Iman yang Tidak Tepat


Sewaktu saya masih kecil, saya suka berada didekat mami saya. Kalau hari libur sekolah, saya suka menemani dan membantu mami memasak. Biasanya kami sambil bercerita-cerita dan bercanda, waktu jadi tak terasa sudah berlalu, mulai dari mengupas bahan-bahannya, sampai masakan tersebut selesai dimasak.

Sehingga, secara tidak langsung saya belajar memasak juga dengan mami, walau pun tidak pernah praktek. Beberapa kali saya memperhatikan mami saya apabila memasak sup, dia selalu memotong wortel dan membuang bagian tengahnya. Saya pernah bertanya, mengapa bagian tersebut dibuang? Dan mami saya berkata bahwa bagian tersebut keras.

Jadi sekarang saya pun menirunya, kalau saya memasak sop, maka saya akan memotong-motong wortel, dan membuang bagian tengahnya. Dan ternyata membuang bagian tengah wortel itu tidak semudah seperti yang saya bayangkan. Apalagi kalau wortelnya kecil, maka saya harus sangat berhati-hati agar jari-jari saya tidak sampai teriris oleh pisau.

Sambil berhati-hati, biasanya saya suka berdoa “Tuhan, tolong lindungi agar tanganku tidak teriris pisau ya”. Mungkin kelihatannya terlalu berlebihan karena saya berdoa untuk hal sepele, tetapi saya percaya walau pun kelihatannya sepele, Tuhan tidak memandang rendah doa saya itu. Sehingga dalam segala sesuatu, sekecil apa pun, saya suka mendoakannya.

Saya berdoa, tetapi bukan berarti saya bisa seenaknya menggunakan pisau itu, melainkan saya juga harus berhati-hati agar tangan saya benar-benar tidak terluka oleh pisau itu.

Demikian pula didalam kehidupan kita didalam pengenalan akan Tuhan. Seringkali kita berdoa meminta Tuhan untuk melindungi, memberkati, dan menyertai kita, tetapi setelah berdoa kemudian kita menyetir sambil mengebut dan melanggar peraturan lalu lintas, tidak mau belajar sehingga tidak bisa mengerjakan soal ujian, atau membeli barang-barang yang tidak perlu sehingga uang habis misalnya.

Sebagai contoh lain, ada orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah yang ternama dan sangat mahal uang sekolahnya, padahal keadaan ekonomi mereka tidak bagus. Sebenarnya ada sekolah lain yang juga bagus dan tidak mahal, tetapi mereka sangat ini anaknya bisa sekolah di sekolah ternama, yang mahal itu. Akhirnya mereka berdoa dan memaksakan agar anaknya dapat sekolah di sekolah yang mahal itu dengan perkataan ‘iman’ “orang tua percaya bahwa Tuhan pasti cukupkan”.

Tetapi realitanya, pada waktu harus membayar uang sekolah, mereka kebingungan, mencari pinjaman, dan bingung meminta dukungan dari saudara-saudara. Jangan salahkan kalau akhirnya saudara-saudara menyindirnya dengan perkataan “mana Tuhan-mu, kok tidak membantumu?”. Karena sebenanya yang terjadi adalah bukan Tuhan tidak sedang mencukupkan sesuai dengan iman orang tua tersebut, melainkan iman orang tua tersebut yang tidak tepat.

Firman Tuhan berkata agar dalam segala sesuatu kita harus berdoa. Didalam doa-doa kita tidak hanya sekedar menyapa dan mengajak bicara Tuhan Yesus, tetapi kita juga boleh menyampaikan permohonan-permohonan. Dan agar doa-doa kita terjawab, maka doa-doa kita itu harus disertai dengan iman, rasa percaya bahwa Tuhan telah menjawabnya.

Tetapi didalam kitab Ibrani juga dikatakan bahwa iman tanpa disertai dengan perbuatan pada hakekatnya adalah mati, yang berarti kita boleh beriman dan berdoa, serta percaya bahwa sesuatu yang tidak mungkin itu pasti dapat menjadi mungkin oleh karena Tuhan, tetapi kita juga harus ingat bahwa Firman Tuhan juga mengatakan agar kita tidak mencobai Tuhan.
Meminta sesuatu dengan iman, sama sekali tidak bermaksud untuk kemegahan kita, dengan alasan ‘untuk kemuliaan Tuhan’. Tuhan ingin kita berdoa, meminta sesuatu, dan beriman, tetapi dengan sikap yang bijaksana dan hati yang tulus.

Tuhan sangat senang apabila melihat anak-anakNya senang, Tuhan juga senang apabila anak-anakNYA mendapatkan segala sesuatu yang terbaik, tetapi bukan berarti kita bisa meminta-minta segala hal tanpa perhitungan (baca: sikap yang bijaksana).

Berdoalah dan berimanlah, tetapi jangan lupa bahwa kita harus menyertainya dengan tindakan (perhitungan dan kebijaksanaan)! Maka Tuhan akan bekerjasama dengan kita untuk mencapai satu tujuan. Seperti pepatah ‘ora et labora’, demikian pula dalam kehidupan ini, jangan sampai kita salah meletakkan iman kita.

Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s