Gift And Responsibility


Setelah saya dan suami mengadakan acara pemberkatan dan makan malam sederhana sebagai ucapan syukur kami atas hari pernikahan kami, beberapa hari kemudian kami berangkat menuju pulau Bali, yang menjadi tempat tinggal kami saat ini.

Di Bali, kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana dan beberapa perabotan sudah ada didalamnya, tetapi beberapa perapotan atau peralatan lain yang harus kami beli untuk melengkapi kebutuhan kami sehari-hari, seperti rice cooker atau alat untuk memasak nasi, kompor, beserta LPG, dan lain-lain.

Ketika semua peralatan itu kami miliki dan ketika suami saya berangkat ke kantor, saya membersihkan dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Ketika saya sampai pada penggunaan kompor, saya berpikir bahwa saya harus belajar memasak walau pun hanya sekedar menggoreng (cara memasak yang paling mudah menurut saya), dan ketika saya berpikir demikian, saya merenungkan bahwa ketika suami saya membeli semua perabotan dan peralatan yang dibutuhkan, ada tanggung jawab yang harus kami kerjakan terhadap semua yang sudah kami beli itu, minimal kami harus merawatnya dengan baik.

Misalnya saja kompor yang dibeli oleh suami saya, suami saya membelinya agar saya atau suami saya dapat membuat telur dadar atau memasak mie goreng atau mie kuah ketika kami ingin memakannya. Tetapi lebih dari sekedar memasak makanan instan yang teramat mudah, sebenarnya saya secara pribadi bisa membuat yang lebih dari sekedar telur dadar dan mie instan, seperti yang saya katakan tersebut diatas, walau pun hanya sekedar menggoreng tahu tempe, tetapi saya harus belajar untuk ‘bertanggung jawab’ untuk menggunakannya, jangan sampai suami sudah membeli dan kompor tersebut hanya sebagai pajangan alias tidak digunakan.

Tiba-tiba saya teringat akan tujuan saya beberapa tahun yang lalu untuk membeli sebuah laptop, saya katakan pada Tuhan “saya ingin laptop Tuhan, agar saya bisa menulis artikel, menuangkan ide-ide dan bersaksi dari apa yang saya dapat dari Tuhan” dan setelah beberapa bulan menabung, akhirnya saya bisa membelinya.

Setelah mendapatkan laptop, apakah saya hanya menggunakannya untuk main atau sekedar membuka facebook? Tentu saja tidak. Saya harus bertanggung jawab pada Tuhan (tidak ada orang yang tahu sampai saya menuliskan hal ini) bahwa tujuan saya membeli laptop ini untuk menulis dan puji Tuhan sampai hari ini, saya masih bisa mempunyai ide untuk menulis artikel.

Dan didalam keseluruhan hidup kita ini, sebenarnya ada begitu banyak pemberian Tuhan (gift) yang harus kita pertanggungjawabkan (responsibility).

Mari kita lihat kedalam tubuh kita masing-masing saat ini. Tubuh kita ini adalah pemberian dari Tuhan (gift atau hadiah) untuk orang tua kita dan untuk pekerjaan Tuhan (kesaksian dan pelayanan). Maka kita harus bertanggungjawab (resposible) atas tangan dan kaki kita sebagai anggota tubuh kita misalnya, kita harus mau berjalan dan bekerja, melakukan sesuatu yang berarti dengan tangan dan kaki kita. Atau atas mata kita, kita harus mengistirahatkannya disaat harus tidur dan lihatlah segala sesuatu yang baik, bukan untuk memuaskan diri dengan melihat pornografi misalnya.

Ada begitu banyak dari tubuh kita yang bisa kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Contoh lain misalnya saja suara kita, kalau pun kita tidak bisa menjadi seorang singer atau penyanyi, apakah kita sudah menggunakan suara kita sebagai hadiah dari Tuhan yang diberikan pada kita untuk menguatkan orang lain atau sebaliknya apakah kita menggunakan suara kita untuk menggosipkan dan mencemooh orang lain?

Kenapa saya bisa mengatakan bahwa tubuh kita ini semuanya adalah hadiah dari Tuhan? Karena tidak semua orang bisa mempunyai anggota tubuh yang sempurna. Kalau kita terlahir sempurna, itu karena DIA yang memberikan sebagai hadiah.
Selain tubuh kita, misalnya saja uang kita atau barang-barang yang kita miliki misalnya. Apakah pernah kita meminta sesuatu dari Tuhan? Misalnya saja ketika kita meminta mobil atau meminta suatu bekal untuk usaha, apa doa kita kepada Tuhan? Apakah ketika kita sudah memperolehnya, lalu kita sudah bertanggungjawab atasnya?

Seringkali ketika kita sudah memperoleh apa yang kita inginkan, bahkan kita telah ‘berkorban’ banyak untuk mendapatkannya itu, dan ketika kita sudah mendapatkannya, kita ‘lupa’ untuk memakainya seperti tujuan kita pada awalnya, atau mungkin karena terlalu sayang, maka kita tidak memakainya, menyimpannya, sampai suatu saat kita harus membuangnya karena sudah tidak berguna.

Mari kita belajar untuk bertanggungjawab atas segala apa yang sudah kita peroleh atau yang kita miliki. Walau pun mungkin harganya tidak seberapa dan mungkin tidak diperlukan pengorbanan yang sangat untuk memperolehnya, cobalah belajar untuk menghargai dan bertanggungjawab atas hadiah yang kita dapatkan atau yang sudah kita miliki.

Hadiah dan pertanggungjawaban atas hadiah tersebut adalah suatu harapan akan tercapainya suatu tujuan. Apa pun itu, pergunakanlah dengan baik-baiknya dan sebisa mungkin selalu untuk kemuliaan Tuhan.

-Thanks God for ideas-

2 thoughts on “Gift And Responsibility

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s