Budayamu, Budayaku


Seorang kakak dan seorang adik sedang melakukan suatu perjalanan keluar pulau. Mereka memutuskan untuk bepergian berdua untuk berlibur bersama. Setelah turun dari pesawat, mereka menuju tempat penginapan dengan menggunakan kendaraan umum yang ada di pulau tersebut.

Kendaraan umum yang mereka tumpangi itu memasang tape sangat kencang suaranya. Mereka melihat kendaraan umum yang lain pun ternyata juga sama-sama memasang tape yang sangat kencang suaranya.

Sang adik pun mulai protes dan berkata pada supir kendaraan umum yang mereka tumpangi itu “pak, tolong dikecilkan donk suara tape nya”. Namun sang kakak menegur adiknya dengan berkata “dik, kita berada dipulau yang mempunyai tata cara serta budaya yang berbeda dengan daerah tempat kita tinggal sebelumnya, jadi jangan memohon kepada pak supir seperti itu jika kita tidak ingin mendapat masalah”. Sang adik pun mengerti dan taat pada apa yang dikatakan oleh kakaknya.

Seringkali kita bepergian ke suatu wilayah atau daerah yang lain, tetapi kita tidak dapat mengikuti budaya atau tata cara yang ada di wilayah atau daerah lain. Akibatnya kita membuat keonaran dan mengalami masalah yang tidak diinginkan. Padahal, jika kita ingin menikmati liburan di wilayah atau daerah yang lain dari tempat asal kita, maka kita harus mengikuti tata cara yang ada sehingga kita dapat lebih menikmati liburan itu.

Dalam pernikahan, khususnya pada pernikahan campur, misalnya saja pada perbedaan suku atau kepercayaan, kita juga tidak boleh memaksakan budaya, kebiasaan, atau kepercayaan kita pada pasangan. Mungkin kita dan pasangan tidak pernah memaksakan budaya, kebiasaan, atau kepercayaan kita pada pasangan, tetapi keluarga besar seringkali yang masih memaksakan budaya, kebiasaan, atau kepercayaannya pada menantu atau keluarga menantu. Akibatnya terjadi banyak persoalan didalamnya.

Jika keluarga sudah merestui dan mendukung pernikahan anak dan menantunya itu, maka sudah seharusnya keluarga belajar untuk dapat menghargai pernikahan dan budaya serta kebiasaan atau tata cara yang hendak dibentuk oleh anak dan menantunya itu.

Ada sebuah cerita, dua pribadi yang memutuskan untuk menikah. Didalam acara pernikahan itu, mereka membuat semuanya itu memiliki arti bagi mereka (bermakna) dan sesuai dengan cita-cita mereka pada waktu pacaran, ‘hendak menjadi seperti apa acara pernikahan mereka nantinya’. Mereka berusaha untuk tidak melibatkan budaya atau tata cara yang ada didalam keluarga mereka masing-masing. Jadi mereka membuat acara pernikahan itu menjadi sangat sederhana tetapi bermakna bagi mereka berdua.

Tetapi yang terjadi, orang tua merasa bahwa pernikahan anaknya itu tidak sesuai dengan kebiasaan orang dari daerahnya. Misalnya saja kebiasaan didaerah mereka setiap kali ada yang menikah, mereka harus membawa pulang banyak souvenir sebagai tanda atau ‘kebanggaan’ bahwa mereka baru saja datang menghadiri pesta pernikahan saudara. Sehingga dibuatnyalah souvenir sendiri dengan model yang tidak sama, tanpa persetujuan anaknya, untuk dibawakan pulang saudaranya.

Tidak cukup sampai disitu, semua acara yang telah dikemas beserta contact person yang dapat dihubungi selama acara berlangsung, diganti dengan contact person saudara yang telah ditunjuknya tanpa persetujuan anaknya. Dan berbagai hal lainnya telah diperbuat oleh orang tua ini sampai membuat anak-anak yang akan menikah itu sangat jengkel dan kecewa karena usaha mereka untuk membuat acara yang tak mungkin terulang itu menjadi kacau balau.

Perilaku orang tua itu mengecewakan karena sikap orang tua tidak menghargai acara yang dikemas oleh kedua anak yang hendak menikah, didalam hal ini anak-anak kecewa karena orang tua masih memaksakan ‘budaya’nya untuk anak-anaknya, padahal pernikahan itu terjadi untuk mempersatukan berbagai perbedaan yang ada.

Kebiasaan semua keluarga akan selalu berbeda dan kebiasaan setiap wilayah tempat tinggal akan selalu berbeda. Baik pernikahan mau pun didalam hubungan apa pun (bisnis atau pertemanan) akan selalu mempersatukan semua perbedaan yang ada. Mulailah dari diri sendiri untuk belajar menghormati dan menghargai kebiasaan serta tata cara orang lain jika kita ingin orang lain dapat menghormati dan menghargai kebiasaan serta tata cara yang kita miliki.

Jembatan itu ada untuk mempersatukan wilayah yang satu dan wilayah yang lain. Batas-batas wilayah itu ada untuk membatasi wilayah lain untuk masuk atau membaur dengan wilayah yang ada.
Jika kita sudah naik diatas jembatan untuk menuju wilayah yang baru, maka kita harus mau meninggalkan wilayah yang lama beserta dengan segala aturan yang ada dan membaur dengan wilayah dan aturan-aturan yang baru. Sebaliknya jika kita tidak ingin menjadi satu dengan wilayah yang lain, maka pasanglah batasan-batasan pada wilayah kita, dan jangan kita menyentuh wilayah yang ada diluar wilayah kita, serta larang orang lain untuk masuk pada wilayah kita agar tidak menimbulkan masalah!

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s