Bersekutu Tapi Jangan Emosi!


Cerita dari dua keluarga yang memutuskan untuk bersekutu (berdoa) bersama setiap hari, tetapi ternyata berakhir dengan kekecewaan:
Cerita dari keluarga yang pertama. Pada waktu beribadah, setiap kali sang ayah selalu membacakan Firman Tuhan yang berisikan sindiran terhadap istri atau anak-anaknya, misalnya sang suami merasa istrinya sangat cerewet hari itu, maka sang suami pun membacakan ayat Firman Tuhan didalam Amsal 9:13 “perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu”.
Sang istri atau anak-anak yang mengerti perbuatan suami atau ayahnya itu akhirnya merasa kecewa dan tidak bisa fokus dengan ibadah yang sedang mereka lakukan bersama. Akibatnya lambat laun sang istri atau anak-anaknya pun tidak lagi bersemangat untuk melakukan ibadah bersama suami atau ayahnya itu, karena bagi sang istri atau anak-anak, suami atau ayahnya itu pun juga sering berbuat salah, walau pun ada tertulis didalam Firman Tuhan bahwa sebagai suami atau ayah dia tidak boleh berbuat demikian, tetapi ketika sang suami atau ayah ditegur, dia tidak mau mendengarkan. Sedangkan sang suami atau ayah tak henti-hentinya suka menyinggung. Sehingga akhirnya istri dan anak-anaknya pun menghindari waktu untuk beribadah bersama.
Cerita dari keluarga yang kedua. Saat anak-anak melakukan kesalahan (menurut orang tuanya), maka sang ayah atau sang ibu pun kemudian menyindir anak-anaknya melalui doa yang dipanjatkannya, misalnya saja “Tuhan, biarlah kami tidak lagi suka membantah orang tua sebagai otoritas kami dan biarlah kami bisa bertobat dari segala kesalahan kami”.
Anak-anak yang sudah mengerti akan masalahnya dan mereka pun sebenarnya tidak merasa bersalah karena mempunyai alasan untuk melakukan perbantahan dengan orang tuanya, mendengar ayah atau ibu-nya berdoa seperti itu, hati mereka menjadi jengkel dan kecewa. Akibatnya anak-anaknya pun malas beribadah, daripada harus mendengarkan doa yang demikian.
Adakah diantara pembaca yang pernah melakukan hal yang serupa dengan cerita tersebut diatas? Mungkin, tanpa kita sadari, pernahkah kita menemukan suatu ayat yang baik untuk menyindir saudara seiman agar dia bertobat dari kesalahannya, lalu kita membacakan untuknya secara pribadi atau didalam suatu persekutuan misalnya? Atau pernahkah kita sebagai orang tua atau sebagai pemimpin rohani ‘membantu’ anak atau rekan kita berdoa, untuk menyatakan kesalahannya dihadapan Tuhan dan memintakan ampun dihadapan Tuhan, padahal sebenarnya sang empunya kesalahan itu sendiri belum tentu merasa bersalah dan tidak merasa perlu didoakan demikian?
Jika pernah, tahukah pembaca bahwa hal itu sangat menyakitkan bagi orang lain yang sebagai ‘sasaran’ kita itu?
Perjalanan hidup beserta kesulitan yang saya alami membuat saya mengerti bahwa kita tidak perlu menegur orang lain dengan cara memberikan ayat Firman Tuhan yang kita dapatkan. Atau mungkin ketika kita mendengarkan kotbah lalu kita merasa kotbah tersebut ‘pas’ untuk seseorang, lalu kita menyenggol seseorang itu dan berkata ‘sstttt…kotbah itu cocok untukmu’.
Karena jika benar Tuhan hendak menegur seseorang, maka dengan caraNYA akan membuat seseorang itu tertegur dan sadar. Tetapi jika Tuhan tidak berkehendak untuk menegur, maka sekali pun kita menegurnya dengan memberikannya ayat sebanyak apa pun, maka orang itu tidak akan pernah bisa berubah dan sebaliknya, justru dia hanya akan semakin kecewa dan malas beribadah atau berdoa.
