Both


Dari sekumpulan orang, ada seseorang yang mempunyai sikap dan pembawaan yang kurang baik dan kurang sopan. Sebenarnya seseorang ini cukup menjengkelkan, tetapi karena usianya yang tertua, maka rekan-rekannya yang lain memilih untuk cukup memahaminya. Tetapi ada seorang yang tidak tahan akan sikapnya itu, maka suatu ketika seorang yang berusia muda ini menyinggung secara terang-terangan orang yang memiliki usia tertua itu dihadapan rekan-rekan yang lain.

Dari sikap seorang yang berusia muda ini tentunya menimbulkan sakit hati si orang yang memiliki usia tertua ini karena merasa sebagai seorang yang lebih tua, tidak seharusnya orang yang lebih muda bersikap berani terhadapnya. Akibatnya, seorang yang lebih tua ini pun tak mau kalah dan di hari-hari berikutnya si orang yang lebih muda ini pun menjadi sasarannya bersama rekan-rekan yang lain untuk mendapatkan sindiran-sindiran yang lebih parah.

Menurut para pembaca, kira-kira Tuhan akan berpihak pada si orang yang berusia tertua itu atau kah terhadap si orang yang berusia muda?

Tidak akan ada seorang pun yang mengetahui jawaban yang pasti, karena kebijaksanaan Tuhan tentunya berbeda dengan pemikiran kita sebagai manusia biasa. Dan setiap orang tentunya akan memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Tetapi jika kita pernah mengetahui atau mendengar pemberitaan bahwa Tuhan akan datang kedua kalinya untuk menghakimi, maka tentunya kita juga akan mengetahui bahwa Tuhan akan menghakimi seseorang itu pribadi per pribadi. Tidak bisa kita menumpang keselamatan atau membagi-bagi dosa kita agar kita dikenan Tuhan, seperti kalau kita kerja tugas kelompok sewaktu sekolah atau sewaktu kuliah (agar sama-sama naik kelas).

Jadi seperti dalam cerita tersebut diatas, maka tentunya Tuhan akan berurusan secara pribadi dengan orang yang berusia tertua DAN juga akan berurusan secara pribadi dengan orang yang berusia muda.

Sebagai penjelasan singkat, mungkin kita bisa bayangkan bahwa Tuhan akan bertanya mengenai sikap si orang yang berusia muda itu “mengapa ia bersikap tidak sopan terhadap si orang yang berusia tertua”, mengingat usianya yang lebih muda misalnya.

Sebaliknya, kita juga bisa membayangkan bahwa Tuhan akan memertanyakan mengenai sikap si orang yang berusia tertua itu misalnya saja “mengapa ia harus sakit hati dengan sikap si orang yang berusia muda?” atau “mengapa ia harus membalaskan sakit hati hanya karena tidak terima dengan sikap si orang yang berusia muda?”, padahal ia sebagai orang berusia tertua dan beriman tentunya mengetahui bahwa ia tidak boleh menyimpan sakit hati dan membalaskan kesalahan orang lain.

Seringkali kita berpikir bahwa penting untuk mengetahui ‘siapa yang bersalah’ karena kita masih perhitungan dalam hal ‘minta maaf’, jadi ‘siapa yang bersalah’ maka dia harus ‘minta maaf’.

Berbeda dengan Tuhan, DIA tidak peduli kita bermasalah dengan siapa (apakah seorang yang lebih muda atau lebih tua, atau dengan seorang petinggi atau pegawai biasa misalnya) dan DIA juga tidak peduli siapa yang memulai pertengkaran atau siapa yang bersalah.

Tuhan lebih memerhatikan hati kita, jika hati kita baik, maka DIA senang, sebaliknya jika hati kita pahit, sekali pun karena hati kita disakiti (menurut kita: pahit bukan karena kesalahan kita sendiri), maka DIA tidak akan berkenan.

Kalau kita lebih mementingkan permintaan maaf atau mungkin kita memiliki dalih dengan pemikiran ‘lebih baik membalaskan kesalahan orang terhadap kita daripada kita menjadi sakit hati’, sebaliknya Tuhan tidak perlu pembelaan atau pembalasan dari kita itu.

DIA Tuhan yang Maha Tahu. DIA tidak perlu kita beritahu siapa yang menyakiti hati kita dan DIA juga tidak perlu kita untuk ‘membantu’NYA membalaskan dendam terhadap orang yang menyakiti hati kita. Tetapi Tuhan sangat mementingkan kemurnian hati kita dan perbuatan baik kita secara pribadi.

Jadi dari pengertian dan pengetahuan ini, maka kita dapat belajar untuk bersikap menjadi lebih baik lagi. Terserah orang mau berbuat apa pada kita, karena pada akhirnya Tuhan hanya berurusan dengan masing-masing pribadi, maka kita harus ‘mengurus’ hati kita terlebih dahulu. Kita harus mampu mengampuni terlebih dahulu dan kita harus bisa menguasai diri kita terlebih dahulu.

Sikap ini sangatlah tidak mudah, karena tubuh kita sebagian besar masih terdiri dari daging, yang selalu ingin membalaskan dendam dan sakit hati kita, serta akan selalu ingin mendapatkan pembelaan.

Tetapi demikianlah tuntutan kita sebagai anak Tuhan, yaitu harus mempunyai hati yang murni agar pada akhirnya nanti, kita mendapat perkenanan Tuhan. Maka dari itu, marilah kita semua, setiap hari, setiap waktu, senantiasa memurnikan hati kita. Karena jika hari ini kita berhasil memiliki hati yang tulus, maka esok hari belum tentu kita berhasil. Kemurnian hati kita akan senantiasa diuji dan dinilai hanya oleh Tuhan.

Tuhan memberkati.

One thought on “Both

  1. All that matters is what inside your heart..God only see your heart..nothing else…be pure in your heart..be wise in your mind.. God bless each heart of you.. ^^..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s