Menghargai Orang Lain


Suatu hari saya dan suami mendengarkan kembali kotbah Bapak Jeffrey Rahmat yang menceritakan betapa berharganya kita di mata Tuhan. Dia memberi sebuah ilustrasi mengenai seseorang yang membuat handphone. Dengan susah payah dan dengan waktu yang sangat lama, seseorang itu membuat handphone. Lalu kemudian handphone itu dicuri orang.

Karena diketahui si pencuri bahwa handphone tersebut cukup berharga bagi si pembuatnya, maka si pencuri itu melakukan negosiasi, si pencuri akan mengembalikan handphone tersebut, apabila si pembuatnya membayar dengan harga yang cukup mahal.

Kemudian si pembuat mempertimbangkan penawaran si pencuri tersebut. Apabila handphone yang dibuatnya itu benar-benar sungguh berarti baginya, maka tentu berapa pun harganya, handphone itu tentu akan ditebusnya, agar si pencuri segera mengembalikannya. Sebaliknya, apabila handphone tersebut tidak sungguh-sungguh berarti baginya, dan dia merasa dapat membuatnya kembali, maka tentunya dia tidak akan membayar mahal si pencuri dan membiarkan pencuri tersebut mengambil handphone itu.

Selanjutnya, ketika si pembuat memutuskan untuk menebus handphone tersebut, karena menurutnya handphone tersebut sangatlah berharga, maka setelah mendapatkan handphone tersebut, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan menyimpan handphone-nya itu didalam sebuah kotak dan tidak ingin mengeluarkannya lagi agar tidak dicuri orang? Ataukah dia akan memaksimalkan penggunaan handphone tersebut, sampai pada suatu waktu nanti handphone tersebut akhirnya benar-benar tidak dapat digunakan lagi?

Jawabannya, tentu saja dia akan memaksimalkan penggunaan handphone tersebut, sampai pada suatu waktu, handphone tersebut tidak dapat digunakan lagi dan dia harus menciptakan alat komunikasi yang lainnya lagi.

Demikian pula, dikatakan didalam kotbahnya itu, bahwa Tuhan kita, yang menciptakan kita, suatu hari iblis berhasil ‘mencuri’ kita, dengan melakukan berbagai penipuan agar kita dapat berbuat dosa dan segera melupakan Tuhan. Kemudian iblis melakukan negosiasi kepada Tuhan, bahwa dia akan memberikan kita kembali kepada Tuhan, asalkan kita ditebusNYA dengan harga yang sudah ditentukan oleh iblis. Oleh sebab itu, Bapa di Surga, memberikan anakNYA, untuk disalibkan sebagai tanda penebusan atas karyaNYA, yaitu hidup kita ini, agar bisa diambilNYA kembali.

Selanjutnya, ketika DIA berhasil menebus kita, lalu apa yang DIA lakukan terhadap kita? Apakah DIA mengurung kita agar kita tidak lagi dicuri oleh iblis? Atau apakah dibiarkanNYA kita menentukan pilihan kita untuk berkreasi, beraktifitas, dan mengeluarkan berbagai potensi kita, sampai dikatakanNYA waktu kita sudah berakhir?

Ketika saya mendengarkan kotbah itu untuk yang kedua kalinya, yang pertama secara langsung di gereja, dan yang kedua melalui rekaman, saya kembali disadarkan bahwa setiap kita, setiap manusia itu sangat berharga. Saya akan melihat orang-orang disekitar saya itu sangat berharga. Apa pun aktifitas dia, termasuk pemungut sampah, juga berharga. Kita semua berharga, sampai Tuhan rela menebus kita diatas kayu salib dan itu harganya tidak murah.

Orang-orang yang usianya lebih muda daripada kita, orang-orang yang mungkin tidak bisa mencapai pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kita, orang-orang yang mungkin tidak bisa duduk di posisi yang sama seperti kita, orang-orang yang mungkin hanya memiliki tanggung jawab yang tidak sebesar kita, orang-orang yang mungkin hanya seorang jemaat biasa atau pegawai biasa, anak-anak kita, dan semua orang yang menurut pandangan kita itu tidak se-level, atau setingkat, atau sebanding dengan kita, sebenarnya mereka setingkat dengan kita dimata Tuhan.

Coba lihat kondisi kita saat ini, mungkin kita merasa enggan duduk berdampingan dengan orang yang berbeda warna kulit, atau lebih miskin, atau dengan seorang yang adalah bawahan kita, karena kita merasa derajata kita lebih tinggi dengan mereka.

Lalu coba bayangkan seandainya Tuhan datang. DIA akan meminta kita untuk duduk berdampingan dengan semua orang tanpa pandang bulu dan DIA menilai kita sama dengan orang-orang yang tadinya menurut kita jauh ada dibawah kita itu. Pada saat itu, kita semua sudah tidak mempunyai arti penting lagi dihadapan manusia siapa pun, karena kita semua sama dimataNYA.

Menghargai orang lain adalah hal tersulit bagi kita yang merasa diri kita lebih harum baunya dibandingkan orang lain. Menghargai orang lain adalah hal tersulit bagi kita yang merasa diri kita lebih pandai dan cerdas dibandingkan dengan orang lain. Menghargai orang lain adalah hal tersulit bagi kita yang merasa diri kita lebih cantik dan lebih terpelajar dibandingkan dengan orang lain. Menghargai orang lain adalah hal tersulit bagi kita yang merasa diri kita lebih kaya dan penting dibandingkan dengan orang lain.

Ketika kita mulai merasa lebih dibandingkan dengan orang lain, cobalah untuk berpikir bagaimana pendapat Tuhan mengenai perasaan kita itu? Dihadapan Tuhan kita semua sama, baik kita yang milyuner, dokter, insiyur, psikologi, pendeta, mau pun kita sebagai suami, atau istri, atau orang tua.

Selanjutnya, cobalah berpikir bagaimana hidup kita tanpa orang lain? Misalnya di rumah ketika kita tidak mempunyai pembantu, tentu kita harus mencuci baju sendiri, memasak sendiri, dan membersihkan rumah sendiri. Tanpa pembantu, tentunya kita harus melakukan pekerjaan ‘kotor’ yang biasa dilakukan oleh seorang pembantu. Di kantor, tanpa satpam atau supir, tentunya kita yang harus bekerja untuk melakukan tugas-tugas mereka yang menurut kita ‘pekerjaan rendah’ itu. Dengan demikian, cobalah kita untuk bisa mengerti dan menghargai setiap posisi dan setiap pekerjaan ‘terendah’ sekali pun.

Kita bisa menghargai semua orang, paling sedikit dengan mengatakan, ‘terima kasih’ karena mereka telah memberikan saran atau bantuan bagi kita dan katakan ‘maaf’ apabila kita telah salah paham dengan sikap mereka atau kita telah berkata atau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Selain itu, kita bisa bersikap tidak semena-mena terhadap mereka, dan berilah yang terbaik untuk mereka, misalnya bukan memberikan makanan sisa yang sudah kita sentuh atau berasal dari mulut kita, melainkan berilah yang baru atau yang baik walau pun menurut kita mereka ‘tidak layak’ mendapatkannya.

Ketika kita tertarik untuk melakukan hal-hal yang kurang menghargai, coba bayangkan, bahwa dimata Tuhan sebenarnya kita ini sama nilainya dengan mereka.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s