Pelanggan Adalah Raja VS Hamba


Pepatah “pelanggan adalah raja”, bukanlah pepatah yang asing terdengar di telinga kita tentunya. Sejak jaman dahulu, hingga jaman sekarang, dan mungkin di jaman yang akan datang, pelanggan tentunya mempunyai hak sepenuhnya untuk mendapatkan pelayanan yang sebaik-baiknya. Tidak peduli pelanggan tersebut berasal dari kalangan atas, atau kalangan menengah, atau kalangan bawah sekali pun, selama dia adalah seorang pelanggan atau tamu atau pembeli, maka dia mendapatkan hak untuk dilayani.

Seringkali, untuk membeli beberapa barang kebutuhan rumah, saya bisa menelepon sebuah toko yang letaknya dekat dengan rumah saya, menyebutkan kebutuhan saya, dan memintanya untuk mengantarkan ke rumah. Toko tersebut menyediakan fasilitas delivery atau layanan antar dalam jumlah tertentu, sehingga saya tidak perlu repot keluar rumah jika hendak memerlukan sesuatu yang tersedia di toko tersebut.

Pada suatu hari, saya sedang terdesak membutuhkan sebuah air galon, dan seperti biasa saya menelepon toko tersebut untuk mengantarkannya kerumah. Beberapa menit setelah saya menutup telepon, tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, dan tak lama kemudian hujan turun dengan cukup derasnya.

Saya berpikir, orang yang mengantarkan air galon tersebut tidak mungkin dapat dengan segera mengirimkannya, karena harus menunggu hujan berhenti. Walau pun saya cukup merasa haus dan ingin segera mendapatkan air galon yang saya butuhkan, tetapi saya kembali menelepon toko tersebut untuk menanyakan, kira-kira air galon tersebut diantarkan setelah berapa menit setelah hujan berhenti nanti, karena saya mempunyai banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, sehingga saya bisa mengira-ngira batas waktu saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya itu.

Tetapi ternyata orang yang menjawab telepon saya itu mengatakan bahwa pesanan saya sedang diantarkan dan orangnya baru saja berangkat. Saya sempat terkejut dan berkata bahwa nanti saja dikirimkan jika hujan reda, tetapi orang itu menjawab bahwa pelanggan lain tidak ingin menunggu seperti saya, sehingga mereka tetap harus mengirimkan walau pun sedang turun hujan.

Orang yang mengangkat telepon saya berkata “terima kasih ibu karena ibu bersikap sabar dan pengertian terhadap kami, bisa bertoleransi karena hujan dan berkenan menunggu”. Saya agak merasa bingung mendengar jawaban tersebut, karena saya sebenarnya hanya berusaha memposisikan diri apabila saya sebagai pengantar, tentu saya tidak ingin berangkat mengantarkan pesanan apabila hujan sedang turun, sehingga saya merasa kasihan terhadap orang yang bersusah payah mengantarkan semua pesanan walau pun hujan lebat.

Tak lama kemudian orang yang mengantarkan pesanan saya pun datang, dan saya melihatnya sudah basah kuyub walau pun hujan sudah tidak terlalu deras. Saya memasukkan semua barang pesanan saya kedalam rumah dan tiba-tiba saya teringat akan pernyataan bahwa pelanggan adalah raja dan hamba. Saya kemudian terdiam untuk merenungkan dan menggabungkan kedua pernyataan yang saya dapat itu.

Di satu sisi, saya melihat pelayanan yang sangat bagus dari sebuah toko kecil, demi memenuhi kebutuhan para pelanggannya, mereka tak peduli cuaca sedang seburuk apa pun, mereka tetap mengantarkan semua pesanan pelanggannya, dan mungkin pelayanan yang demikianlah yang disukai oleh kebanyakan orang.

