Memaksakan Kehendak = Luka


Seringkali orang berkata bahwa atasan itu berkuasa, sehingga apa pun persoalannya, selama menjadi bawahan, walau pun benar, tetap saja akan menjadi seseorang yang bersalah. Sebenarnya yang menjadi masalah itu bukanlah posisi atasan dan bawahannya, melainkan oleh karena atasan selalu memaksakan kehendaknya, akibatnya bawahan akan selalu merasa terluka oleh sikap atasannya, akibatnya bawahan merasa dirinya itu adalah seorang bawahan yang tidak mungkin dapat menandingi kuasa yang dimiliki oleh atasannya.
Seringkali orang berkata bahwa orang tua akan selalu menang (tidak bisa dibantah) dari anak-anaknya. Ada orang tua yang merasa tidak se-level dengan anaknya atau ada juga orang tua yang berpikir bahwa anaknya tidak berpengalaman seperti dirinya. Jadi apa pun yang dikatakan orang tua harus ditaati, sedangkan pada posisi anak, jika dia tidak taat pada orang tuanya maka kesulitan pasti menantinya didepan. Sebenarnya dalam kasus ini bukanlah masalah menang atau kalah diantara orang tua dan anak, tetapi karena orang tua memaksakan kehendak dan anak tidak berdaya untuk melawan, akibatnya anak-anak sering menjadi korban yang terluka.
Seringkali orang berkata bahwa menantu dan mertua tidak akan pernah cocok, mertua itu sangat cerewet dan menantulah yang menjadi korbannya. Sebenarnya, dalam hal ini harus disadari bahwa menantu mempunyai tata cara (budaya) yang berbeda dengan mertuanya, sedangkan mertua seringkali memaksakan kehendaknya yang sesuai dengan tata cara (budaya) yang dimilikinya sehingga akibatnya menantunya terluka oleh sikap mertunya itu.
Seringkali orang berkata bahwa orang kaya akan selalu mempunyai kuasa karena hartanya dan orang miskin akan selalu mengalami kesusaan karena kemiskinannya. Sebenarnya masalah tidak terletak pada hartanya, tetapi pada pemikiran bahwa dirinya mampu membeli segala hal dengan harta yang dimilikinya, sehingga ketika seorang yang kaya itu menginginkan sesuatu, maka ia memaksakan kehendaknya, sehingga si miskin pun menjadi korban yang terluka untuk memenuhi keinginan si pemilik harta.
Demikian pula didalam suatu hubungan suami istri, kakak adik, seringkali terjadi perselisihan yang sulit menemukan jalan damai itu sebenarnya karena sang suami atau sang kakak yang suka memaksakan kehendaknya sehingga mengakibatkan sang istri atau adik terluka.
Pemaksaan kehendak pada cerita tersebut diatas tidak hanya terjadi dari diri sang pemimpin, atau orang tua, atau mertua, atau suami, atau kakak (usia yang lebih tua), atau si kaya, tetapi bisa juga terjadi sikap memaksakan kehendak dari seorang bawahan, anak, menantu, istri, atau adik (usia yang lebih muda). Intinya: siapa pun yang memaksakan kehendaknya, hanya akan menimbulkan luka dihati orang lain.
Sadarilah bahwa perbedaan atau jurang pemisah itu berawal dari sikap memaksakan kehendak salah satu pihak, yang kemudian berakibat melukai pihak yang lain. Sehingga setiap kali ada pemaksaan kehendak, pasti akan ada yang terluka. Luka itulah yang akhirnya memunculkan jurang.
Percuma saja jika kita mengatakan bahwa kita tidak membeda-bedakan suku bangsa atau golongan tertentu, tetapi jika kita tetap suka memaksakan budaya atau kebiasaan atau kehendak kita pada suku bangsa yang lain atau golongan tertentu, karena apa pun bentuknya, pemaksaan kehendak hanya akan mengakibatkan luka yang membuat jurang pemisah (perbedaan).
Cobalah masing-masing dari kita merenungkan kembali sikap kita terhadap orang lain, apakah selama ini kita suka memaksakan kehendak kita pada orang lain? Pernahkah kita berpikir mengapa dahulu kita pernah akrab dengannya, sekarang sepertinya ada jurang pemisah yang tak mampu membuat kita kembali akrab?
Sebagaimana ketika kita memaksa masuk anak kunci ke lubang kunci yang salah dan akan membuat anak kunci atau lubang kunci tersebut rusak, demikian pula pemaksaan kehendak hanya akan selalu melukai hati orang lain.
Kadangkala situasi dan kondisi tertentu memang dapat membuat kita harus bertindak memaksakan kehendak kita, tetapi dalam konteks ingin membuat sesuatu itu menjadi kebaikan. Dalam hal ini, walau pun akan ada yang terluka, tetapi nantinya diharapkan semuanya dapat pulih. Tetapi tentu saja syaratnya kita harus mengetahui yang sebenar-benarnya situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Selama kita tidak mengetahui situasi dan kondisi yang sebenarnya, maka sikap memaksakan kehendak akan selalu berakhir dengan luka dan hanya akan menggali jurang pemisah.
Tuhan yang Maha Tahu saja tidak pernah memaksakan kehendakNYA atas hidup kita. Kita diijinkanNYA memilih apa yang kita inginkan. Padahal Tuhan itu Maha Tahu semua kondisi kita. Lalu mengapa kita harus memaksakan kehendak dan keinginan kita kepada orang lain?
Kalau pun Tuhan memaksakan kehendakNYA atas hidup kita, kita pun mungkin akan terluka untuk awalnya, tetapi selanjutnya kita akan mengerti bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah didalam hidup kita. Dan dalam konteks ini, kita harus ingat bahwa Tuhan itu Maha Tahu apa yang terbaik untuk hidup kita dan DIA adalah pencipta hidup kita.
Tidak mudah untuk tidak memaksakan kehendak karena semua orang di bumi ini adalah seorang yang egois, tetapi ingatlah bahwa memaksakan kehendak hanya akan membuat luka. Selama kita bisa mengalah dan berdiam diri, atau mencoba bertoleransi, mengapa tidak kita lakukan? Setiap orang mempunyai mimpi dan keinginan, cobalah belajar untuk menghargai dengan tidak memaksakan kehendak kita didalam hidup orang lain itu.
Tuhan memberkati.

One thought on “Memaksakan Kehendak = Luka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s