Menilai Seseorang


Ketika sang ibu marah pada anaknya, biasanya anak kemudian menilai ibunya sebagai seorang yang jahat. Ketika sang ayah membela dan menuruti apa yang dikehendaki oleh anaknya, maka anak itu tentu akan menganggap ayahnya seorang yang baik.

Sebaliknya, ketika sang ayah akhirnya memarahi anaknya karena keadaan ayah yang tak dipahami oleh anaknya itu maka sang anak akan menjadi terkejut karena kemarahan sang ayah dan menjadi sakit hati, serta menganggap sang ayah jauh lebih buruk daripada ibunya.

Ketika seseorang itu bersikap kasar dan marah didepan umum, maka semua orang berpendapat bahwa seseorang itu buruk, lalu menjauhinya. Ketika seseorang itu berkata-kata dengan lemah lembut, maka semua orang berpendapat bahwa seseorang itu sangat baik.

Sebaliknya, ketika seseorang yang bersikap kasar itu bersikap baik, maka semua orang tetap berpikir negatif tentangnya dan ketika seseorang yang baik itu bersikap buruk maka orang tetap berpikir positif atau bisa menjadi sangat tidak menyukai seseorang itu.

Ketika seseorang ketahuan mencuri, maka orang lain berpendapat bahwa seseorang itu tidak layak untuk dipercayai. Dan ketika seseorang dapat menemukan kecurangan, maka orang lain berpendapat bahwa seseorang itu adalah pahlawan.

Sebaliknya, ketika seorang yang dianggap pencuri itu menemukan kecurangan, maka orang lain akan berkata bahwa dia sedang mencari muka, dan ketika seseorang yang tadinya dianggap pahlawan itu ditemukan melakukan kecurangan, maka orang lain akan menganggap bahwa dia sedang mencari kecurangan yang lain atau bisa juga orang lain selama-lamanya tidak akan mempercayainya lagi.

Itulah penilaian seseorang terhadap seseorang yang lain. Apa yang dilihat oleh mata akan menjadi sebuah penilaian tetap, walau pun belum tentu seseorang itu benar-benar ‘layak’ untuk dinilai baik atau buruk seperti yang sudah terlihat oleh kasat mata. Anak-anak Tuhan justru paling sering menganggap dirinya yang benar dan orang lain yang salah. Itulah sebabnya, Tuhan memerintahkan supaya kita tidak saling menghakimi.

Didalam Firman Tuhan ada banyak kisah yang menceritakan bagaimana Tuhan tidak segera menyatakan pendapatnya tentang seseorang berdasarkan apa yang Dia lihat, tetapi Tuhan senantiasa mempunyai pendapat tentang seseorang berdasar hatiNYA yang penuh kasih.

Seperti kisah seorang wanita yang sering berganti pria, sehingga dia tidak bisa menjawab siapa suaminya ketika Tuhan bertanya padanya. Jelas, Tuhan tahu bahwa wanita ini sudah sering berganti pria. Tetapi Tuhan tidak berpendapat dan ‘men-cap’ wanita itu adalah wanita yang tidak baik dan juga tidak menjauhinya. Tuhan hanya berpesan pada wanita itu dengan penuh kasih agar dia bertobat dan tidak mengulangi dosanya itu lagi.

Kisah lainnya adalah kisah Zakheus yang suka memeras orang lain yang meminjam uangnya dengan memberikan bunga yang sangat tinggi. Semua orang tidak menyukai dan menjauhi Zakheus karena melihat perilaku Zakheus yang kejam itu. Tetapi Tuhan mendatangi rumahnya dan makan bersama Zakheus. Tindakan Tuhan itu membuat Zakheus bertobat. Zakheus tidak hanya berubah tetapi juga mengembalikan semua laba yang diterimanya dari hasil memeras banyak orang itu.

Tidak mudah untuk memiliki hati seperti Tuhan Yesus karena ada begitu banyak orang yang menjengkelkan, namun ketika kita berusaha untuk menerima dan mengasihinya maka orang itu justru mengganggu kita dan membuat kita marah.

Kita tidak dapat mendekati orang yang menurut kita menjengkelkan dan jahat karena itu sama artinya dengan mencari masalah untuk diri sendiri. Tetapi kita dapat menata hati dan pikiran kita tentang seseorang itu. Jangan sampai kita menilai buruk seseorang hanya karena seseorang itu telah berbuat hal buruk didepan mata kita!

Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami oleh seseorang itu sampai seseorang itu bersikap dan berkata dengan sangat buruk terhadap kita atau orang lain didepan mata kita. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ada didalam hati dan pikiran seseorang itu walau pun dia telah berlaku buruk didepan kita. Dan terlebih lagi, belum tentu kesalahan ada pada orang lain, mungkin saja kita secara tidak sadar pernah berbuat salah, sehingga seseorang itu dikecewakan.

Kadangkala perilaku buruk kita pun sering mendapatkan penilaian yang buruk dari orang lain. Pastinya, kita tidak suka jika orang berpendapat buruk tentang kita kalau niat hati kita sebenarnya tidak buruk. Jadi mengapa kita segera memberikan pendapat yang buruk tentang seseorang karena perilakunya yang buruk?

Tidak adil jika kita menilai seseorang itu buruk hanya pada saat dia sedang marah atau mengecewakan kita. Bahkan seseorang yang buruk dapat berubah menjadi baik ketika ada seseorang yang baik dengannya.

Jadi ketika kita hendak menilai seseorang itu dengan penilaian yang buruk oleh karena perilakunya yang buruk, maka kita coba merenungkan kembali apakah diri kita terlalu baik untuk memberikan penilaian buruk terhadap orang lain tersebut? Sebenarnya, kita sangat tidak layak menilai seseorang, karena Tuhan yang menilai seseorang itu terlebih dahulu dari hatinya.

Tuhan memberkati.

One thought on “Menilai Seseorang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s