Betapa Buruknya Kita


Kalau biasanya semua artikel selalu menuliskan hal-hal yang memotivasi dan selalu mengatakan bahwa kita ini baik dan hidup kita sungguh berharga, kali ini saya memberikan judul “Betapa Buruknya Kita”. Mungkin Anda, para pembaca merasa terkejut membacanya dan merasa saya hendak menyinggung Anda, tetapi sebenarnya maksud saya hanyalah ingin mengatakan bahwa sebenarnya kita tidak sebaik yang kita kira, karena selama kita masih hidup, maka seratus persen mutlak kita akan berbuat kesalahan.

Seperti yang kita ketahui bahwa alat komunikasi yang ada di dunia ini, semakin hari semakin bertambah modern dan semakin canggih. Contohnya telepon kita di rumah, dulu kita harus memutarnya agar terhubung dengan orang yang berjarak jauh dengan kita. Tidak semua orang bisa mempunyai telepon. Semua orang akan merasa sangat sedih apabila harus berjauhan karena sudah tidak bisa bertemu, untuk berkomunikasi pun sangat sulit.

Beberapa waktu kemudian, hampir setiap rumah mempunyai alat komunikasi, telepon, dan alat telepon yang dulunya harus digunakan dengan cara memutar, berkembang menjadi tombol-tombol yang bisa ditekan.

Dirasa komunikasi tetap terasa sulit, karena orang bisa saja keluar rumah ketika dihubungi, akhirnya muncullah handphone yang besar ukurannya. Kesulitan untuk membawanya, membuat para penciptanya berpikir untuk memunculkan handphone yang berukuran kecil dan bisa bergetar agar ketika diletakkan didalam kantung, sehingga ketika suasana hiruk pikuk membuat kita tidak bisa dengar ketika handphone berbunyi, maka kita bisa merasakan getarannya.

Setelah handphone dengan berbagai type bermunculan dan menarik banyak orang untuk membelinya, bahkan orang-orang yang kelihatannya kurang mampu pun dapat memiliki handphone untuk memudahkan komunikasi. Selanjutnya, muncullah Blackberry yang sudah sangat trend di masa kini dan Android, yang lebih canggih daripada Blackberry.

Selain itu, dunia terasa jauh lebih sempit dengan adanya system skype misalnya, asalkan kita mempunyai laptop atau komputer, koneksi internet, dan kita mau mempelajari caranya, sembari kita dapat berbicara dengan orang yang berada jauh dengan kita, maka kita pun bisa melihat wajah orang yang kita ajak berbicara, walau pun tentu kita tetap tak bisa menyentuhnya.

Dengan kecanggihan yang ada, bagi orang-orang yang mampu, tentu rasanya sulit untuk menyentuh handphone yang sudah lama kita kenal itu. Sekali pun kita tetap menggunakan handphone, apabila kita bisa, tentu kita akan memilih untuk menggunakan handphone yang dapat menampilkan warna-warna pada layarnya, karena lebih modern.

Kelihatannya, sekarang kita sedang mengabaikan handphone yang lama, karena memang kita memperlukan yang lebih canggih dengan kinerja yang sedang kita jalani didunia yang modern ini.

Saya benar-benar tidak sedang menyarankan Anda, para pembaca untuk mengganti Blackberry atau Android Anda, dengan handphone yang type lama untuk menghargai keberadaannya dahulu. Tetapi didalam kehidupan sehari-hari, secara sadar atau tidak sadar, kita sering melupakan orang-orang (yang kita anggap) ‘kecil’, karena hadirnya orang-orang yang (kita anggap) lebih modern, atau lebih mampu mengembangkan usaha kita, atau mengembangkan potensi kita, atau gereja kita.

Kalau didalam gereja, jemaat yang dirasa lebih mempu untuk memberikan sumbangan atau jumlah terbesar (baca: kaya), akan jauh lebih mendapatkan perhatian, dibandingkan dengan jemaat yang kiranya hanya bisa berdoa dan tidak pernah absen datang ke gereja, bahkan di hari libur sekali pun, karena tak mempunyai biaya untuk berlibur keluar kota.
Perayaan hari Natal tidak diadakan di tanggal yang bersangkutan, walau pun tahun ini hari Natal bertepatan dengan hari Minggu, hanya karena ada begitu banyak jemaat yang hendak berlibur keluar negeri misalnya. Tak heran, bila ada begitu banyak orang yang merasa tidak gembira melihat perilaku orang-orang yang melayani didalam gereja, tetapi sikapnya memilih-milih jemaat. Dengan keadaan tersebut, bisa kita katakan, betapa buruknya kita, orang-orang yang melayani Tuhan, tetapi memiliki sikap yang memilih-milih jemaat.

Tak hanya didalam gereja, mungkin didalam sekolah, kita sering mengganggu teman kita dan mentertawakannya, betapa buruknya sikap kita terhadap teman-teman yang tak berdaya itu. Atau didalam pekerjaan kita, mungkin kita sering memikirkan kepentingan diri kita sendiri, jangan heran apabila banyak pegawai yang keluar masuk karena tidak tahan pada sikap kita yang semena-mena.

Kalau saat ini kita merasa diri kita berada diatas angin, misalnya merasa baik-baik saja semuanya, mampu membeli semua yang kita inginkan, mampu mendapatkan cinta dari seseorang yang kita idam-idamkan, dan mampu menjadi seseorang yang lebih baik dari orang lain, maka kita harus melihat lebih teliti lagi, bahwa kita tidaklah sebaik seperti yang kita pikirkan.
Jangan pernah bermegah hanya karena kita merasa diri kitalah yang paling baik dibandingkan dengan orang lain! Diri kita sendiri ini ternyata mempunyai banyak kelemahan dan telah banyak melakukan kesalahan, yang walau pun tak mengalami kejadian yang sama dengan yang orang lain lakukan, tetapi sebenarnya ketika kita melakukan kesalahan maka nilai kesalahannnya itu sama. Setiap kesalahan, sama-sama perlu mendapatkan pengampunan.

Itulah sebabnya, Tuhan mengajarkan agar kita jangan bermegah pada segala kemampuan yang kita miliki, tetapi kita harus tetap hidup rendah hati dan tidak memandang rendah orang lain. Ketika kita sudah bersikap bangga yang berlebihan (walau pun didalam hati saja) atas kemampuan yang kita miliki, pada saat itu kita sebenarnya sudah mempunyai nilai diri yang buruk.

Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s