Lagipula, seseorang itu menjengkelkan dan bersalah menurut kita, belum tentu menjengkelkan dan bersalah menurut sudut pandang Tuhan. Siapa yang tahu kalau seseorang itu dihadirkan justru untuk membuat diri kita sendiri menjadi lebih baik? Siapa tahu justru ayat yang kita gunakan untuk menegur orang lain itu sebenarnya lebih pantas untuk diri kita sendiri?
Dan semua orang, apalagi jika mereka sudah cukup mengerti bahwa dirinya bersalah dan bisa berdoa, maka mereka tidak perlu bantuan siapa pun untuk meminta maaf pada Tuhan didalam doa-doanya. Sangatlah tidak perlu orang tua (apalagi dengan emosinya yang membara akibat ulah anak-anaknya yang membuatnya jengkel) memanjatkan doa meminta Tuhan untuk menjamah anak-anaknya dan memintakan ampun untuk anak-anaknya kepada Tuhan atas kesalahan mereka.
Orang tua harus tahu bahwa anak-anak belum tentu bersalah dimata Tuhan walau pun mereka telah membuat jengkel orang tuanya dan telah berbuat sesuatu yng tidak pantas menurut orang tua. Bisa saja orang tua menjadi jengkel ketika anak-anaknya melakukan kesalahan menurutnya, karena orang tua itu mempunyai ego dan harga diri yang tidak bisa menerima perilaku anak-anaknya. Sehingga sikap anak-anak yang benar sekali pun akan menjadi salah dimata orang tuanya.
Sekali pun anak-anak benar melakukan kesalahan, maka orang tua tetap tidak perlu membantu anak-anaknya untuk berdoa mengakui kesalahan dan memohon ampun dihadapan Tuhan, apalagi jika anak-anaknya sudah dewasa.
Justru orang tua yang berdoa dengan emosi (kemarahan) yang membara itu doanya belum tentu didengar Tuhan. Lalu untuk apa memanjatkan doa hanya untuk menyakiti hati anak dan doa itu pun tidak didengarkan oleh Tuhan?
Seringkali kita ingin orang lain menghormati dan menghargai serta mengikuti apa yang kita mau (orang tua menghendaki anak-anak taat padanya), tetapi kita salah didalam memperlakukan orang lain. Kita tidak bisa menghormati dan menghargai serta mengerti (taat) pada apa yang orang lain kehendaki, lalu bagaimana orang lain dapat menghormati dan menghargai serta mengerti (dan taat) pada kehendak kita?
Seringkali kita ingin orang lain bertobat, atau didalam keluarga kita ingin ada ibadah atau doa bersama, tetapi kita selalu menunjukkan kesalahan orang lain dan menegur dengan cara-cara kita sendiri yang membuat orang lain kecewa, lalu bagaimana orang lain bisa menikmati ibadah atau doa itu?
Doa adalah komunikasi masing-masing pribadi dengan Tuhan. Sedangkan teguran itu dapat dilakukan dengan mengkomunikasikan masalah dengan orang yang bersangkutan. Belajarlah membedakan antara teguran dan doa atau ibadah itu sendiri.
Semua orang dapat berbuat kesalahan dan perlu mendapatkan teguran. Jika kita ingin menegur, maka kita dapat menegurnya langsung. Tetapi ketika kita sedang melakukan ibadah atau berdoa, maka berkomunikasilah ‘yang benar’ dengan Tuhan, dalam hal ini jangan sampai didalam ibadah atau doa kita hanya berisikan untuk menyinggung atau menegur orang lain sampai membuat orang lain kecewa dan tidak bergairah untuk melakukan ibadah atau doa bersama lagi.
Cobalah untuk menghentikan kebiasaan untuk menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain dengan Firman Tuhan atau dengan kotbah yang sedang disampaikan, dan hentikanlah doa yang dipanjatkan karena emosi pribadi terhadap seseorang!
Tuhan mempunyai segala cara untuk menegur seseorang jika memang seseorang itu perlu mendapatkan teguran. Tuhan juga selalu melihat hati kita saat berdoa, serta akan selalu berurusan dengan masing-masing pribadi. Belajarlah untuk tidak terburu-buru menunjuk pada kesalahan orang lain, tetapi cobalah untuk selalu mengkoreksi diri dari segala hal yang terjadi.
Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s