Bersikap Semena-Mena


Ada sekelompok orang didalam sebuah gereja yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Bapak Gembalanya. Oleh karena rasa percaya yang dimiliki oleh Bapak Gembala kepada sekelompok orang didalam gereja ini, maka didalam beberapa bidang pelayanan, mereka dipilih untuk menjadi ketuanya. Mereka mempunyai kewajiban untuk mengatur para anggotanya dan memberikan laporan mengenai kelancaran atau kendala didalam pelaksanannya kepada Bapak Gembala.

Dengan kepercayaan yang diberikan oleh Bapak Gembala tentunya membuat sekelompok orang ini mempunyai fasilitas yang dapat digunakan dan mereka juga dapat membuat keputusan sesuai dengan kebijaksanaan yang mereka miliki. Tetapi sayangnya, walau pun mereka dianggap baik oleh Bapak Gembala, namun sikap mereka yang sewenang-wenang terhadap para anggotanya, membuat mereka tidak disukai oleh para anggotanya.

Sebagai contoh, ada sebuah kejadian, ada seorang anggota yang datang terlambat, tetapi sekelompok orang ini tidak mempercayainya dan melaporkannya kepada Bapak Gembala sehingga Bapak Gembala tidak mengijinkannya untuk pelayanan dalam beberapa waktu.

Sebaliknya, ketika ada sekelompok orang yang datang terlambat, tidak ada seorang pun yang memberikan teguran dan sekelompok orang ini pun tidak memberikan alasan mengenai keterlambatan mereka. Bahkan pada saat kebaktian hendak dimulai, ketika semua para anggota yang bertugas saat itu sudah siap melayani dan berdiri di tempat masing-masing, sekelompok orang ini masih sibuk sendiri, dan akibatnya jemaat pun melihat mereka masih mondar mandir didalam ruangan, tetapi, tidak ada seorang pun yang menegurnya.

Rasa percaya yang didapat dari Bapak Gembala, membuat sekelompok orang ini dapat bersikap tidak disiplin tanpa merasa bersalah, dan dapat membuat mereka mempunyai sikap yang semena-mena.

Didalam kehidupan ini, orang lain dapat memutuskan untuk mempercayai kita dan memutuskan untuk tidak mempercayai kita. Keputusan orang lain untuk mempercayai kita atau tidak, tergantung dari diri kita sendiri. Namun ketika kita berhasil mendapatkan kepercayaan, maka kita harus tahu bahwa orang lain itu tidak akan pernah tahu niat didalam hati kita, dan ketika orang lain itu sedang tidak bersama dengan kita, orang lain itu tidak akan mengetahui perbuatan kita. Hanya Tuhan dan orang-orang yang ada bersama dengan kita yang akan mengetahui apakah kita bertanggung jawab atas rasa percaya itu atau tidak.

Sikap semena-mena timbul karena ada rasa percaya dari orang lain terhadap kita, kemudian keinginan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa diri kita adalah seorang yang penting dan layak untuk menerima pujian. Tetapi sayangnya, ketika kita mengijinkan diri kita untuk bersikap semena-mena, maka pada saat itulah kita tidak layak untuk dipercaya.
Rasa percaya dari orang lain terhadap kita akan membuat orang lain itu dapat memberikan berbagai fasilitas kepada kita. Kita dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya atau kita dapat kemudian bersikap semena-mena. Ketika kita menggunakan fasilitas itu dengan semena-mena, maka pada saat itulah kita tidak layak untuk dipercaya.

Seperti cerita diatas, ketika sekelompok orang itu mulai membiarkan dirinya datang terlambat, kemudian tidak berada ditempat yang seharusnya ketika sedang bertugas dalam sebuah kebaktian, seolah-olah rasa percaya dari Bapak Gembala itu membuat mereka ‘pantas’ melakukan hal itu, maka pada saat itu sebenarnya mereka tidak layak untuk dipercaya.

Rasa percaya dengan segala fasilitasnya yang dapat kita nikmati itu memang menyenangkan. Tetapi ketika kita tidak dapat menghargai, menghormati, dan bersikap tanggung jawab terhadap rasa percaya dan terhadap fasilitas yang kita miliki itu, maka jangan salahkan orang lain, apabila mereka tidak dapat mempercayai kita.

Jangan anggap rendah orang lain yang melihat sikap semena-mena kita! Karena walau pun mereka hanya sekedar melihat dan tidak melaporkannya kepada siapa pun, mereka adalah orang-orang yang jauh lebih kuat dibandingkan kita yang mungkin kelihatannya sedang mempunyai ‘kekuatan’ lebih karena adanya rasa percaya terhadap diri kita.

Apabila kita mendapatkan kepercayaan, maka lakukan tugas-tugas yang harus kita selesaikan dengan rasa tanggung jawab, tanpa harus bersikap semena-mena terhadap orang lain. Selain itu, apabila kita mendapatkan berbagai fasilitas yang diberikan oleh seseorang, maka kita berhak mempergunakannya dengan rasa tanggung jawab dan tidak untuk digunakan dengan semena-mena.

Tidak hanya seseorang yang dapat memberikan kita kepercayaan, tetapi Tuhan juga sedang memberikan kepercayaan bagi kita. Kehidupan kita dan berkat-berkat Tuhan adalah salah satu bukti dari rasa percaya Tuhan kepada kita. Sebagai contoh, Tuhan memberikan kita kehidupan dan memberkati kita, karena Tuhan percaya bahwa kita ingin dapat berbuat baik terhadap orang lain dan bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, oleh karenanya jangan sampai kita mempergunakan hanya untuk kesenangan diri kita.

Tuhan memberkati.

**picture from sites: http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+selfish&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=687&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=R5r_ivVRRVQJFM:&imgrefurl=http://denver.jobing.com/blog_post.asp%3Fpost%3D7173&docid=-w5AOJ-3vSuYqM&imgurl=http://www.expresspersonnel.com/Shared/Images/cartoons.jpg&w=808&h=594&ei=h4YrT_yOB4rtrAfhmoj1DA&zoom=1&iact=hc&vpx=599&vpy=4&dur=1581&hovh=192&hovw=262&tx=163&ty=141&sig=115066408690274837010&page=2&tbnh=139&tbnw=189&start=19&ndsp=22&ved=1t:429,r:8,s:19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s