Saya Sudah Berdoa Untukmu


Di sebuah kota, ada seorang yang sangat miskin, sebutlah namanya Pilo. Pilo adalah seorang anggota gereja kecil yang sangat setia. Walau pun Pilo tak pernah bercerita panjang lebar, semua anggota gereja tersebut mengetahui pergumulan Pilo, khususnya dalam hal keuangan.
Pilo hanya menjawab ketika orang lain bertanya mengenai keadaannya, tetapi tak diceritakan semua kisahnya. Pilo hanya menyampaikan semua keluh kesah dan menangis di hadapan Tuhan pada waktu kebaktian. Tetapi didepan semua orang Pilo selalu berusaha untuk tetap tersenyum.
Suatu hari, seperti biasa Pilo berjalan menyusuri kota dan menawarkan dirinya untuk bekerja di setiap tempat yang dilaluinya. Tiba-tiba ada seorang pemilik toko yang terkesan dengan Pilo dan menawarkan posisi untuk Pilo. Tentu saja dengan senang hati Pilo menerima tawaran tersebut.
Hari demi hari dilalui Pilo, ditekuninya pekerjaan yang ada dihadapannya itu. Sampai suatu ketika pemilik toko ini berniat untuk membuka cabang baru untuk memperluas usahanya itu dan Pilo ditunjuk sebagai orang kepercayaan untuk mengelola di tempat yang baru tersebut. Mendengar keputusan itu, hati Pilo menjadi sangat senang dan dia bersaksi di gerejanya, menceritakan kebesaran dan keajaiban Tuhan yang terjadi didalam hidupnya.
Ketika tempat pekerjaannya yang baru itu mulai dibuka, Pilo hendak mengadakan acara syukuran secara sederhana, mengingat dana yang dimilikinya masih cukup terbatas. Sehingga untuk acara syukuran atas pembukaan tempat kerjanya yang baru itu Pilo hanya mengajak pendeta dan teman-teman yang dirasanya benar-benar dekat dengannya serta selalu mendukungnya selama ini.
Diketahuilah niat Pilo untuk mengadakan syukuran itu oleh seorang ibu yang ada didalam gereja tersebut. Ibu itu memang sering menyapa Pilo, tetapi Pilo sendiri tidak pernah bercerita panjang lebar serta merasa dekat dengan ibu itu. Tetapi sang ibu tiba-tiba bisa meminta Pilo untuk mengundangnya diacara syukuran tempat kerjanya yang baru itu.
Pilo merasa bingung dengan permintaan sang ibu itu, di hati kecilnya ingin sekali mengajak sang ibu, tetapi disisi lain Pilo tidak bisa menambah orang lainnya lagi karena semua sudah dipersiapkan dan disediakannya. Ada begitu banyak pertimbangan yang dimiliki oleh Pilo yang tidak perlu untuk diceritakannya, sehingga akhirnya Pilo berusaha mengatakan dengan sehalus mungkin kepada sang ibu bahwa sudah ada yang mewakilkan kehadirannya.
Sang ibu pun merasa tersinggung dan berkata pada Pilo bahwa selama ini dia sudah berdoa untuk Pilo tetapi Pilo melupakannya. Perkataan sang ibu itu membuat Pilo sangat terkejut karena Pilo tidak pernah bermaksud untuk melupakan semua orang yang telah berdoa untuknya dan Pilo mempunyai keterbatasan serta berbagai pertimbangan yang tidak seharusnya orang lain merasa kecewa dan tersinggung karena keputusannya itu.
Seringkali kita merasa kecewa dengan perlakuan orang lain dan merasa orang lain telah melupakan kita, padahal kita beranggapan bahwa kita sudah ‘berjasa’ terhadapnya. Tetapi sebaliknya, orang lain tidak pernah merasa sudah melupakan kita dan juga tidak merasa bahwa kita telah ‘berjasa’ untuknya.
Lalu siapa yang salah dalam hal ini?
Firman Tuhan mengajarkan pada kita untuk berdoa di ‘tempat yang tersembunyi’, secara sederhana kita mengerti bahwa kita tidak perlu menunjukkan atau menyatakan kepada orang lain bahwa kita sudah atau sedang berdoa untuk seseorang atau untuk diri kita sendiri. Karena sebenarnya berdoa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Tidak perlu kita membanggakan diri kita, karena belum tentu Tuhan bangga dengan perbuatan kita (yang manakah yang lebih penting: pengakuan Tuhan atau manusia?)
Selain itu, Firman Tuhan juga mengajarkan agar kita melakukan segala sesuatu dengan hati yang tulus seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, yang artinya jika kita benar terbeban untuk mendoakan seseorang misalnya, maka jangan pernah kita mengharapkan seseorang itu akan mengingat kita seumur hidupnya, karena kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dialami oleh seseorang itu dan apakah benar doa kita yang sudah didengarkan oleh Tuhan? (yakinkah kita bahwa seseorang itu berhasil karena Tuhan mendengarkan doa kita bukan karena doa orang lain yang jauh lebih tulus hatinya?).
Tidak selamanya kita selalu dikecewakan oleh orang lain. Suatu saat kita pasti akan mengecewakan orang lain. Tidak selamanya kita bisa menyenangkan orang lain. Suatu saat keterbatasan kita akan membuat orang lain merasa kecewa. Dan kita harus mengerti bahwa tidak selamanya orang lain itu perlu disenangkan.
Jika ada seseorang yang merasa hidupnya telah berjasa untuk orang lain, maka sebenarnya dia sudah tidak mengakui bahwa Tuhan-lah yang berkuasa untuk menjawab doa dan memberikan apa yang orang lain itu perlukan.
Sadarlah bahwa kita ini hanya ‘alat’ yang Tuhan pakai untuk memberkati orang lain. Jika kita merasa diri kita telah berjasa, maka sebenarnya pada saat itu kita telah memberikan kesempatan orang lain untuk menggantikan posisi kita dihadapan Tuhan untuk menjadi alatNYA dan kita pun telah menyingkirkan diri kita sendiri dengan ‘kesombongan’ kita.
Jadi jangan pernah kita merasa perlu untuk selalu menyenangkan hati orang lain dan sebaliknya, jangan pernah kita merasa diri kita paling berjasa atas keberhasilan orang lain! Kita semua memiliki keterbatasan yang mungkin tak dapat dijelaskan ke semua orang dan semua orang juga tak selalu bisa mengerti kita. Walau pun tak mengerti, kadangkala kita perlu untuk mempunyai pengertian untuk keadaan orang lain.
Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s