Terabaikan Bukan Berarti Tidak Penting


Suatu hari, di sebuah website, mengadakan sebuah lomba me-review makanan dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya, dengan hadiah utama IPAD2 dan 50 (lima puluh) pemenang lainnya hanya mendapatkan kartu discount seharga Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah).

Jadi caranya harus menggambarkan rasa menu makanan, pelayanan, dan tempat di sebuah restaurant, dan tidak boleh dalam satu restaurant yang sama, sambil menyertakan foto-fotonya. Dan saya tertarik untuk mengikuti lomba tersebut, mengingat saya juga ada keinginan untuk mempunyai IPAD2.

Lomba yang diadakan selama tiga puluh hari itu menyita waktu saya setiap hari, dari siang hari setelah selesai melakukan semua pekerjaan di rumah, sampai malam hari, bahkan ketika suami pulang kantor pun dia menonton televisi sendirian dan saya hanya menemaninya makan malam, kemudian kembali sibuk mengirimkan artikel-artikel tentang kuliner.

Dari peringat yang ke-50 (lima puluh), akhirnya naik menjadi peringat ke-10 (sepuluh), ke-9 (sembilan), ke-8 (delapan), ke-7 (tujuh), dan dengan sedikit susah payah akhirnya berhasil masuk peringat ke-3 (tiga). Begitu mudahnya orang-orang yang ranking ke-2 (dua) dan pertama untuk memperoleh artikel, sedangkan saya tidak pernah bisa menaikkan peringkat saya lagi.

Seminggu terakhir pengumpulan artikel, saya sudah angkat, walau pun masih terus berusaha mengumpulkan artikel semampu saya. Sampai akhirnya di hari terakhir, saya pikir, saya hanya mampu mencapai ranking yang ke-2 (dua). Tetapi ternyata keesokan harinya, di hari pengumuman pemenang, ternyata saya hanya masuk sebagai ranking ke-4 (empat).

Benar-benar mengejutkan, karena ternyata ada seorang yang mengumpulkan kurang lebih 495 (empat ratus sembilan puluh lima) artikel dalam waktu sehari, di hari terakhir mengumpulkan artikel, padahal hari-hari sebelumnya tak pernah terlihat dia mengumpulkan artikel-artikelnya. Walau pun saya merasa kecewa, karena mengira bisa masuk ranking dua, tetapi saya menerimanya, karena memang saya hanya mengumpulkan tidak sampai 300 (tiga ratus) artikel.

Setelah pengumuman tersebut, terasa didalam hati kecil saya seperti ada perasaan lega karena akhirnya saya bisa beraktifitas kembali seperti sebelum mengikuti perlombaan tersebut, menyelesaikan semua tugas saya, tanpa harus berkonsentrasi mengumpulkan artikel tentang makanan untuk sebuah IPAD2. Saya menyadari bahwa semua perjuangan saya untuk memenangkan lomba tersebut menyita hampir 80% (delapan puluh persen) waktu saya, walau pun tugas-tugas saya pun tetap terselesaikan setiap harinya.

Mungkin ada diantara pembaca yang pernah mengalami hal yang serupa dengan cerita saya tersebut diatas. Demi memperjuangkan sesuatu, akhirnya tak terasa sebagian besar waktu sudah tersita hanya untuk berfokus pada satu hal tersebut.

Seperti misalnya mengurus anak, pasangan, atau orang tua yang sedang sakit, sehingga rasanya semua perhatian terfokus pada seseorang yang mengalami sakit itu. Atau mungkin ada seorang pria yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mengejar-ngejar wanita yang dicintainya. Atau mungkin ada tugas sekolah, atau pekerjaan kantor yang benar-benar membutuhkan konsentrasi sehingga ada orang-orang dan khususnya pihak keluarga yang biasanya merasa terabaikan.

Semua kegiatan yang penting artinya bagi kita, akan membuat kita berfokus untuk menyelesaikannya dan membuat orang lain atau sesuatu itu akhirnya ‘merasa’ terabaikan. Apabila sesuatu itu adalah benda mati, maka mungkin kita tak perlu memikirkan perasaannya, tetapi apabila seseorang-lah yang merasa terabaikan, maka tentulah dia bisa mempunyai kemampuan untuk protes atau merasa dirinya sedang terabaikan oleh kita.

