Berdoalah Dengan Hati Yang Tulus


II Tawarikh 6:12-42 berisikan tentang doa-doa raja Salomo kepada Tuhan untuk bangsa Israel (ayat 21 berbunyi “dan dengarkanlah permohonan hambaMU dan umatMU Israel yang mereka panjatkan di tempat ini…”).

Ketika saya membaca ayat tersebut, saya merenungkan dan membayangkan jika seseorang harus berdoa untuk orang lain, maka seseorang itu harus mempunyai hati yang tulus untuk orang tersebut.

Bisa kita bayangkan, jika kita berdoa untuk seseorang yang kita tidak sukai dengan doa yang berbunyi “Tuhan, berkatilah musuhku, berilah apa pun yang dia kehendaki dan butuhkan”, maka kita pasti berpikir “jangan-jangan musuhku berdoa untuk kegagalanku dan jika Tuhan menjawabnya, maka hancurlah hidupku”. Tentunya lebih baik kita tidak mendoakannya daripada kita harus mendoakannya dan doanya ternyata mencelakakan kita.

Atau ketika kita mendoakan seseorang lalu seseorang itu menjadi sukses, sedangkan hidup kita masih susah atau semakin susah, maka kita akan merasa lebih baik berdoa untuk diri sendiri yang sedang kesusahan daripada mendoakan orang lain yang sudah enak hidupnya.

Tetapi Raja Salomo mengajarkan pada kita untuk berdoa bagi orang lain dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Sebagai raja, tentunya ada orang yang tidak menyukainya, walau pun Firman Tuhan tidak menceritakan mengenai hal itu. Tetapi raja Salomo tidak memikirkan hal itu, dia bahkan meminta Tuhan untuk mendengarkan doa-doa mereka (ayat 21 “…dan mengampuni”).

Bukan berarti raja Salomo yang sudah memiliki segalanya, tidak mempunyai masalah. Tetapi raja Salomo tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri tetapi orang lain. Jika kita baca kembali doa raja Salomo, maka kita akan mendapati beberapa ayat yang berisikan doa-doanya bagi rakyatnya (sampai ayat 41).

Jaman sekarang ini ada begitu banyak orang yang enggan berdoa bagi orang lain, karena terlalu banyak pemikiran yang menghalanginya. Hatinya terlalu banyak prasangka sehingga mereka tidak dapat berdoa.

Tuhan berkata agar kita (orang-orang yang telah beranjak dewasa), untuk menjadi seperti anak kecil. Itu berarti Tuhan menginginkan kita mempunyai hati seperti anak kecil yang masih murni dan tulus, tidak dipenuhi oleh prasangka dan dugaan-dugaan yang belum tentu benar.

Coba kita meminta seorang anak berdoa untuk temannya, maka dia akan berdoa tanpa bertanya lebih lanjut mengenai apa yang terjadi dengan temannya, untuk apa temannya perlu didoakan, dan selanjutnya, dia juga tidak akan ingat atau memikirkan apa yang akan terjadi jika temannya itu didoakan dan Tuhan mendengar doanya untuk temannya itu.

Tetapi sulit bagi kita untuk berdoa dengan hati yang tulus, khususnya jika doa kita itu untuk orang lain. Sikap hati kita yang tidak tulus ketika mendoakan orang lain, seolah-olah menganggap bahwa Tuhan itu bodoh dan tidak dapat membedakan apa yang baik atau buruk untuk hidup seseorang.

Jika kita hendak mendoakan orang lain dengan hati yang tulus, maka kita tidak perlu berpikir apakah seseorang itu akan mengingat bahwa kita pernah mendoakannya, kita tidak perlu merasa iri akan keberhasilan yang dimilikinya karena doa-doa kita untuknya telah didengar dan dijawab olehTuhan, kita tidak perlu merasa takut tersaingi olehnya karena doa-doa kita untuknya akan didengar dan dijawab oleh Tuhan. Kita tidak perlu mempertimbangkan banyak hal dan tidak perlu menuntut seseorang untuk membalaskan budi baik kita yang telah berdoa untuknya.

Hati yang tulus tidak mempertimbangkan apa pun. Hati yang tulus tidak menghendaki balasan atau apa yang telah dilakukannya. Hati yang tulus itulah yang akan mengetuk pintu surga baik doa yang dipanjatkan untuk orang lain mau pun untuk diri kita sendiri.

Tuhan pun belum tentu mau menjawab doa kita untuk orang lain karena Tuhan yang lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain itu. Dan jikalau terjawab doa kita yang baik untuk seseorang dan terjadi hal yang buruk untuk kita, maka bukan berarti Tuhan tidak bersikap adil, melainkan Tuhan tahu apa yang terbaik dan DIA sedang merencanakan atau hendak memberikan bonus bagi kita.

Tuhan itu menguji hati. Jadi ketika kita hendak mendoakan orang lain, maka ada kemungkinan doa kita untuk orang lain dijawabNYA dan kita justru tertimpa bencana, tetapi ketika kita tetap setia dan menjaga hati kita untuk tetap murni dan tulus, maka kita akan mendapatkan berkat lebih daripada yang kita mintakan untuk orang lain. Sebaliknya, walau pun pada akhirnya Tuhan tidak memberkati kita pun, DIA tetap Tuhan yang setia dan DIA tetap Tuhan yang Adil.

Jika selama ini kita sering membuat pertimbangkan yang terlalu banyak ketika kita hendak mendoakan orang lain, maka sekarang kita bisa sama-sama belajar dari doa raja Salomo untuk orang lain dengan hati yang tulus.

Tuhan akan menjawab semua doa kita dengan kebijaksanaanNYA. Percayalah bahwa niat orang yang jahat akan diluputkanNya dari orang-orang yang takut akan Tuhan dan mempunyai hati yang tulus. Kita tidak perlu takut akan keberhasilan orang lain. Kita tidak perlu iri dengan keberhasilan yang dimiliki orang lain. Kita pun tidak perlu takut akan niat orang lain terhadap kita, entah itu niat yang baik atau pun niat yang buruk. Yang penting kita berdoa dengan hati yang tulus.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s