Dahulu Aku Bisa


Seorang ibu terbiasa membeli apa pun yang dibutuhkan dan diinginkannya selagi suaminya masih hidup dan bekerja. Ibu ini terbiasa melayani saudara-saudaranya, membayar semua kebutuhan anak-anak dan saudara-saudaranya tanpa harus berpikir “besok keluargaku makan apa?”, dalam arti keluarga ibu ini dan anak-anaknya hidup cukup, bahkan dapat memberi seluruh keluarganya jika diperlukan dengan penghasilan suaminya.

Sampai pada suatu ketika suaminya dipanggil Tuhan dan sang ibu pun hanya bisa mengandalkan Tuhan untuk kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya. Ibu ini tidak lagi bisa leluasa mengeluarkan uang seperti ketika dia masih mempunyai suami, dia harus hidup sangat hemat, bahkan harus memulai suatu usaha untuk bertahan hidup.

Seorang bapak terbiasa mengandalkan sang istri untuk mengatur urusan rumah dan keluarganya. Bapak ini tidak pernah berpikir apakah yang akan dia makan esok hari, karena sang istri pasti akan membelanjakan dan memasakkan untuknya. Anak-anaknya tak pernah mengeluh kelaparan padanya. Baik istri mau pun anak-anaknya, tidak pernah meminta waktunya untuk mengurus rumah bersama-sama.

Sampai suatu ketika sang istri dipanggil Tuhan. Sang bapak harus mengurus rumahnya seorang diri, memikirkan apa yang hendak dia dan anak-anaknya makan setiap harinya, dan dia harus belajar untuk mengurus anak-anaknya seorang diri, serta bersosialisasi dengan tetangga dan teman-temannya yang selama ini sudah terbiasa dengan istrinya.

Seperti dua contoh kisah hidup seorang ibu dan seorang bapak diatas, mungkin saat ini kita sedang merenungkan, dahulu kita bisa menjadi seperti ini dan itu yang sangat menyenangkan, bebas dan bisa melakukan banyak hal, orang lain sangat menghormati dan menghargai kita karena kita seolah-olah bisa menjadi pahlawan dalam kehidupan mereka. Kita terbiasa membantu dan memberi orang lain, tetapi mungkin sekarang kita terbatas karena ditinggalkan seseorang yang biasa kita andalkan atau mungkin juga karena perubahan hidup yang harus terjadi didalam hidup kita, sehingga kita harus menanti-nantikan pertolongan orang lain untuk diri kita sendiri.

Kenyataan lain, mungkin dulu kita bisa mengetik dengan cepat, tetapi karena lama tak berlatih, sekarang kita sangat lambat waktu mengetik. Dulu kita bisa berlari menempuh kiloan meter jaraknya, tetapi sekarang lima menit saja sudah separuh nafas. Dulu kita bisa bekerja lembur sampai subuh, tetapi sekarang paling malam pukul sepuluh sudah harus tidur, kalau tidak kepala menjadi pusing misalnya.

Demikianlah didalam hidup ini sebenarnya kita sangatlah terbatas. Tak ada bedanya kita yang dulu dan sekarang. Tak ada gunanya kita merenungkan nasib hidup kita “dahulu saya bisa, sekarang tidak lagi”, karena hidup kita ada dalam kedaulatan Tuhan. Jika dulu kita bisa itu karena kemurahan Tuhan dan jika sekarang kita tidak bisa itu berarti akan ‘muncul’ kelebihan yang lain, yang juga adalah anugerah Tuhan. Tetapi sebenarnya dari semuanya itu hanyalah agar kita bisa lebih mengandalkanNYA dan kita bisa mengerti bahwa hidup ini tak lebih dari kemurahan Tuhan saja.

Roma 9:15-19 berkata “…Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati, jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKU didalam engkau, dan supaya namaKU dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hari siapa yang dikehendakiNya.”

Jika dahulu orang jauh lebih menghormati dan menghargai kita, maka mungkin sekarang dengan keadaan kita yang terbatas, mereka harus tetap bisa menghormati dan menghargai kita tanpa mengharapkan pertolongan dan uluran tangan kita (seperti dulu). Kita pun tak perlu memaksakan diri ‘menjadi seperti dulu’ jika kita memang tak mampu. Kalau pun orang-orang disekitar kita tak dapat bersikap ‘sama’ seperti yang kita harapkan, maka kita harus mengerti bahwa mereka sebenarnya belum dewasa dan kita tidak perlu menjadi kecewa atau sakit hati, karena apa yang dihati mereka itu bukan tanggung jawab kita.

Sadarilah bahwa ketika kita dapat memberi dan menolong orang lain, itu karena kita sedang dipakai Tuhan untuk orang lain itu. Tetapi ketika kita tak dapat lagi karena keterbatasan kita, itu berarti Tuhan hendak memakai kita dengan cara yang lain, mengingat Tuhan kita adalah Tuhan yang super kreatif dan mungkin DIA ingin memberkati orang lain melalui hidup kita dengan cara yang berbeda.

Apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, itu adalah anugerah dan oleh kasih karuniaNYA semata-mata. Kita tidak perlu menjadi kecewa atau marah dengan Tuhan tentang keadaan hidup kita saat ini yang mungkin lebih buruk dari keadaan yang sebelumnya. Tetapi kita harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan anugerah Tuhan saat ini.

Didalam hidup ini akan selalu ada perubahan, jangan terlalu memaksakan diri untuk selalu menjadi sama seperti dulu, karena jika demikian, kita akan menjadi terpuruk atau mengalami kerugian. Contoh: jika dulu kita kaya dan sekarang tidak kaya, lalu kita tetap bersikap seolah-olah kita kaya, maka lambat laun kita akan terlilit hutang untuk memenuhi gaya hidup kita (yang dulu), lalu kita tidak mampu membayar dan akhirnya kita menjadi celaka.

Oleh karena itu, sesuaikan diri kita dengan apa yang diijinkanNYA terjadi dalam hidup kita dan pastikan bahwa masa depan kita cerah bersama Tuhan!

Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s