Buru-Buru = Kekacauan


Beberapa kali ketika PDAM di daerah rumah kami padam dan saya sudah dapat menduganya, saya selalu berusaha untuk menyelesaikan segala pekerjaan di rumah yang sekiranya memerlukan air, agar ketika air padam, saya tidak perlu kesusahan lagi atau saya tidak perlu menggunakan air yang sudah saya simpan dalam penampungan sebelumnya.

Tetapi semakin saya terburu-buru menyelesaikan semua pekerjaan di rumah, yang biasanya dapat saya kerjakan dengan lancar, tetapi karena terburu-buru bisa membuat saya lupa harus mempersiapkan dan melakukan apa saja. Akibatnya, pekerjaannya yang seharusnya bisa saya kerjakan dengan lebih cepat dari biasanya, justru semakin jadi lebih lambat atau sama waktunya jika dibandingkan ketika saya mengerjakannya dengan kecepatan yang biasa-biasa.

Saya adalah seorang yang suka menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat tetapi diusahakan serapi mungkin. Dan jujur saja, semua yang saya lakukan dengan sangat cepat-cepat sebagian hasilnya lebih berantakan dibandingkan apabila saya melakukannya dengan sedikit lebih hati-hati.

Firman Tuhan mengatakan agar kita jangan suka terburu-buru, agar pada akhirnya kita tidak dipermalukan (Amsal 25:8). Tidak selalu hal yang kita lakukan dengan terburu-buru itu akan mempermalukan kita, tetapi kebanyakan hal yang dikerjakan dengan terburu-buru hasilnya kurang maksimal. Bukan tidak maksimal tetapi kurang maksimal. Ini berarti mungkin hasilnya tetap baik tetapi bisa saja tidak sebaik apabila kita melakukannya dengan lebih berhati-hati.

Bagi orang-orang yang cekatan atau suka cepat-cepat, sebaiknya dapat membedakan antara bersikap hati-hati dan bertindak dengan lambat. Karena bagi orang-orang yang suka bekerja dengan cepat-cepat, mungkin dapat merasa apabila berhati-hati itu akan membuat pekerjaan menjadi lama selesainya, karena dikerjakan dengan lambat.

Dalam hal ini, berhati-hati bukan berarti menjadi lambat. Orang yang lambat, tentu juga bukannya akan menghasilkan segala sesuatunya lebih baik, melainkan mungkin justru hanya akan mempersulit. Sedangkan bertindak lebih hati-hati itu adalah tidak melakukan segala sesuatu secara asal-asalnya, atau yang penting selesai.

Kita boleh terburu-buru, tetapi sebaiknya kita melakukannya dengan lebih berhati-hati, agar pekerjaan yang ingin kita selesaikan itu bisa cepat selesai tetapi hasilnya juga baik. Apabila kita cepat menyelesaikan semuanya tetapi hasilnya tidak baik, maka kita akan menghabiskan waktu untuk mengulanginya kembali. Tentunya kita bukannya mempercepat pekerjaan, tetapi justru memperlambat apabila terburu-buru tanpa bertindak hati-hati.

Tidak hanya didalam pekerjaan, tetapi juga didalam bersikap, sebaiknya kita juga tidak terburu-buru memberikan tuduhan kepada orang lain yang belum tentu melakukan kesalahan.

Ada begitu banyak orang yang dengan cepat memberikan tuduhan kepada orang lain yang mungkin terbiasa sering melakukan kesalahan, tetapi justru hal itu hanya akan segera membuat orang lain yang belum tentu melakukan kesalahan itu merasa dirinya memang bodoh dan selalu berbuat kesalahan.

Sikap yang dengan cepat memberikan tuduhan kepada orang lain itu sebenarnya sama halnya dengan bersikap mem-bully atau sikap yang semena-mena terhadap orang yang ‘lemah’.

Sikap terburu-buru sebenarnya tidak seratus persen mutlak adalah sikap yang buruk atau hanya akan menimbulkan kekacuan, tetapi sikap terburu-buru harus didampingi dengan sikap yang tetap harus berhati-hati agar segala sesuatu yang dilakukan itu hasilnya baik.

Ketika kita berbuat jahat dan mengakui dihadapan Tuhan, Tuhan tidak pernah terburu-buru untuk marah pada kita, walau pun DIA tentu tahu bahwa kita mungkin akan mengulangi atau melakukan kesalahan yang jauh lebih fatal lagi. Tetapi bersyukur DIA adalah Tuhan yang baik dan tidak pernah terburu-buru untuk menyatakan kemarahanNYA.

Demikian pula ketika kita meminta sesuatu, DIA pun tidak terburu-buru memberikan, walau pun sebenarnya DIA ingin segera memberikan semua doa kita. Tetapi ketika DIA menjawab kita tepat pada waktuNYA, justru semuanya menjadi indah. Bukan berarti kita harus menunda pemberian kita kepada orang yang telah memintanya kepada kita, melainkan Tuhan jauh lebih tahu waktu yang tepat bagi kita mendapatkan jawabanNYA.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s