Satu Proses Dengan Hasil Yang Berbeda-Beda


Ada sebuah artikel yang berkisahkan tentang proses memasak wortel, telur, dan kopi. Suatu hari seorang ibu memasukkan wortel, telur, dan kopi di tiga panci kecil yang berisikan air panas yang sudah mendidih dalam jangka waktu beberapa menit. Setelah itu terlihat hasilnya, wortel yang tadinya keras menjadi lembek, lalu isi telur menjadi keras, dan kopi menyatu dengan air dan menghasilkan bau yang harum.

Prosesnya sama yaitu memasukkan di air yang mendidih dan mendiamkannya selama beberapa menit, tetapi yang dihasilkan berbeda, walau pun akhirnya ketiga-tiganya pun dapat dinikmati, wortel bisa dinikmati didalam sup misalnya, telur pun dapat dinikmati sebagi telur rebus, dan kopi bisa diminum, hanya saja bentuknya jadi berbeda-beda.

Dikatakan didalam artikel tersebut bahwa wortel yang tadinya keras akhirnya melembek, dapat diumpamakan seperti seseorang yang ketika menjalani proses kehidupan ini akhirnya menjadi lemah dan tidak bersemangat lagi; lalu telur yang menjadi keras, dapat diumpamakan seperti seseorang yang didalam menjalani proses kehidupan ini akhirnya menjadi seseorang yang keras hati; dan kopi yang melebur bersama-sama dengan air dan menghasilkan bau yang harum, diumpamakan seperti seseorang yang menjalani proses kehidupan ini kemudian dapat menjadi seseorang yang lebih baik.

Seperti halnya dengan perumpamaan tersebut diatas, ada kisah yang serupa dari tiga orang anak yang diasuh oleh seorang ibu yang seringkali mempunyai pemikirannya sendiri dan beranggapan bahwa anak-anaknya itu mempunyai hati dan pikiran seperti pemikirannya itu, padahal sebenarnya anak-anaknya mempunyai hati dan pemikiran yang jauh berbeda dengan pemikiran ibu asuhnya itu.

Akibatnya, anak yang pertama menjadi seseorang yang sabar dan dapat berpikir positif, karena setiap kali sang ibu memarahinya dan menuduhnya bersalah, maka dia melatih pikirannya dengan berpikir bahwa ‘yang penting Tuhan tahu bahwa hati dan pikiranku tidak seperti yang dituduhkan ibu padaku’.

Tetapi berbeda dengan anak yang kedua, dia menjadi seseorang yang keras hati dan pendendam (perlu waktu lama untuk dapat mengampuni kesalahan orang lain), karena setiap kali sang ibu memarahinya dan menuduhnya, dia merasa tidak bisa membela dirinya, tetapi sebenarnya hatinya sangat sakit terhadap tuduhan sang ibu.

Dan anak yang ketiga menjadi seseorang yang terlihat dewasa tetapi hatinya mudah terlukai, karena dia selama ini juga belajar dari kedua orang kakaknya bahwa dia harus bisa segera melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain, tetapi dia pun tak dapat memungkiri bahwa hatinya juga sangat terluka jika ibu asuhnya itu sudah menggunakan pemikiran yang tidak sama dengan pemikirannya.

Seorang ibu dengan pendidikan yang sama, cara asuh yang sama, dan sikap yang sama terhadap tiga orang anak, tetapi menghasilkan karakter anak yang berbeda-beda. Walau pun mungkin pada akhirnya tiga orang anak itu dapat menjadi seseorang yang dapat menerima kesalahan orang lain, tetapi lamanya didalam memberikan pengampunan atau lamanya untuk membereskan masalah, serta cara penyelesaian masalah oleh masing-masing anak berbeda-beda.

Didalam hidup ini, sebenarnya semua orang mempunyai proses yang sama dan menerima berkat yang sama dari Tuhan. Tidak ada seorang pun diciptakanNYA lebih baik atau lebih buruk. Tetapi realitanya, didalam perjalanan kehidupan ini, ada orang-orang yang masih merasa orang lain lebih baik dan dirinya lebih buruk, atau sebaliknya dia merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Sehingga karakter yang dihasilkan pun berbeda-beda.

Semua itu disebabkan karena setiap orang menggunakan pemikiran dan perasaannya sendiri-sendiri. Seorang yang satu berpikiran dan berprasangka bahwa dia tidak akan bisa atau tidak layak mendapatkan berkat dari Tuhan sehingga orang lain yang akhirnya mendapatkannya. Seorang yang lain berpikiran dan berprasangka bahwa orang lain memiliki dosa yang cukup besar sehingga dirinyalah yang layak diberkati Tuhan.

Seandainya, semua orang dapat bersyukur dan percaya bahwa Tuhan itu adil dan benar didalam pemberianNYA kepada semua orang, maka walau pun tampaknya hidup ini tak pernah cukup, tetapi dia masih dapat melihat ‘berkat-berkat kecil’ yang diterimanya.

Seandainya, semua orang tidak merasa dirinyalah yang ‘ter-‘ (baik), maka walau pun dia adalah orang tua, atau pemimpin, atau pembesar sekali pun, tetapi dia akan menyadari bahwa ada Tuhan diatas segala-galanya dan tak ada yang bisa disombongkannya.

Didalam hidup ini, ada berbagai hal yang berbeda tetapi tidak ada yang perlu dipermasalahkan, karena seperti pada perumpamaan wortel, telur, dan kopi tersebut diatas, semuanya masih ‘berguna’ dan dapat dinikmati, walau pun dengan cara yang berbeda.

Demikian pula semua orang dapat berbeda cara bertutur kata, bersikap, dan dalam karakternya, walau pun proses hidup dan berkatNYA sama untuk setiap orang, tetapi pada dasarnya semua orang adalah pribadi yang ‘berguna’ bagi Tuhan.

Selanjutnya, bagaimana kita dapat menerima perbedaan itu?

Bersyukurlah untuk hal-hal kecil yang Tuhan berikan pada kita dan sadarilah bahwa Tuhan adalah yang tertinggi diatas segala sesuatu. Jangan lukai diri kita hanya karena perasaan dan pemikiran yang tidak pernah ada kata ‘cukup’ didalamnya! Jangan lukai orang-orang yang ada ‘dibawah’ kita hanya karena mereka ‘tak berdaya’ terhadap tingkatan yang ada, mungkin karena perbedaan usia, ekonomi, atau pun perbedaan level.

Jangan pernah gunakan pemikiran dan perasaan kita sendiri karena tidak selalu benar bahwa semua orang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama seperti kita, agar kita menjadi seseorang yang menuduh orang lain!

Ingatlah bahwa siapa pun engkau saat ini (baik engkau adalah orang tua dari anak-anakmu, atau seorang suami, atau seorang pemimpin dimana pun engkau ditempatkan, atau seorang pembesar karena ekonomimu yang sangat baik), engkau tak akan pernah lebih dari siapa pun juga, bahkan engkau tak lebih daripada semua orang yang ada dibawahmu (anak-anakmu, atau istrimu, atau bawahanmu, atau orang-orang yang tak mampu secara ekonomi)!

Lihatlah sekelilingmu…semua orang disekitarmu itu baik dan indah…tersenyumlah pada mereka dan lihatlah hal-hal baik didalam hidup mereka. Tidak ada yang salah dengan mereka. Mereka berbeda sebagai hasil dari proses yang dilaluinya, tetapi mereka adalah pribadi yang baik.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s