Preparation


Amsal 31:25b “…ia tertawa tentang hari depan”

Di rumah kami di Pulau Bali, sebulan sekali atau setiap menjelang akhir minggu, seperti hari Jumat sampai hari Minggu, air pasti mati. Rumah-rumah penduduk pada umumnya tidak mempunyai tandon atau fasilitas penampungan air dirumahnya. Jadi satu-satunya cara kami harus membeli bak atau tempat penampungan air dengan ukuran besar dan minimal harus mempunyai dua, selain bak mandi yang sudah ada didalam rumah itu sendiri.

Kejadian air mati ini sungguh menyebalkan dan membuat repot banyak orang. Apalagi sudah dalam dua bulan ini, setiap akhir bulan, selama seminggu penuh, di pagi hari dan atau sore hari, air pasti mati. Baru sekitar jam sepuluh malam air mulai nyala. Dan di akhir minggu tetap saja sepanjang hari air mati, sehingga segera bak yang berisi air itu habis.

Saya merasa kasihan dengan orang-orang yang mempunyai usaha seperti warung kecil-kecilan, yang tentu tidak mempunyai fasilitas tempat penampungan air, karena mereka terganggu usahanya.

Hampir setiap malam saya harus menunggu air menyala, karena saya tidak ingin kehabisan air dan khawatir kalau seandainya keesokan hari, air akan benar-benar mati sehari penuh. Sampai akhirnya suatu hari, di akhir minggu, saya merasa sangat lelah dan saya berpikir ingin mengisi air di pagi hari saja karena biasanya air masih menyala sampai agak siang baru mati lagi, sedangkan pada waktu itu air menyala sekitar pukul dua belas malam.

Tetapi seperti ada dorongan untuk mengisi semua tempat penampungan air itu sampai penuh, malam hari itu juga. Saya memilih untuk mengikuti dorongan hati itu, tetapi karena air menyala sangat kecil, saya membutuhkan sekitar satu jam lebih untuk mengisinya.

Tentu saja, keesokan harinya saya merasa kurang tidur. Tetapi ketika saya mengetahui ternyata airnya mati dan sepanjang hari itu benar-benar mati, saya merasa sangat bersyukur dan senang karena saya sudah taat untuk mengisi semua tempat penampungan air.

Tiba-tiba saya ingat ayat dari Amsal 31:25b yang berbunyi “…ia tertawa akan hari depan”. Amsal 31:10-31 berisi tentang puji-pujian istri yang cakap. Jadi kata “ia” adalah untuk menunjuk pada seorang istri.

Usia pernikahan saya sampai saya menuliskan artikel ini, kurang lebih baru berusia empat bulan dan saya belum benar-benar cakap untuk menjadi seorang istri. Saya beberapa kali membaca Amsal 31 ini sungguh merasa sepertinya cukup berat untuk menjadi seorang istri, walau pun akhirnya tentu mau tidak mau saya harus belajar.

Tidaklah mudah untuk ‘menertawakan’ hari depan kita, apalagi jika saat ini jelas kita sedang mengalami begitu banyak masalah, hutang dengan jumlah yang sangat besar, anak-anak begitu sulit diatur, sulitnya mencari pembantu di Indonesia sehingga semua tugas di rumah yang tiada akhir itu serasa kian bertambah berat untuk dikerjakan sendirian, mungkin karena suatu kesalahan, kita dinilai buruk oleh keluarga pasangan kita misalnya, dan entah bagaimana pasangan anak-anak kita nanti, apakah banyak orang yang mengatakan sulit untuk bisa bersatu antara (biasanya) mertua (perempuan) dan menantu (perempuan)? Rasanya tidak mungkin hari depan kita akan membahagiakan.

Tetapi Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa istri yang cakap adalah istri yang mampu menertawakan hari depan. Sedangkan tentu tidak selamanya sebagai seorang istri kita bisa selalu mempunyai iman yang tinggi. Didalam ayat ini, seolah-olah Tuhan ingin berkata bahwa seorang istri mempunyai peranan yang sangat penting untuk membangkitkan semangat keluarga.
Saran saya, sebaiknya para wanita tidak perlu terlalu merasa terbeban dengan ayat tersebut, karena pengalaman saya pada cerita di awal tulisan tersebut diatas, sebenarnya semua hal dapat kita lakukan apabila kita taat pada pimpinan Roh Kudus. Dan ketika kita bersedia untuk taat, maka kekuatan itu akan dialirkan memenuhi seluruh sel didalam tubuh kita, sehingga tak terasa kita sudah melakukan banyak hal ‘ajaib’.

