Jangan Iri!


“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”
Amsal 14:30

Coba kita renungkan, pikirkan, dan bayangkan dengan perlahan ayat tersebut diatas! Bayangkan apabila kita memiliki hati yang tenang, tidak peduli ketika seseorang sedang membanggakan apa yang dimilikinya atau ketika seseorang mengalami keberhasilan dalam hidupnya. Bandingkan ketika kita mempunyai rasa iri ketika seseorang mempunyai sesuatu yang tidak kita miliki dan ketika seseorang hidupnya berhasil.

Ketika kita memiliki hati yang tenang, tidak terpengaruh oleh ‘keadaan baik’ yang dimiliki oleh orang lain atau dengan kata lain kita mampu menerima keadaan kita yang mungkin ‘tidak bisa menjadi’ seperti orang lain, maka kita tidak perlu ‘bersusah payah’ menggunakan energi untuk berpikir bagaimana caranya agar kita bisa memiliki sesuatu yang dimiliki oleh orang lain atau menjadi seperti orang lain itu.

Berbeda ketika kita memiliki rasa iri ketika melihat ‘keadaan baik’ yang dimiliki oleh orang lain atau dengan kata lain kita tidak mampu menerima keadaan kita yang mungkin ‘tidak bisa menjadi’ seperti orang lain. Kita akan jauh lebih menghabiskan energi tubuh kita karena ada usaha yang timbul untuk mencari cara agar bisa mencapai seperti atau lebih daripada orang lain itu (itulah sebabnya Firman Tuhan berkata bahwa iri hati membusukkan tulang).

Masalah tidak akan timbul ketika hati kita tenang melihat kemampuan atau keberhasilan seseorang dan sebaliknya masalah yang berkepanjangan akan timbul ketika kita merasa iri dengan kemampuan atau keberhasilan yang dimiliki oleh orang lain.

Hati yang iri akan menimbulkan rasa jengkel, kecewa, dan kesal baik terhadap diri sendiri mau pun orang lain karena ketidakmampuannya. Sayangnya, perasaan ‘tidak mampu’ ini sering tidak dimiliki oleh seseorang yang menyimpan rasa iri.

Selanjutnya, ketika seseorang merasa jengkel, kecewa, dan kesal terhadap dirinya sendiri atau orang lain, maka dia akan menjadi seorang yang mudah tersinggung, pemarah, dan segera akan (menghabiskan energinya) mencari cara untuk menandingi seseorang yang telah berhasil tadi. Sayangnya, seringkali seseorang ‘yang berhasil’ itu tidak sadar bahwa ada seseorang yang lain yang sedang iri hati dan hendak menyainginya karena biasanya seseorang itu sebenarnya tidak mempunyai niat untuk membuat orang lain menjadi iri hati.

Tak berhenti sampai disitu, setelah seseorang yang mengalami iri hati akan menjadi sulit untuk menjadi berhasil mencapai sesuatu yang lebih daripada orang lain, karena sebenarnya keberhasilan diperoleh seseorang ketika hatinya (dilihat Tuhan) itu baik (walau pun sebenarnya juga harus disertai dengan usaha). Akibatnya, seseorang yang iri hati akan semakin meluap-luapkan kemarahan karena ketidakmampuannya itu.

Luapan dari kemarahan karena iri hati akan menyebabkan banyak hal buruk timbul didalam diri seseorang, misalnya saja kebencian yang berakhir pada sakit hati dan usaha untuk membalas dendam yang sebenarnya tidak perlu, persaingan yang tidak sehat, fitnah untuk mengatakan hal-hal buruk kepada orang lainnya mengenai keberhasilan seseorang, dan seseorang juga dapat menjadi ‘bebal’ karena iri hatinya itu.

Pengertian bebal adalah seseorang yang mengerti akan kebenaran tetapi tidak melakukannya atau tidak mematuhinya. Seseorang yang hatinya sudah dipenuhi dengan rasa iri berarti dia sulit untuk menerima dirinya sendiri, akibatnya dia tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai kekurangan dan akhirnya kebenaran tidak akan dapat mengkoreksinya, itulah sebabnya seseorang yang iri hati dapat menjadi seorang yang bebal.

Cobalah untuk mengkoreksi diri kita sendiri saat ini, apakah ‘keberhasilan’ atau kemampuan seseorang yang lain itu membuat kita merasa tidak enak hati? Jika ya, cobalah untuk melepaskan rasa tidak enak itu dengan cara menerima ketidakmampuan kita dan syukuri hal itu dengan melihat kemampuan kita melalui sudut pandang yang lain. Tuhan menciptakan kita pasti ada sisi-sisi positifnya tersendiri dan sisi positif itu akan terlihat jika kita dapat menerima keadaan diri kita.

Jadikan keberhasilan orang lain itu sebagai acuan atau semangat untuk menaikkan kapasitas kita! Keberhasilan orang lain itu tidak untuk membuat kita menjadi iri hati. Karena hati ini sumber dari segalanya, jika kita menyimpan iri hati atau hal-hal buruk lainnya di hati, maka semua hal akan menjadi buruk. Oleh karenanya, kita harus benar-benar menjaga hati.

Jika ada seseorang yang berhasil atau mampu melakukan sesuatu, maka pikirkan bahwa kita pun dapat berhasil dan mampu melakukan sesuatu walau pun mungkin di bidang yang berbeda dan bahkan mungkin tidak ada orang yang tahu misalnya, sebenarnya hal itu bukanlah masalah yang besar, jadi jangan terlalu dipikir sampai menimbulkan rasa iri.
Pikirkanlah juga ketika kita tidak perlu merasa iri hati, maka hati dan pikiran kita pasti akan lebih ringan, dibandingkan ketika kita harus memiliki iri hati yang menurut Firman Tuhan hanya akan ‘meremukkan tulang’ kita, yang berarti hanya membuat tubuh menjadi sakit (terasa tidak nyaman).

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s