Take It Out


Suatu hari saya melihat-lihat daftar nama teman-teman Twitter yang saya “follow” (ikuti) karena saya melihat ada beberapa daftar yang saya tidak mengenal namanya dan kalimat-kalimat yang ditulisnya (menurut saya) kurang baik atau kurang menarik untuk dibaca. Akhirnya beberapa daftar nama yang tidak saya kenal dan kurang menarik kalimat-kalimat yang ditulisnya itu saya hapus (unfollow atau tidak diikuti lagi).
Sewaktu saya melihat beberapa daftar nama yang saya follow (ikuti), saya cukup heran karena justru orang-orang yang saya follow dan menurut saya cukup berbobot itu justru tidak pernah saya baca kalimat-kalimat yang mereka tuliskan. Tetapi kemudian saya berpikir mungkin mereka memang tidak pernah menggunakan atau tidak aktif meng-update Twitter-nya.
Setelah saya selesai menghapus semua daftar teman yang tidak saya kenali dan yang isi kalimatnya kurang menarik menurut saya itu, maka keesokan harinya saya kembali melihat-lihat quote atau kutipan-kutipan yang bermunculan di Twitter saya. Herannya, orang-orang yang tadinya saya kira tidak terlalu aktif, ternyata sebenarnya mereka cukup aktif menuliskan kutipan dan kalimat-kalimatnya sangat berbobot dan saya senang sekali bisa membacanya, seperti ada sesuatu yang baru (refresh).
Ternyata dari pengalaman itu saya mengerti bahwa kalimat-kalimat berbobot itu muncul atau bisa terbaca ketika kalimat-kalimat yang kurang menarik itu dihapus atau dikeluarkan (take out).
Kemudian dari cerita tersebut diatas, saya juga dapat mengerti dan dapat membagikan kepada para pembaca bahwa hidup kita dapat menjadi lebih baik ketika kita mau meninggalkan kebiasaan atau perilaku yang buruk. Karakter kita yang baik akan bermunculan dan akan terlihat ketika kita mau meninggalkan sifat dan pikiran kita yang buruk. Pengaruh yang baik akan muncul ketika kita mau meninggalkan lingkungan atau teman yang memberikan pengaruh yang buruk bagi kita. Pikiran yang baik akan muncul ketika kita mau belajar untuk berpikir positif (meninggalkan pikiran yang negatif).
Ya…semua hal baik akan bermunculan ketika kita mau meninggalkan semua hal yang buruk.
Tetapi sayangnya, kita selalu menganggap bahwa hal yang buruk itu baik, oleh karenanya kita tidak akan pernah dapat melihat hal baik yang sebenarnya atau lebih parah lagi, kita dapat melihat hal baik itu sebagai hal yang buruk.
Seringkali kita merasa rendah diri dan merasa tidak bisa menjadi seorang yang sukses atau tidak ada teman yang menyukai kita lalu kita menjadi kesal dan sakit hati terhadap orang lain. Daripada kita menjadi kesal dan sakit hati terhadap orang lain, mengapa kita tidak berusaha meninggalkan kebiasaan atau sifat atau perilaku kita yang buruk?
Misalnya saja jika selama ini kita gagal menggunakan cara yang satu didalam usaha, mengapa kita tidak mencoba cara yang kedua atau ketiga, dan keempat? Sedangkan para pengusaha yang sukses selalu dapat belajar dari kegagalan mereka dan tidak mengulanginya lagi (meninggalkan) sampai akhirnya mereka menemukan kesuksesan itu. Bahkan dari kesuksesan mereka pun akan terus berusaha untuk mencari jalan kesuksesan yang lain.
Jika ada seseorang yang menegur kita dan mengatakan bahwa kita buruk, maka seringkali yang terjadi kita tersinggung dan marah, akibatnya tidak saling bicara dan membenci satu dengan yang lain. Daripada kita menjadi tersinggung dan marah, mengapa kita tidak mencoba untuk mengkoreksi diri dan mencari tahu hal buruk apa yang harus kita tinggalkan?
Misalnya saja kita dapat mencari tahu dengan siapa kita berteman selama ini dan pengaruh apa yang mereka berikan didalam hidup kita? Perlukah kita menjauhi mereka atau perlukah kita mencari komunitas yang baru yang berbeda dengan komunitas kita yang sekarang? Atau kita juga dapat mencari tahu sifat buruk apa dari kita yang harus kita singkirkan atau tidak dijadikan sebagai kebiasaan bagi kita agar kita dapat memunculkan sifat kita yang baik yang mungkin selama ini belum muncul.
