Getting Better


Pernah memasak kerupuk udang?

Suatu hari seorang teman menawarkan pada saya untuk membeli kerupuk udang yang dijualnya. Karena saya belum pernah menggoreng kerupuk, akhirnya saya mencoba membeli kerupuk udang tersebut. Menurut teman saya, sebelum di goreng sebaiknya di jemur terlebih dahulu. Saya juga kurang paham mengapa harus dijemur terlebih dahulu, tetapi saya ingat mami saya juga menjemur kerupuk udangnya terlebih dahulu sebelum menggorengnya. Jadi saya memilih untuk taat.

Tak lama kemudian saya memanaskan minyak dalam penggorengan, lalu saya mulai menggorengnya satu per satu sambil mengingat cara mami saya memasaknya. Jadi begitu kerupuk terlihat mulai mengembang, maka kita harus menekan-nekannya agar kerupuk tersebut kemudian mengembang dan bentuknya juga rata, tidak berlekuk-lekuk.

Saya bukan orang yang menggemari kerupuk, tetapi sebenarnya kerupuk itu enak dan banyak orang suka memakannya, apalagi jika dimakan dengan nasi rawon atau dengan sambal misalnya. Dua kali saya melakukan penggorengan dan saya seperti membayangkan bahwa didalam kehidupan kita juga mirip seperti cara menggoreng kerupuk.

Saya sempat mencoba ketika menggoreng kerupuk tersebut, walau pun tetap harus dijemur, mengalami panas, dan masuk dalam minyak yang panas, tetapi pada waktu menggoreng, saya biarkan kerupuknya mengembang dengan semaunya, tanpa saya tekan-tekan agar menjadi rata bentuknya seperti kerupuk yang lain, maka hasilnya kerupuk tersebut akan menjadi berlekuk-lekuk seperti yang dikehendakinya dan bentuknya kurang bagus walau pun bagaimana pun tetap namanya adalah kerupuk dan masih bisa dinikmati.

Demikian pula seorang anak yang dimanja, dia tetap harus sekolah walau pun dia tidak menyukainya, dan harus belajar juga mengerjakan tugas-tugas sekolah walau pun dia tidak menyukainya. Dia tetap dimanja, hanya saja dia tetap harus sekolah seperti anak-anak yang seusia dengannya.

Dapat dipastikan anak yang dimanja ini menjadi seseorang yang egois dan semaunya sendiri, semua-semua harus berjalan sesuai dengan keinginannya. Sama seperti kerupuk tersebut, walau pun bentuknya berlekuk-lekuk kacau, kerupuk tetaplah kerupuk. Demikian pula anak yang dimanja ini tetaplah mempunyai talenta dan kemampuan yang mungkin hasil karya atau hasil kerjanya nanti bisa dinikmati semua orang, tetapi karakter dia adalah sebagai anak manja yang sulit diatur.

Berbeda dengan kerupuk yang saya tekan-tekan dan akhirnya mempunyai bentuk yang rata dan bagus, seperti kerupuk-kerupuk yang dijual atau yang diletakkan didalam toples di meja-meja restaurant. Orang akan segera mengenali kerupuk tersebut dan jika berminat akan langsung menikmatinya.

Demikian pula anak-anak yang dididik dengan cara-cara yang lebih disiplin, tidak dimanja, tetapi bukan dengan cara kekerasan tentunya. Mereka akan menjadi seseorang yang berkarakter lebih baik daripada anak-anak yang dimanja. Tentunya anak-anak yang hidup lebih disiplin akan lebih mudah diatur dan akan lebih mudah menghadapi tantangan hidup.
Mungkin ketika kerupuk yang bentuknya berlekuk-lekuk dan kerupuk yang bentuknya bagus, rata, disejajarkan, kemudian dimakan, rasanya akan sama-sama kerupuk udang.

Tetapi orang akan segera memilih kerupuk yang bentuknya rata karena sudah jelas, kerupuk udang tentunya kalau digoreng akan berbentuk seperti demikian. Sedangkan untuk kerupuk yang berlekuk-lekuk, orang akan lebih mempertanyakan, dan kemudian jika diketahui kerupuk tersebut sama-sama kerupuk udang, maka orang tinggal memilih mana yang lebih diminati. Tentu saja biasanya orang akan lebih memilih bentuk kerupuk udang yang setelah digoreng bentuknya rata seperti pada umumnya.

Demikian pula anak manja dan anak yang hidupnya lebih disiplin, ketika dibandingkan, mungkin akan terlihat kemampuannya sama, tetapi karakter mereka ketika ditempa masalah itulah yang akan membedakannya.

Entah pendidikan yang bagaimana yang selama ini keluarga kita masing-masing menjalankannya, apakah orang tua kita mendisiplin kita dan setiap keinginan kita disaringnya, mana yang boleh terpenuhi dan mana yang tidak? Ataukah orang tua kita membiarkan kita dengan menuruti segala keinginan kita tanpa batas?

Apa pun itu, jika sekarang usia kita sudah menjadi lebih tua (bahkan sudah mempunyai banyak cucu misalnya) dan tampaknya sudah terlambat, karena dirasa sulit sekali mengubah karakter yang sudah terbentuk, maka sebenarnya, selama kita masih hidup, tentu kita masih bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tidak ada kata terlambat selama kita mau bekerja keras untuk mengubah sifat dan karakter kita yang mungkin dirasa kurang baik. Tidak ada kata “ya inilah diriku, terima aku apa adanya”, karena itu berarti kita belum mau berubah menjadi lebih baik.

Dan jadilah lebih baik bersama Tuhan! Berdoa dan berharaplah pada pertolongan dan pimpinan Tuhan untuk membuat diri kita menjadi lebih baik, karena sampai kapan pun, kita tidak akan pernah bisa berubah apabila mengandalkan kemampuan kita sendiri.

Tuhan memberkati!

2 thoughts on “Getting Better

  1. Sama halnya seperti membuat adonan roti, harus dibanting-banting, dipukul2, agar menjadi adonan yang baik dan akhirnya menjadi roti yang enak..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s