Tetapi disisi lain, saya berpikir bahwa memang benar pelanggan adalah raja, tetapi sebagai anak-anak Tuhan, kita sering lupa bahwa kita juga seorang hamba. Jadi sebenarnya didalam hidup ini, kita mungkin bisa menjadi seorang ‘raja’ ketika kita datang ke sebuah restaurant atau sebuah toko untuk membeli sesuatu, tetapi kita ‘tidak layak’ menyebutkan bahwa diri ini adalah seorang ‘raja’, karena kita semua sebenarnya adalah seorang hamba.

Hamba didalam Firman Tuhan berarti seorang pelayan. Bukan hanya sekedar menjadi seorang pelayan mimbar atau pelayan di gereja yang disebut-sebut sebagai ‘melayani Tuhan’, tetapi Firman Tuhan berkata bahwa siapa pun yang melayani seorang akan yang lain sama artinya seperti melayani Tuhan sendiri, yang berarti sekali pun kita melayani orang lain diluar gereja, misalnya didalam pekerjaan, kita sebenarnya juga sama dengan melayani Tuhan.

Saya menuliskan artikel ini bukan karena hati nurani saya sedang penuh dengan belas kasihan, melainkan saya sering melihat keadaan dimana ada begitu banyak orang yang mengaku dan merasa bangga menyebutkan dirinya sebagai anak-anak Tuhan, tetapi tingkahnya seperti masih suka membentak-bentak orang lain atau bersikap semena-mena, hanya karena merasa dirinya adalah ‘raja’ yang berhak mendapatkan pelayanan sebaik-baiknya dari orang lain, dan ‘lupa’ bahwa sebagai anak Tuhan, dia adalah seorang hamba.

Jadi jangan heran bila kemudian kita juga sering melihat orang menjadi kecewa dan pahit hatinya melihat sikap orang-orang yang berlaku semena-mena terhadap orang lain, memilih-milih teman, dan tidak mempunyai belas kasih terhadap orang lain, padahal mengatakan kepada semua orang bahwa dia adalah seorang anak Tuhan.

Mungkin kita dapat berdalih dengan berkata bahwa Tuhan melihat dan mencari orang-orang yang berhati hamba, sehingga sebenarnya kita tidak perlu menjadi seorang hamba. Tetapi sebenarnya, seseorang yang berhati hamba, adalah seorang yang tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang raja yang sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain.
Seorang yang berhati hamba, sekali pun ia adalah seorang yang kaya raya dan sangat pintar, tetapi tetap ‘rela’ menjadi seorang hamba, dalam arti melayani satu dengan yang lain, dan tidak bersikap semena-mena, itulah yang sebenarnya lebih layak disebut-sebut sebagai anak Tuhan.

Menjadi seorang hamba sama sekali bukan berarti menyediakan diri untuk bekerja menjadi seorang pelayan seumur hidup kita dimana pun kita berada dan kita tidak layak untuk menjadi kaya, melainkan semua orang sangat boleh menjadi kaya, hanya saja tetap memiliki sikap hati seorang hamba yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Ketika kita bersikap rendah hati dan mau mengerti keadaan orang lain, maka pada saat itu, tanpa bersusah payah untuk melakukan penginjilan, sebenarnya orang lain sudah dapat melihat sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita. Perbedaan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang lain yang tidak mengenal Tuhan.

Mempunyai sikap hati sebagai seorang hamba bukanlah sesuatu hal yang mudah, karena semua orang suka dilayani dan menjadi seorang yang terpandang atau menjadi seorang yang sangat dihormati. Saya pun tidak selamanya bisa menjadi seorang yang bisa mengerti orang lain.

Tetapi mari kita bersama-sama belajar, setiap kali kita hendak marah atau merasa tersinggung karena seseorang tidak mampu memberikan perilaku yang terbaik seperti yang kita inginkan terjadi, maka pada saat itu kita segera mengingatkan diri kita mengenai sikap hati seorang hamba, yang tetap rendah hati, dan mengerti keadaan orang lain, serta tetap dapat bersikap baik.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s