Setiap wanita akan mempunyai pengalaman yang berbeda. Sesuatu yang bisa saya lakukan, belum tentu dapat dilakukan oleh wanita lain. Dan setiap kejadian serta keadaan yang dialami oleh setiap keluarga berbeda-beda. Apa yang keluarga saya alami, belum tentu dialami oleh keluarga lain. Oleh karenanya, Roh Kudus akan memimpin setiap wanita dengan cara yang berbeda-beda agar dapat melakukan sesuatu untuk keluarganya.

Setelah kita bersedia untuk taat pada pimpinan Roh Kudus, maka selanjutnya kita bisa tertawa akan hari depan kita, karena sebenarnya hari depan itu ada ditangan Tuhan. Tuhan memberikan Roh Kudus bagi kita sebagai penolong untuk menjalani kehidupan ini bersama seluruh anggota keluarga kita.

Bersama Roh Kudus, kita, baik para wanita yang belum berkeluarga mau pun yang sudah berkeluarga, akan mampu memberikan dukungan bagi semua anggota keluarga kita, bagi suami kita, sampai suami kita mengalami peningkatan demi peningkatan, dan anak-anak kita akan menggapai cita-citanya.

Mengapa kita dapat tertawa? Karena kita tahu bahwa tentu Tuhan sangat ingin keluarga kita mengalami kebahagiaan dan DIA akan memberikan kebahagiaan bagi kita. Tuhan kita itu kaya, tentu hutang-hutang kita dapat dilunasiNYA. Tuhan mencintai anak-anak. Tentu Tuhan akan membuat anak-anak kita dapat menjadi orang yang tahu bagaimana menghormati orang lain dan mempunyai hati yang mampu mengasihi.

Lakukan segala sesuatu dengan hati yang penuh sukacita, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga segalanya akan menjadi lebih ringan. Sebagai seorang wanita, kita diperlengkapi dengan hati yang mampu mengampuni dan hati yang lemah lembut, sehingga mudah bagi kita menerima keadaan seluruh anggota keluarga, sehingga mereka pun akhirnya dapat menerima kita sebagai pribadi yang apa adanya, dengan segala kelemahan kita.

Selanjutanya, dimasa yang akan datang atau mungkin sedang terjadi saat ini, apakah kita khawatir menantu perempuan kita tidak dapat menjadi akrab dengan kita sebagai mertua perempuan?

Sebenarnya, mengenai mertua dan menantu, selama ini yang membuatnya tidak dapat akrab adalah karena sesama wanita itu pada dasarnya sangat suka mengatur dan banyak berkata-kata, sehingga akibatnya masing-masing pihak merasa tidak lagi dihargai dan timbullah rasa tidak suka.

Dengan mengandalkan pimpinan Roh Kudus, sebagai orang tua nantinya, kita tentu dapat menahan banyaknya kata-kata yang akan keluar dan kita juga akan mempunyai kemampuan untuk melepaskan anak-anak agar mereka dapat mengatur kehidupan rumah tangganya sendiri, tanpa campur tangan kita lagi. Percayalah bahwa dalam hal apa pun yang mereka putuskan, keputusan itu ada dalam sepengetahuan Tuhan.

Apa lagi yang membuat kita sebagai seorang wanita menjadi khawatir?

Segala sesuatu yang sulit bagi kita, tentu mudah bagi Tuhan. Walau pun tampaknya tidak demikian, realitanya Tuhan selalu punya segala cara untuk menolong.

Masa depan keluarga kita ada didalam tangan kita sekarang, diperlukan persiapan untuk segala sesuatunya, dan hanya ada satu cara: andalkan pertolongan Roh Kudus!

Ketika kita melihat sekeliling kita dan terlihat tak ada jalan, tengadahkan kepala kita ke langit dan lihatlah bahwa disana masih terbentang luas pemandangan kita, yang artinya ketika kita mengalami jalan buntu, masih ada Tuhan yang bisa membukakan jalan bagi kita.

Tuhan memberkati!

One thought on “Preparation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s