Pada dasarnya manusia itu memiliki sifat gengsi. Tidak hanya kaum pria…kaum wanita pun mempunyai sifat gengsi. Dari berbagai sisi perbedaan yang ada akan menyebabkan seseorang itu sulit untuk memilih mengkoreksi diri serta menyingkirkan yang buruk dan menemukan yang baik, apalagi jika antara orang tua dan anak, orang yang berusia lebih tua dengan orang yang berusia lebih muda, tim senior dan tim yunior, atasan dengan bawahan, orang yang merasa strata mereka lebih tinggi dengan orang yang dianggap strata-nya lebih rendah.
Diperlukan ‘salib’ agar kita dapat meninggalkan dan menjauhkan hal yang buruk untuk menemukan hal yang baik didalam kehidupan ini. Dan itu sangatlah tidak mudah. Sehingga orang akan lebih memilih untuk tersinggung dan menjadi marah, daripada harus meminta maaf dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.
Satu hal yang perlu kita mengerti bahwa bangsa, negara, kota, dan generasi yang akan datang akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, sebenarnya tergantung dari apa yang kita lakukan saat ini (bukan hanya sekedar dari doa-doa kita).
Mohon maaf sebelumnya jika selama ini yang tertanam dibenak kita bahwa masa depan akan menjadi lebih baik atau lebih buruk itu tergantung hanya dari doa-doa kita.
Coba pikirkan: bagaimana anak-anak dapat menjadi seorang yang kreatif jika orang-orang yang lebih tua atau lebih senior masih suka mengatur mereka dan mengkritik kehidupan mereka? Bagaimana anak-anak dapat menjadi seorang yang berhasil jika orang-orang yang lebih tua atau lebih senior selalu beranggapan bahwa apa yang akan dilakukan oleh anak-anak itu pasti akan gagal dan mengucapkannya pada anak-anak itu?
Dan masih banyak hal buruk lainnya yang tanpa sadar sudah dilakukan oleh para orang tua (para senior, para pemimpin, dan semua orang yang menganggap dirinya ada di posisi lebih tinggi), dan dicontoh oleh orang-orang muda (secara usia lebih muda, atau bawahan, atau para yunior lainnya).
Orang tua seringkali berkata bahwa hidup ini adalah belajar, tetapi ketika anak-anaknya memberitahunya sesuatu, justru dia menjadi tersinggung dan merasa anaknya kurang ajar sehingga anaknya itu menjadi sakit hati dan kecewa. Mengapa orang tua itu tidak memilih untuk memberitahu anaknya bahwa cara mereka menyampaikan teguran itu salah sehingga anaknya pun mengerti kesalahan mereka dan tidak menjadi sakit hati dan kecewa?
Diperlukan kerendahan hati agar seseorang dapat meninggalkan hal yang buruk sampai akhirnya dapat menemukan hal yang baik. Dan diperlukan pilihan-pilihan yang bijaksana agar kita mendapatkan hal-hal yang baik, tentunya dalam hal ini diperlukan hikmat yang dari Tuhan agar kita tidak salah memilih.
Masa depan, pasti akan menjadi lebih baik karena perkembangan semakin pesat dan fasilitas sudah semakin banyak tersedia, tetapi orang akan menjadi semakin sulit untuk dapat saling menghormati dan menghargai seorang yang lain jika kita (seseorang yang ada sekarang ini) tidak mengerti bahwa harus ada “salib”, kerendahan hati, dan pilihan-pilihan yang benar untuk menarik keluar (take out) hal-hal yang buruk untuk menggantikan hal-hal yang baik didalam kehidupan kita.
Benar bahwa hidup ini adalah belajar, tetapi pembelajaran tidak harus selalu dari orang-orang yang setara dengan kita atau diatas kita, tetapi juga dari orang-orang yang berada dibawah kita.
Kalau kita ingin menjadi lebih baik, maka kita harus mengeluarkan segala hal yang buruk. Tidak ada orang yang sempurna. Tidak perlu kita menunjuk hidup orang lain, tetapi koreksilah diri sendiri terlebih dahulu sampai yang buruk itu keluar dan tergantikan yang baik (secara terus menerus).
Tuhan memberkati.

2 thoughts on “Take It Out

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s