Tegas VS Iman


Ada seorang mahasiswa, bernama Bill. Dia seorang yang percaya pada Tuhan dan mempunyai banyak keinginan (mimpi). Dari kecil, dia belajar untuk meletakkan semua keinginannya didalam tangan Tuhan dan hampir semua mimpinya itu terjawab, walau pun tidak 100% (seratus persen) sesuai dengan harapannya, tetapi paling tidak Tuhan menjawab melebihi dari segala yang dia pikirkannya (sesuai dengan ayat Firman Tuhan).

Beranjak dewasa, Tuhan membawa dia pada level-level iman yang lebih tinggi lagi, dengan memberinya berbagai mimpi yang mustahil bagi seorang Bill untuk mewujudkannya. Tetapi karena Bill ada didalam tangan Tuhan yang berdaulat, maka mau tidak mau, Bill harus mewujudkan mimpinya itu. Dengan kata lain, Tuhan membuat jalan hidup Bill itu harus melalui setiap proses yang membuatnya ingin mewujudkan mimpinya itu sebagai ‘target’.

Karena semakin hari Bill merasa hidupnya semakin berat, maka seringkali Bill membuat kompromi didalam hidupnya. Bill tidak ingin mewujudkan mimpi-mimpi yang dimilikinya, dia ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja, tanpa target, mendapatkan senang, tidak mendapatkan juga tidak apa-apa. Tetapi di hati kecilnya, tentu Bill sangat ingin mewujudkan mimpinya itu.

Sikap Bill itu seperti terombang-ambingkan oleh keadaan. Ketika imannya bangkit Bill dapat merasakan bahwa dia mampu mewujudkan mimpi-mimpinya dan ingin melangkah untuk mewujudkannya. Tetapi ketika Bill merasa lelah dengan semua yang harus dihadapinya dan tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan untuk menjawab mimpi-mimpinya, maka Bill pun kembali menyerah.

Cerita tersebut diatas mungkin tidak hanya dialami oleh seorang Bill. Saya dan Anda semua yang membaca artikel ini mungkin pernah mengalami hal tersebut. Begitu banyak mimpi, cita-cita, dan harapan yang ingin diwujudkan, tetapi sayangnya keadaan, waktu, dan iman seolah-olah tidak dapat bekerjasama untuk memenuhinya.

Suatu hari ketika saya mengerjakan pekerjaan rumah dan sedang terombang ambing oleh keadaan, tiba-tiba saya teringat akan doa saya kepada Tuhan akan keinginan saya. Tetapi saya menggelengkan kepala dan berkata “Tuhan, saya memang pernah berdoa untuk hal tersebut, kini Kau telah menjawabnya, tetapi keadaan tidak memungkinkanku untuk berjalan seperti ini terus menerus, aku harus bertindak sesuatu dan melupakan doaku itu”.

Kemudian saya diingatkan bahwa beberapa kali Tuhan pernah membawa saya kedalam situasi seperti yang Bill alami dalam cerita tersebut diatas, lalu saya diingatkan untuk bersikap tegas. Tegas disini berarti Tuhan ingin saya menentukan sikap apakah saya benar-benar ingin melangkah untuk mewujudkan permohonan doa dan cita-cita saya, atau tidak?

Beberapa kali itu juga, saya selalu menjawab dengan tegas bahwa saya ingin menjalani setiap proses dan berjalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan harapan saya. Aneh tapi nyata, setiap kali saya bersikap tegas dan menjawab “ya Tuhan, saya bersedia”, saya merasakan iman saya ditarik menjulang tinggi, seperti medan magnet yang sangat kuat, membuat langkah saya semakin mantap dan percaya bahwa pada waktuNYA nanti mimpi dan doa-doa saya akan terjawab.

Tidak mudah untuk bersikap tegas, apalagi jika kita adalah orang yang berkarakter pemikir, jadi banyak sekali pertimbangan yang muncul di benak kita, sehingga kita sulit memutuskan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Tuhan sebenarnya ingin anak-anakNYA mempunyai sikap dan tidak mudah terombang ambingkan oleh keadaan. Ketika anak-anakNYA menentukan sikap dan mau bersikap tegas, maka yang terjadi seolah-olah keputusan kita itu menarik Tuhan untuk benar-benar (dengan serius) memberikan pertolongan dan kekuatan bagi kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan menjawab setiap doa kita. Tentunya, kita harus memutuskan sesuatu yang baik dan benar menurut kehendak Tuhan, agar keputusan kita dapat sejalan dengan kehendak Tuhan.

Secara logika, ketika kita masih dalam berada dalam posisi hati yang bimbang, tentu saja sulit bagi kita benar-benar mempercayai bahwa Tuhan sanggup menjawab doa-doa dan mewujudkan mimpi-mimpi kita.

Itulah sebabnya, kita perlu bersikap tegas menentukan apa yang sebenarnya kita inginkan. Jika kita sudah berdoa dan meminta sesuatu hal, kemudian Tuhan mewujudkannya, tetapi realitanya keadaan seolah-olah tidak mendukung untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita tersebut, maka berdoalah dan tentukan arah dimana hatimu memiliki damai sejahtera (karena Roh Kudus akan memberitahukanmu langkah yang benar, salah satunya dengan hati yang memiliki damai), setelah itu, percayalah dan berimanlah bahwa kita telah ‘menarik’ kuasa Tuhan untuk berjalan bersama-sama dengan kita sampai doa-doa dan mimpi-mimpi kita terwujud.

Tuhan memberkati.

4 thoughts on “Tegas VS Iman

  1. Hi Lia,
    Tulisan ini sangat memberkati. Thx utk sharing. Saya bagikan tulisan ini jg di group Facebook ABKINDO (Asosiasi Blogger Kristen Indonesia). Saya lg blogwalking utk undang teman2 bergabung. So join us dlm wadah pelayanan online ini. Thx again.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s