Kepunyaan vs Perilaku


Suatu hari, seorang teman menceritakan pengalamannya ketika dia berkunjung disuatu tempat di daerah pelabuhan, yang juga menjual ikan tuna segar. Di tempat tersebut ikan tuna yang hendak dibeli bisa sekaligus dibersihkan oleh penjual, sehingga kita mudah memasaknya, dan harganya pun dapat dikatakan murah, dibandingkan harga supermarket dan pasar-pasar yang menjual ikan tuna.

Karena ikan tuna yang dijual adalah ikan tuna yang segar dan harganya murah, maka teman saya ini membeli hampir kira-kira sebanyak sepuluh kilogram. Jadi dalam beberapa hari berturut-turut dia dan keluarganya selalu mempunyai menu makanan ikan tuna. Alhasil, sampai detik ini teman saya sama sekali tidak mau makan ikan tuna.

Ceritanya itu juga mengingatkan saya pada cerita seorang pelayan di dapur sebuah hotel berbintang lima. Pelayan ini berkata bahwa tamu di hotel tersebut sembilan puluh lima persen adalah seorang yang kaya raya. Jadi setiap hari, khususnya di pagi hari sewaktu breakfast atau makan pagi, dia selalu melayani orang-orang kaya dan yang mempunyai jabatan tinggi atau posisi yang sangat penting.

Tetapi sayang sekali, menurut pelayan hotel ini, para tamunya itu kebanyakan mempunyai perilaku yang tidak seperti orang kaya atau orang yang memiliki kedudukan di posisi yang tinggi.

Ada seorang tamu, yang minta telur dadar sebanyak enam butir per orang, untuk anggota keluarganya yang sebanyak empat orang (suami istri dan dua orang anaknya), jadi total ada dua puluh empat butir telur dadar yang disiapkan, tetapi akhirnya yang dimakan masing-masing orang hanya satu dan sisanya harus dibuang. Belum lagi (termasuk beberapa tamu yang lain lagi) membawa begitu banyak roti, yang dibungkus dengan tissue dan dimasukkan kedalam tasnya masing-masing.

Sebagai seorang yang mempunyai banyak uang (baca: kaya) dan dapat membayar kamar seharga ribuan dollar per malamnya, memang sudah selayaknya dan sepantasnya untuk mendapatkan pelayanan terbaik dan meminta apa pun yang diinginkannya, karena demikianlah pelayanan yang diberikan dan disediakannya. Tetapi, pertanyaannya, apakah mereka tidak mampu membeli sepotong roti atau sebutir telur setiap harinya jika diluar hotel, sampai-sampai harus bersikap ‘serakah’ dan mengambil sebanyak-banyaknya di hotel tersebut pada waktu breakfast hanya karena ‘mumpung gratis’?

Mungkin ada alasan-alasan khusus yang ada di benak kita, misalnya: karena menu makanan yang disediakan adalah buffet (makan sepuasnya) dan kita malas untuk jalan-jalan terus, jadi kita memilih untuk ambil semua dan sebanyak-banyaknya, atau mungkin ada alasan yang lainnya juga. Tetapi apa pun itu alasannya, sebenarnya ketika kita membaca cerita tersebut diatas, maka dihati kecil kita pun dengan jujur dapat mengatakan bahwa hal tersebut benar, sering kita melihatnya atau kita pun mungkin pernah melakukannya.

Perilaku tersebut, sebenarnya didasarkan dari niat hati yang bermacam-macam motivasinya, misalnya saja membawa roti untuk bekal diperjalanan, barangkali tidak menemukan toko roti ketika perut terasa lapar, atau mungkin benar rasanya ada makanan gratis kenapa kita tidak sepuas-puasnya mengambil, besok-besok mungkin kita harus irit-irit untuk membeli makanan, dan lain-lain.

Tentunya, sifat serakah dan apa yang sudah dimiliki (harta), menjadi tidak sebanding nilainya. Bukan berarti seorang yang tak mampu boleh bersikap ‘serakah’ seperti contoh cerita tersebut diatas, melainkan seharusnya kita, masing-masing orang, dapat mengerti bahwa, keserakahan tidak membuat kita dilihat sebagai seorang yang pintar, bijaksana, dan berwibawa, tetapi keserakahan membuat kita hampir tak bernilai dan tak dapat dihargai.

Kidung Agung 8:7b berkata “…Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina”, hal ini terjadi karena seseorang yang mempunyai harta benda tidak mempunyai sikap sebagaimana ia mempunyai harta benda tersebut, dengan kata lain: orang kaya tetapi sikapnya tidak seperti orang yang kaya, orang kaya tetapi masih saja serakah, apalagi untuk hal-hal yang sepele.

Tanpa disadari, sebenarnya secara rohani dan dalam kehidupan sehari-hari, sering kita bersikap tidak seperti kita sudah mempunyai hal tersebut. Misalnya saja sebagai seorang pemimpin, kita bersikap dan bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan, seolah-olah kita ini masih belum menjadi seorang pemimpin, yang mentalnya seperti mental pekerja kasar.

Disisi kehidupan rohani, kita tahu dan sadar bahwa Tuhan itu penuh kasih dan sudah membayar hidup kita dengan darah yang mahal, dan kita mengakui bahwa kita ini anak-anak Tuhan, tetapi hidup kita penuh dengan kekerasan, dendam, tidak mau memaafkan, tidak mau bersahabat, dan tidak mau mengalah (hidup damai).

Tahukah kita, bahwa pada saat manusia diciptakan, Tuhan meletakkan dasar didalam hati kita yaitu kasih? Jadi sebenarnya kasih itu telah dimiliki oleh semua manusia. Tetapi sayangnya, manusia bertindak seolah-olah tidak mempunyai kasih.

Jika kita telah selesai membaca artikel ini, maka mari kita merenungkan, apakah ada kekecewaan, yang menimbulkan kemarahan, dendam, dan sakit hati, terhadap orang tua, suami, atau istri, anak-anak, saudara kandung, saudara sepupu, atau saudara ipar, didalam hati kita? Ingatlah bahwa didasar hati kita ada sebuah kasih dan kita adalah anak-anak Tuhan. Mungkin semuanya perlu waktu, tetapi tolonglah dirimu sendiri untuk tidak berlama-lama dengan kebencian. Munculkanlah kasih dan bersikaplah sebagaimana dirimu mengakui sebagai anak Tuhan.

Tuhan memberkati.

**inspered by Hellen and Frankly

One thought on “Kepunyaan vs Perilaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s