Sekarang, marilah kita berada di posisi sebagai seseorang yang merasa terabaikan. Sebagai contoh, suami saya. Ketika saya berkonsentrasi untuk memenangkan lomba, sepanjang hari didepan laptop, maka suami saya mempunyai alasan untuk dia merasa terabaikan oleh saya.

Pertanyaannya, apakah suami saya bagi saya tidak penting dan jauh lebih penting memenangkan perlombaan demi sebuah IPAD2?

Suami saya bisa saja marah pada saya dan merasa tersinggung, seolah-olah dia tidak mampu membelikan saya IPAD2, demi agar dia bisa ditemani oleh saya saat menonton televisi. Walau pun sebenarnya, siapa pun pasti akan merasa senang apabila bisa memenangkan lomba dan mendapatkan IPAD2 secara gratis.

Demikian pula kita sebagai seseorang yang mungkin pernah atau sedang merasa terabaikan, sebenarnya kita mempunyai alasan yang sangat tepat untuk merasa tersinggung dan marah pada seseorang yang mengabaikan, karena seolah-olah kita sudah tidak penting baginya.

Ada begitu banyak pasangan suami istri yang berniat atau mungkin sudah melakukan cerai, atau bagi yang masih pacaran mungkin memutuskannya, karena merasa diabaikan oleh pasangannya. Ada juga anak-anak yang merasa orang tuanya tidak sayang lagi padanya hanya karena orang tuanya selama sebulan penuh tidak mempunyai waktu untuk berlibur dengan mereka. Sebaliknya, ada juga orang tua yang marah-marah pada anaknya karena merasa terabaikan karena anaknya lebih memilih bermain bersama teman-temannya daripada pergi bersama orang tuanya menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya.

Merasa terabaikan itu dapat dirasakan oleh semua orang dan masuk akal karena kondisi orang lain sedang sibuk dengan sesuatu sehingga seolah-olah sedang mengabaikan kita. Tetapi sebenarnya, kita bisa menjadi seseorang yang tidak merasa terabaikan jika kita sadar bahwa kita bukannya tidak penting lagi, melainkan seseorang yang kelihatannya mengabaikan kita itu sedang ingin menggapai sesuatu atau sedang memilih sesuatu yang menyenangkan hatinya (dia sedang ingin refreshing).

Kita bisa mengurangi rasa terabaikan ketika kita bisa memberikan dukungan pada seseorang itu. Misalnya saja suami saya yang ikut memikirkan bagaimana caranya agar saya bisa memenangkan lomba dan membantu mengumpulkan foto-foto makanan, atau dia juga bisa ikut duduk disamping saya sambil menyalakan laptopnya dan mengerjakan sesuatu agar tidak merasa terabaikan.

Saya rasa, semua orang tidak secara sengaja berniat untuk mengabaikan orang-orang yang ada disekitarnya, tetapi semua orang mempunyai cita-cita dan tugas yang harus diselesaikannya, yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama atau konsentrasi penuh. Termasuk diri kita sendiri, akan ada waktu-waktu dimana kita bisa saja mengabaikan orang lain karena ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, tetapi tentu saja kita bukannya berniat untuk mengabaikannya.

Lalu mengapa kita harus tersinggung dan merasa tidak berarti atau tidak penting lagi?

Siapa pun kita, tentulah kita mempunyai arti penting bagi seseorang. Siapa pun kita, tentulah kita mempunyai nilai dan talenta yang sama pentingnya dengan nilai dan talenta orang-orang yang mungkin sekarang sedang terlihat jauh lebih dibutuhkan, lebih dikenal, atau lebih dihargai oleh kebanyakan orang.

Kita terabaikan, bukan berarti kita tidak penting. Jangan mau dipengaruhi oleh pemikiran rendah diri karena sedang terabaikan! Lakukan hal-hal yang perlu dilakukan dan diselesaikan, selanjutnya kembangkan diri dengan apa yang ada didalam diri kita, maka lihatlah diri kita ini begitu penting dan berarti. Mereka bukan mengabaikan, tetapi ada yang sedang mereka perjuangkan, dan mungkin perjuangan itu pun untuk diri kita juga. Kalau pun perjuangan itu untuk diri mereka sendiri, tetapi didalam hidup kita ini masih ada begitu banyak hal yang harus dicapai, tak perlu buang waktu untuk sakit hati.

Tuhan memberkati!

One thought on “Terabaikan Bukan Berarti Tidak Penting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s