka sekali berbelanja. Kebanyakan barang yang dibelinya itu sebenarnya tidak dibutuhkannya. Jadi jika kita bepergian dengannya, sedikit saja kita berkata “bagusnya baju itu…”, maka dia akan langsung mencoba dan membelinya. Sangat mudah untuk ‘mengompori’ (mempengaruhi)-nya berbelanja, bukan?

Selain suka berbelanja, Tere adalah seorang teman yang sangat terbuka dengan siapa saja. Tere dapat dengan mudah menceritakan seluruh isi hatinya dengan siapa pun orangnya yang sedang bersamanya saat itu. Misalnya saja dia sedang menyukai mau pun membenci orang lain maka Tere dengan mudah akan mengungkapkannya dengan seseorang yang sedang bersamanya itu.

Jika Tere sedang bersama dengan orang yang tepat, yang cukup bijaksana menanggapi ceritanya saat itu, maka Tere akan mendapatkan masukan yang baik. Sebaliknya, jika Tere bercerita pada seseorang yang pada waktu itu mungkin sedang membenci atau menyukai orang yang sama, maka kemungkinan besar Tere akan dipengaruhi untuk tetap membenci atau tidak menyukai orang yang bersangkutan. Dalam hal ini tentu saja merupakan pengaruh yang buruk bagi Tere. Pengaruh buruk ini yang biasanya sering kita sebut dengan istilah ‘kompor’ atau ‘mengompori’.

Dikatakan dengan istilah kompor atau mengompori karena sesuatu yang ‘panas’, misalnya saja hati sedang panas atau sedang jengkel dengan seseorang, lalu karena bercerita dengan seseorang yang juga sedang jengkel dengan seseorang yang sama, lalu keduanya saling membicarakan panas hatinya itu, maka akhirnya keduanya pun menjadi semakin ‘terbakar’, sehingga berakibat atau membuahkan suatu kebencian yang lebih parah didalam hati kedua orang tersebut.

Sama seperti halnya bergosip, seringkali gosip dikatakan sebagai singkatan dari ‘semakin di Gosok, semakin SIP’, karena ketika kita mengungkapkan keburukan tentang orang lain dan ada orang lain lagi yang menanggapinya, maka akibatnya kita yang tadinya hanya sekedar tidak suka bisa berubah menjadi benci, atau bahayanya lagi seseorang yang mungkin tidak tahu apa-apa juga bisa ikut membenci.

Jika kita hendak merenungkan, maka sebenarnya segala sesuatu yang buruk itu bisa menjadi sesuatu yang baik atau didalam segala situasi yang buruk sebenarnya ada sesuatu yang baik. Semuanya tergantung dari bagaimana cara kita berpikir dan bersikap. Misalnya saja istilah kompor tersebut. Selama ini istilah mengompori mungkin selalu berkonotasi buruk, padahal sebenarnya dari atas kompor dihasilkan makanan yang sangat lezat bukan?

Tanpa kompor, bahan-bahan makanan akan tetap menjadi bahan mentah yang tidak bisa dinikmati dan tidak bisa dihidangkan. Makanan yang sudah siap dihidangkan pun, agar dapat disajikan dalam keadaan hangat, perlu kompor untuk memanaskannya. Jadi sebenarnya walau pun kompor seringkali digunakan sebagai istilah kata yang berkonotasi buruk, tetapi kita mengerti bahwa realitanya ada begitu banyak makanan lezat yang dihasilkan dari atas kompor.

Dari pengertian ini, kita sekarang menjadi tahu dan dapat berpikir bahwa ada begitu banyak orang dengan pendapatnya yang dapat memberikan pengaruh yang baik atau yang buruk bagi kita, khususnya pada saat kita menceritakan suatu masalah pada mereka. Tetapi didalam setiap pendapat itu, kita sebenarnya mempunyai hak istimewa untuk memilih apakah kita akan tetap bersikap baik atau bersikap buruk, apakah kita akan tetap berpikir positif atau ikut berpikir negatif?

Misalnya saja kita bercerita dengan sekelompok orang yang sedang tidak menyukai orang yang sama dengan kita, tentunya mereka akan dengan senang hati memberikan tanggapan yang negatif tentang seseorang itu dan tanpa kita sadari, perkataan-perkataan negatif itu seperti medan magnet yang menarik hati dan pikiran kita untuk semakin membenci seseorang itu. Tetapi ketika kita dengan segera menyadari bahwa hal itu tidak baik, maka kita harus berani menarik diri dari pembicaraan itu atau menghentikan pembicaraan tentang keburukan seseorang itu.

Semua orang akan senang jika mendapatkan dukungan, termasuk dukungan untuk membenci orang lain. Tetapi sebenarnya semua orang itu pun tahu bahwa membenci itu adalah suatu kesalahan. Oleh karena itu, semua orang disekitar kita boleh menceritakan sesuatu yang buruk tentang orang lain, tetapi kita masih bisa menutup telinga untuk tidak mendengarkan pembicaraan itu dan tetap bersikap baik terhadap siapa saja tanpa terpengaruh.

Segala situasi dan perkataan boleh mempengaruhi kita untuk menjadi semakin buruk, tetapi kita mempunyai hak istimewa untuk memilih sikap dan perkataan yang baik. Jika ada orang-orang yang saat ini sedang mempengaruhi kita untuk membenci orang lain, maka kita berkesempatan untuk mengasihi dan mengampuni orang lain itu.

Mana yang hendak kita pilih?

One thought on “Kompor

  1. In this life, while we live, we have to choose. We must choose, either we say it or not. All we need to do is to choose the right decision. Everything happen when we choose, so be a SMART CHOOSER!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s