Jangan Melihat Ke Belakang!


Perjalanan dari Surabaya ke Bali dengan mengendarai mobil cukup melelahkan karena membutuhkan waktu kurang lebih 14 (empat belas) jam. Saya melakukan perjalanan ini bersama suami dan adik dari suami saya, karena suami saya mendapat tugas untuk bekerja di Pulau Dewata. Jadi setelah menikah, saya pun harus turut serta dengannya.

Selama perjalanan, kami berhenti sebanyak empat kali. Pertama karena harus mengganti ban mobil, yang kedua untuk bergantian setir antara suami saya dan adiknya, yang ketiga sewaktu mobil masuk di kapal penyeberangan menuju pulau Bali, dan yang keempat pada waktu makan siang di Bali. Selebihnya mobil tak pernah berhenti.

Sebelum kami memutuskan untuk makan di suatu tempat tertentu, sebenarnya kami telah melewati beberapa restaurant yang menurut kami tempat tersebut ‘tampaknya’ cukup baik untuk singgah sejenak. Tetapi karena kami terlambat untuk memutuskan dan kendaraan kami sudah melewati restaurant yang kami maksud itu, maka kami pun terus melanjutkan perjalanan kami dan mencari restaurant yang lainnya lagi.

Suatu kali, sempat kami berpikir hendak berbalik arah untuk menuju ke sebuah restaurant, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk terus melaju dan mencari restaurant yang lain, walau pun perut terasa cukup lapar karena kami tidak segera memutuskan untuk berhenti di sebuah restaurant.

Ketika kami memutuskan untuk terus melaju dan enggan untuk berbalik arah mengingat kami ingin segera sampai di tempat tinggal kami yang baru, saya berpikir bahwa didalam perjalanan kehidupan ini pun seringkali kita merasa enggan kalau harus mengulangi hal yang sama, khususnya jika kita harus menyelesaikan masalah (sesuatu yang tidak enak) yang sama terus menerut.

Saya sempat berandai-andai juga, misalnya saja saya mempunyai pilihan untuk mengulangi kembali kehidupan saya, maka mungkin saya lebih memilih untuk bersyukur dengan keadaan yang ada sekarang dan tidak perlu mengulanginya lagi, mengingat kedepan masih banyak yang harus diselesaikan, walau pun ada hal-hal yang sebenarnya saya sesali dan ingin saya perbaiki.

Perjalanan kehidupan ini ‘cukup melelahkan’ dan ada begitu banyak hal yang sebaiknya tidak perlu diulangi lagi. Walau pun realitanya ketika kita tidak lulus ujian atau tidak naik kelas, maka kita harus mengulanginya sampai lulus. Mungkin juga ada hal-hal atau masalah yang harus diulang (mungkin menurut Tuhan) untuk perbaikan karakter kita.

Mengapa kita tidak perlu mengulangi perjalanan kehidupan kita?

Yang pertama, karena semakin kita mengulang kejadian yang sudah lalu atau berusaha memperbaiki kehidupan kita tanpa bergerak maju, maka sebenarnya kita tidak akan pernah melihat adanya perubahan atau dampak dari apa yang sudah terjadi. Bahkan mungkin kita tidak akan pernah melihat mujizat.

Yang kedua, kita tidak akan pernah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi sulit untuk bersyukur, karena kita hanya fokus pada ‘perbaikan’ dari suatu kejadian (yang belum tentu perlu diperbaiki) dan dengan melakukan perbaikan secara terus menerus, maka sama artinya dengan kita tidak dapat puas dengan apa yang sudah kita lalui atau dapatkan.

Yang ketiga, ketika kita terus menerus berada di area kehidupan yang sama, maka kita akan menjadi lelah dan akhirnya ketika perjalanan belum berakhir, kita sudah mengakhiri dengan cara kita (menyerah, bahkan sebelum berperang).

Yang keempat, perjalanan akan menjadi semakin jauh dan lama. Padahal belum tentu perjalanan itu benar-benar jauh, bisa saja sebenarnya kita sedang berada di akhir perjalanan.

Yang kelima, kita akan menjadi orang yang tertinggal. Ketika orang lain sudah mengalami akhir perjalanan, melihat dan mengalami mujizat, serta mengalami kemenangan, kita mungkin masih sedang memulai dan berjuang, bahkan mungkin sudah hampir menyerah.

Itulah sebabnya ada pepatah mengatakan “time is money” yang artinya waktu itu sangat berharga. Perjalanan hidup ini (untungnya) tidak akan pernah dapat terulang, tetapi (untungnya) kita masih dapat memperbaikinya. Sehingga kalau mungkin kita telah berbuat kesalahan, maka segera kita memperbaikinya.

Tetapi karena waktu ini sangat berharga, maka terus saja kita melangkah maju dan pergunakan waktu dengan seefektif mungkin “tanpa kesalahan”, yang artinya berpikirlah dengan menggunakan pikiran dan hati yang bermotivasi baik. Lakukan segala sesuatu dengan tata cara yang lebih baik, bila perlu tinggalkan tata cara yang lama, buatlah tata cara yang baru yang lebih baik. Berjalanlah bersama Tuhan dan miliki iman yang lebih baik.

Firman Tuhan berkata bahwa didepan, kemenangan bagi anak-anak Tuhan sudah menanti. Ada saatnya kita menoleh ke belakang untuk mensyukuri apa yang sudah terjadi dan belajar menjadi lebih baik. Tetapi setiap saat kita harus melangkah maju untuk menyelesaikan segala sesuatunya sampai akhir perjalanan kehidupan kita.

Penyesalan itu pasti ada karena kesalahan takkan pernah lepas dari kehidupan manusia, tetapi langkah kedepan harus disertai dengan perbaikan. Maju terus bersama Tuhan!

Tuhan memberkati.

One thought on “Jangan Melihat Ke Belakang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s