Awal Perjalanan


Pada tanggal 17 Desember 2006, seorang pria dan wanita bertemu di sebuah tempat makan yang tak jauh letaknya dari sebuah gereja, tempat mereka beribadah. Berawal dari pembicaraan ringan yang kemudian membuat pria dan wanita ini menjalin komunikasi dan berniat untuk lebih saling mengenal satu dengan yang lain.

Hingga suatu ketika pria dan wanita ini memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar berteman. Pada umumnya orang menyebutnya dengan pacaran. Perlu diketahui bahwa mereka tidak hanya berbeda secara gender pria dan wanita, tetapi mereka juga berbeda suku. Bahkan di jaman yang bisa dikatakan modern ini, perbedaan suku didalam suatu hubungan masih sering mendapatkan pertentangan.

Mereka menyadari bahwa hubungan mereka akan mengalami banyak masalah dan pertentangan. Tetapi mereka mempunyai satu tujuan didalam hubungannya itu, yaitu mereka ingin menjadi jembatan atas setiap perbedaan yang ada karena bagi mereka, Tuhan sudah menjadi jembatan atas manusia dengan Bapa di surga.

Walau pun kelihatannya mereka mempunyai tujuan yang benar, kenyataannya ada begitu banyak orang yang tidak dapat menerima hubungan mereka itu. Sehingga mereka pun tak pernah berusaha untuk memaksakan pendapat mereka itu agar diterima oleh orang-orang disekitarnya yang tidak mendukungnya itu, karena mereka mengerti bahwa semua orang berhak untuk memiliki pendapat yang berbeda.

Empat tahun enam bulan lamanya, Tuhan membawa mereka dari masalah yang satu kepada masalah yang lain. Selama itu, mereka belajar banyak hal dan melihat serta mengalami mujizat demi mujizat bersama Tuhan.
Sampai akhirnya hubungan mereka pun mendapatkan persetujuan dari orang tua dan mereka diijinkan untuk menikah pada tanggal 17 June 2011.

Pertanyaanya: apakah pernikahan ini adalah hasil dari kekuatan dan bisa terjadi karena perjuangan mereka semata-mata? Apakah pernikahan ini dipaksakan oleh kegigihan mereka? Dan apakah pernikahan ini berarti kemenangan bagi mereka sebagai pasangan yang tak mudah menyerah dan kekalahan bagi pihak-pihak yang tak mendukung?

Jawabannya adalah pernikahan ini diijinkan Tuhan karena Tuhan berkehendak.

Jadi pernikahan mereka itu sama sekali bukan masalah menang atau kalah, bukan karena keharusan atau atas dasar pemaksaan, dan juga bukan karena kegigihan dari pasangan itu semata-mata.

Semua orang bisa mendukung dan berusaha sekuat tenaga untuk membuat mereka mendapatkan restu untuk menikah, tetapi mereka tidak akan pernah menikah jika Tuhan tidak berkehendak. Sebaliknya, semua orang bisa saja tidak mendukung dan berusaha sekuat tenaga untuk membuat mereka batal menikah, tetapi mereka akan tetap menikah jika Tuhan sudah berkehendak.

Hidup manusia ada ditangan Tuhan dan kita tak pernah mengetahui kearah mana Tuhan mengarahkan langkah kaki kita (Amsal 16:9 “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”).

Tentu saja, kekuatan mereka untuk tetap bertahan pada pendapatnya adalah kekuatan yang diberikan Tuhan didalam hati mereka. Dan orang-orang yang mendukung mereka adalah orang-orang yang hatinya diberikan beban oleh Tuhan untuk senantiasa memberikan semangat bagi mereka berdua. Didalam tujuan hubungan mereka, sebenarnya ada tujuan Tuhan untuk memberkati banyak orang disekitar mereka.

Dan perlu diketahui bahwa sebenarnya pernikahan mereka pun bukanlah akhir dari perjuangan mereka, tetapi justru menjadi awal perjalanan hidup mereka.

Sebagaimana jembatan dibangun untuk mempersatukan wilayah yang terpisahkan oleh jurang dan selamanya jembatan itu harus tetap berdiri agar tidak ada lagi wilayah yang terpisahkan, demikian pula pernikahan mereka itu Tuhan ijinkan terjadi untuk menjadi sebuah jawaban yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, baik bagi pribadi mereka sendiri mau pun bagi orang lain.

Walau pun banyak orang tampak tersenyum dan menerima pernikahan mereka, tetapi masih akan ada banyak orang yang hendak membuktikan apakah pernikahan mereka akan kokoh berdiri atau akan hancur?

Pro dan kontra akan selalu ada didalam kehidupan ini, apa pun persoalannya. Kita tidak akan pernah bisa memaksakan pendapat kita kepada orang lain dan kita takkan pernah bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan atau hendak katakan.
Tetapi selama kita meletakkan Tuhan sebagai pimpinan tertinggi atas perjalanan hidup kita, maka kita akan aman dalam perlindunganNYA.

Dalam suatu akhir perjalanan, akan selalu ada awal untuk perjalanan, entah kita harus mengulangi perjalanan yang pernah kita lewati, atau perjalanan yang berbeda dengan tingkat yang berbeda.

Tetapi yang pasti, didalam setiap perjalanan kita harus ada penyertaan Tuhan!

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s