Mempermudah Atau Mempersulit?


Bekerja menjadi seorang pegawai sudah seharusnya berkewajiban untuk menaati peraturan yang berlaku di tempat kerjanya. Demikian pula sebagai seorang pemilik perusahaan pun sebaiknya juga mengikuti peraturan yang berlaku agar semua tata tertib dapat berjalan dengan baik.

Peraturan dibuat seharusnya untuk mempermudah proses pekerjaan baik antara perusahaan dengan customer mau pun antara pegawai di department yang satu berkaitan dengan pegawai di department yang lain yang ada didalam satu perusahaan tersebut. Tetapi realitanya yang terjadi adalah customer bisa merasa dipersulit dan pegawai di suatu department merasa department lainnya mempersulitnya.

Hal ini dapat terjadi karena pegawai mungkin merasa customer terlalu banyak permintaan sehingga ‘malas’ melayani atau karena memang prosedurnya sulit untuk ditaati oleh customer. Dan untuk bagian dalam perusahaan itu sendiri, antar pegawai ada yang merasa dirinya lebih senior jadi ingin menunjukkan bahwa ‘bekerja itu tidak gampang’ dan atau mereka sedang saling sirik sehingga merasa senang jika dapat ‘menindas’.

Yang pasti, bekerja dimana pun tentunya ada tingkat kemudahan dan kesulitannya masing-masing, dan kalau kita menjadi customer tentunya juga bisa membandingkan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain untuk tingkat kemudahan dan kesulitannya masing-masing.

Sebenarnya, semua proses mulai dari proses administrasi di sekolah, universitas, perusahaan, dan lingkungan masyarakat (RT/RW, kelurahan, kecamatan, dan lain-lain) itu ada alur nya dan biasanya sudah dibuat secara tertulis dengan jelas. Tetapi memang ada kasus-kasus tertentu yang mungkin tidak bisa mengikuti alur tersebut. Tetapi seharusnya semua masih dapat dijalankan, tergantung dari kebijaksanaan dan toleransinya masing-masing.

Contoh yang pertama diambil dari cerita seorang pegawai yang bekerja di bagian operation, yaitu yang menjalankan semua transaksi customer di suatu perusahaan. Pegawai ini sangat suka meminta customer untuk konfirmasi ulang melalui telepon untuk semua transaksinya, khususnya jika ada coretan didalam form yang telah diisi. Padahal customer datang sendiri ke perusahaan untuk menjalankan transaksinya dan menandatangani coretan sebagai bukti bahwa customer mengetahui bahwa dia telah membuat kesalahannya sendiri.

Tentu saja sikap pegawai operation tersebut sangat menghambat pekerjaan dan khususnya transaksi milik customer tersebut. Tidak heran jika customer merasa sangat jengkel dan merasa dipersulit. Sedangkan didalam alur yang telah ditetapkan, tidak tertulis bahwa customer harus selalu mengkonfirmasi ulang ke bagian operation agar transaksinya dapat dijalankan. Tentu saja dalam kasus ini, kemudahan bertransaksi bergantung pada toleransi sikap dari pegawai operation tersebut.

Contoh yang kedua diambil dari sikap seorang warga yang enggan membayar biaya administrasi yang harus dibayarkan jika dia hendak membuat KTP di kelurahan di suatu daerah misalnya. Warga tersebut beranggapan bahwa pegawai kelurahan meminta lebih daripada harga sesungguhnya. Tetapi warga menuntut agar KTP bisa segera jadi.

Lalu bagaimana KTP dapat segera diselesaikan jika warga tidak bersedia membayar biaya yang sudah diminta? Dan atas dasar bukti apa warga menuduh pegawai kelurahan tersebut telah meminta lebih daripada yang seharusnya?

Tentu saja, dalam hal ini warga telah mempersulit alur yang telah dibuat oleh pihak kelurahan dan sekali lagi, sebenarnya dalam hal ini kembali lagi pada kebijakan dan toleransi warga terhadap pegawai kelurahan tersebut.

Demikianlah dalam kehidupan sehari-hari, kita akan sering menemukan peraturan yang diberlakukan dan peraturan tersebut dibuat sebenarnya untuk mempermudah, memberikan kenyaman, dan semuanya untuk kepentingan bersama. Tetapi ada faktor lain yang seringkali ternyata semakin mempersulit proses yang ada. Sampai akhirnya muncullah slogan “jika memang bisa dipersulit mengapa harus dipermudah?”.

Sebenarnya, didalam hidup ini, kita tidak mudah (bahkan dapat dikatakan tidak mungkin) untuk sampai kepada Bapa karena hidup kita ini seperti kain kotor yang tidak layak untuk diperhadapkan kepada Bapa yang sangat suci. Setiap hari pasti ada kesalahan yang kita perbuat, entah pikiran yang hanya sepintas saja yang berpikir buruk tentang orang lain atau mungkin kemarahan-kemarahan yang ada didalam hati. Tetapi Bapa ‘merelakan’ Tuhan Yesus untuk dilahirkan ke dunia dan mati disalibkan untuk mempermudah jalan manusia menuju kepada Bapa.

Saat ini, ada pembaca yang merasa sangat bangga jika bisa mempersulit jalan orang lain sehingga dia dapat merasa dibutuhkan dan menjadi ‘orang penting’, maka ingatlah bahwa ada jalan yang sangat jauh lebih sulit untuk dilalui tapi telah dibuat mudah oleh Bapa. Lalu apa kita masih mempunyai kuasa atau hak untuk mempersulit jalan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita?

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s