Melihat Sisi Sebaliknya


Salah satu sayur yang digemari oleh suami saya adalah sawi putih. Biasanya saya mencampurkan sawi putih untuk bahan-bahan sop, atau saya mengirisnya tipis-tipis untuk dicampurkan dengan mie goreng, atau saya menumisnya begitu saja. Dan sebelum saya memasaknya, tentu saya mencucinya terlebih dahulu.

Saya mudah sekali merasa jijik pada sesuatu yang kotor, apalagi bila untuk makanan yang masuk kedalam tubuh kita, sehingga setiap kali saya mencuci sawi putih itu, saya akan mencucinya dengan teliti. Setelah sisi yang satu saya bersihkan, kemudian saya akan membaliknya agar dapat mencuci sisi sebaliknya.

Beberapa kali saya mencuci sawi putih tersebut, dari sisi yang satu terlihat baik-baik saja, tetapi begitu saya membalik untuk melihat sisi yang sebaliknya, saya menemukan ulat yang sangat menjijikkan, yang rupanya sudah menggerogoti beberapa bagian sawi putih itu. Saya sangat terkejut melihat ulat tersebut dan segera menyiramnya agar ulatnya segera menjauh. Selanjutnya, bagian sawi putih yang terkena gigitan ulat tersebut saya buang.

Sampai suatu ketika saya mendapatkan sesuatu dari kisah ini dan saya ingin membagikannya pada semua pembaca.

Seringkali kita melihat suatu kejadian atau menilai seseorang itu dari satu sisi saja. Misalnya saja kejadian ketika ada seseorang yang menegur kita. Mungkin karena menurut pandangan kita disatu sisi seseorang itu cerewet dan kita sudah tidak suka dengan orangnya, maka kita hanya akan dapat merasakan disisi orang itu jahat dan suka mengomel. Kita tidak merasa salah tapi diomeli saja.

Padahal sebenarnya ada disisi sebaliknya, bahwa seseorang itu menegur kita karena dia merasa kita dekat dengannya, kemudian dia sayang dengan kita, dan hanya ingin menyampaikan sudut pandang yang baik dari dia.

Seandainya kita dapat melihat sisi yang sebaliknya dari kejadian yang menurut kita itu menjengkelkan karena sudah ditegur oleh seseorang itu, maka kita tidak perlu repot-repot merasa jengkel dan kemudian justru semakin membencinya.

Satu cerita dari seseorang yang kaya, di satu sisi, dia terlihat sangat baik dengan siapa saja. Apabila dia pulang dari bepergian keluar negeri, dia selalu membawa banyak oleh-oleh untuk dibagi-bagikan teman-teman dikantornya. Dia selalu dinilai baik dan sangat disayang oleh atasannya dan teman-teman yang tidak terlalu dekat atau oleh teman-teman yang tidak seruangan dengannya.

Tetapi disisi sebaliknya, teman-teman yang di kantor berada seruangan dengannya akan mengetahui bahwa dia adalah seseorang yang sangat suka merendahkan orang lain dan sangat suka bersikap semena-mena.

Tidak semua orang yang terlihat baik itu benar-benar baik hatinya, karena selama dia masih hidup didunia ini, tentulah dia mempunyai kesalahan dan kelemahan. Apabila kita dapat melihat sisi yang buruk, maka kita mungkin tidak akan terkecoh dengan kebaikannya, yang mungkin hanya berniat untuk mencari muka saja.

Contoh yang lain dari seseorang yang kita melihatnya di satu sisi sebagai seseorang yang selalu menjengkelkan dan tak perlu didekati. Mungkin seseorang itu adalah seseorang yang sangat egois, sangat keras kepala, angkuh atau sombong, galak (baca: judes atau ketus bicaranya), tidak adil, pilih-pilih teman, atau mungkin seseorang itu suka mengatur sehingga sikapnya benar-benar menjengkelkan.

Seperti halnya seseorang yang kelihatannya baik, tetapi ternyata mempunyai kekurangan dan kelemahan, demikian pula seseorang yang buruk dan tidak perlu didekati itu sebenarnya juga mempunyai sisi sebaliknya yang benar-benar baik dan bahkan kebaikannya itu belum tentu dimiliki oleh orang lain yang sudah terlihat baik.

Seringkali kita berpikir bahwa diri kita cukup bijaksana dan cukup adil memperlakukan orang lain, seperti saudara-saudara kita, atau teman-teman kita, atau anak-anak kita. Padahal seringkali itu juga kita melihat mereka hanya dari satu sisi saja.

Dan seringkali kita menyalahkan Tuhan atas kejadian demi kejadian yang menimpa kita, hanya karena kita melihat satu sisi dari kejadian itu, padahal sebenarnya ada sisi-sisi lain yang seharusnya membuat kita tetap bisa mengucap syukur kepadaNYA.

Mari kita bersama-sama belajar untuk melihat sisi-sisi lain dari kehidupan diri kita dan orang lain. Jika kita melihat kehidupan kita tampaknya buruk, maka mari segera kita mencari sisi sebaliknya, yaitu sisi positif untuk dapat mengucap syukur. Dan ketika kita melihat sisi negatif dari orang lain, maka segera kita mencari sisi positif dari orang tersebut agar kita segera dapat mengampuni dan mengasihi orang itu.

Tuhan memberkati.

Iklan

One thought on “Melihat Sisi Sebaliknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s