Sang Pemberi Berkat


Suatu hari seseorang yang bekerja di bagian purchasing, atau pembelian, membeli sebuah barang yang dibutuhkan oleh perusahaannya di sebuah toko. Dan karena barangnya memang sesuai dengan perusahaannya inginkan, sekaligus harganya sesuai dengan target perusahaan, maka sejak saat itu perusahaannya bekerjasama dengan toko tersebut.

Tentu saja, kerjasama ini membuat si pemilik toko itu merasa sangat senang, sampai-sampai si pemilik toko menawarkan sejumlah uang pada seorang pekerja yang ada didalam perusahaan besar tersebut.

Seorang pekerja ini sedang membutuhkan uang yang sangat banyak dan gaji bulan ini sudah habis untuk membayarkan segala sesuatunya. Tanpa berpikir panjang, seorang pekerja ini menjawab niat sang empunya toko itu seperti demikian: “apabila bapak hendak memberi, tolong berilah pengurangan harga pada pembelian untuk kebutuhan perusahaan diwaktu yang mendatang saja”. Dengan cara yang tetap sopan dan kata-kata yang baik, ditolaknya pemberian si pemilik toko oleh si pekerja.

Entah berapa jumlah uang yang ditawarkan oleh si pemilik toko pada pekerja tersebut. Tetapi yang pasti, berapa pun jumlahnya, sebenarnya ketika si pekerja membutuhkan uang untuk kehidupannya selama sebulan itu tentu merupakan jumlah yang sudah lumayan. Seperti kita misalnya tidak punya uang sama sekali, walau pun hanya lima puluh ribu rupiah tentu merupakan jumlah yang lumayan.

Tetapi si pekerja berani menolaknya, bukan karena perusahaan mempunyai peraturan bahwa setiap pekerja tidak boleh menerima suap, melainkan karena si pekerja ingat akan ayat didalam Firman Tuhan didalam Amsal 1:22 yang berkata “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya”.

Ada orang-orang yang sering salah mengartikan ayat tersebut, dikiranya sekali pun dia bekerja dengan bersusah payah dan bersikap jujur pada perusahaan, tetapi jika Tuhan tidak berkehendak untuk menjadikannya kaya, maka dia tidak akan pernah kaya. Dengan pengertan yang demikian, jangan heran apabila orang itu menganggap sah apabila menerima suap.

Melalui cerita tersebut diatas, saya merenungkan, mungkin susah payah yang dimaksudkan itu seperti mencari muka atau mencari-cari pemberian yang bukan hak kita. Karena sebenarnya, untuk mencari muka dan berusaha mendapatkan upah yang tidak seharusnya kita terima itu tentu memerlukan usaha extra.

Ada begitu banyak orang yang berusaha mempersulit hidup orang lain, dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu (baca: suap). Jangan berharap negara kita bisa maju apabila Anda menjadi seseorang yang suka mempersulit hidup orang lain!

Kita semua tetap harus bekerja, tetapi kita tidak perlu bersusah payah untuk mencari-cari tambahan dengan cara menerima pemberian yang tidak seharusnya menjadi hak kita atau yang biasa disebut dengan suap.

Banyak orang berkata bahwa di jaman sekarang ini sulit mencari orang yang jujur. Baru saja kemarin saya mendengar di acara televisi yang mengatakan bahwa negara ingin menerapkan sistem yang bebas korupsi dan suap, tetapi sepertinya gagal. Karena sebenarnya, sikap yang jujur itu keluar dari kesadaran diri sendiri, tidak bisa dipaksakan.

Bersikap jujur, tidak hanya untuk masalah keuangan, tetapi juga jujur didalam segala hal. Contoh bersikap jujur pada diri sendiri, misalkan kita merasa kita tidak suka pada seseorang, maka kita tidak perlu bersikap semanis mungkin terhadapnya, yang kita perlukan adalah mengampuninya. Atau bersikap jujur pada orang lain, didalam cerita-cerita kita, didalam pemberian pendapat kita, dan lain-lain.

Kita juga perlu jujur kepada Tuhan, Sang Pemberi Berkat. Kita tidak perlu gengsi untuk meminta berkat-berkatNYA. Kita tidak perlu bergaya seperti orang kaya apabila kita tidak mempunyai uang dan tidak perlu takut untuk disingkirkan hanya karena kita tidak bisa menjadi seperti orang-orang kaya itu. Sebenarnya, kita sudah diterima oleh Tuhan, dengan segala keadaan kita.

Kadangkala kelihatannya kita merasa seperti orang yang tidak pernah puas pada keadaan kita, tetapi utarakan pada Tuhan bahwa memang ada keperluan-keperluan atau hal-hal lainnya, yang memerlukan berkat dari Tuhan.

Kita sudah bekerja dan kita sudah bersikap jujur pada perusahaan, atau pada orang-orang yang menjadi atasan atau majikan kita, tetapi sebenarnya berkat itu datangnya dari Tuhan. Tuhanlah Sang Pemberi Berkat itu. Kita bisa mendapatkan bonus, kita bisa mendapatkan peningkatan demi peningkatan itu datangnya dari Tuhan, melalui orang-orang di sekitar kita.

Jika saat ini, berkat yang kita nanti-nantikan itu tampaknya belum datang juga, maka tetaplah untuk melakukan yang terbaik, karena Tuhan tidak membiarkan orang benar menderita (selamanya) kelaparan (Amsal 10:3a). Tentulah Tuhan akan segera memberkati kita, anak-anakNYA, sesuai dengan kebutuhan kita.

Tuhan memberkati.

Iklan

One thought on “Sang Pemberi Berkat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s