Sebuah Pia


Di Pulau Bali, ada sebuah makanan ringan, pia, yang cukup terkenal dan sangat disukai oleh orang banyak, termasuk saya. Karena begitu ramainya, untuk membeli pia ini kita harus memesannya jauh-jauh hari. Dan pada saat saya menuliskan artikel ini, saya baru saja memesannya, kemudian sewaktu saya menikmatinya, tiba-tiba saya mendapatkan insipirasi dari sebuah cerita dimasa kecil.

Kue pia itu terdiri dari kulit luar dan setelah kita menggigitnya, barulah kita dapat menikmati isi dari pia tersebut. Teringat sewaktu saya masih kecil, kalau mami saya sedang menikmati sebuah kue atau pia, sama seperti anak-anak pada umumnya yang mempunyai rasa ingin tahu yang cukup besar, saya suka bertanya “apa itu mam?”. Tanpa menunggu saya bertanya untuk yang kedua kalinya, mami saya langsung mengulurkan pia yang sedang dinikmatinya dan menunjuk bagian yang bisa saya gigit untuk dicoba.

Biasanya, mami saya selalu menunjuk bagian pia yang tengah, yang sudah digigitnya, karena di bagian tengah pia itu terletak isi dari pia tersebut, yang paling nikmat rasanya, sehingga bagi saya, sebagai seorang anak kecil pada waktu itu, akan merasakan rasa pia yang enak. Kalau saya ingin lagi, maka mami akan memberikan seluruh bagian tengah itu, dan mami yang menikmati bagian luar dari pianya.

Sampai ketika saya berusia lebih dewasa lagi, apabila mami saya menikmati sebuah pia, dan dilihatnya saya juga sedang menginginkannya, maka mami akan mengulurkan pia yang masih utuh, sehingga saya dapat menjadi lebih puas menikmatinya, tetapi tentunya dengan cara harus menggigit bagian kulit luarnya terlebih dahulu, barulah saya dapat menikmati isi pia yang terletak pada bagian tengahnya.

Saya ingat, pada waktu saya harus memulai untuk menggigit bagian kulit luar pia tersebut, saya mengeluh dan bertanya “kok pia nya tidak enak ya?”, mami menjawab “untuk menikmati seluruh rasa pia yang sebenarnya dan rasa enak didalam pia tersebut maka kamu harus menggigit bagian luarnya terlebih dahulu”.

Oleh karena saya sudah lebih dewasa dibandingkan dahulu ketika masih kecil, maka mami tidak mengijinkan saya untuk melepas seluruh kulit luarnya dan hanya menikmati bagian dalamnya. Jadi saya harus menghabiskan seluruh bagian pia tersebut, karena memang demikian cara menikmati pia dengan benar. Dan hingga saat ini, saya dapat memakan pia dengan benar.

Saya tersenyum ketika saya harus menggigit kue pia yang saya beli dan mengingat cerita sewaktu saya masih kecil itu. Saya membayangkan apabila sewaktu saya masih kecil, mami memberikan saya pia bersama dengan bagian kulit luarnya, maka tentu saya tidak akan menyukai pia sampai hari ini.

Demikian pula didalam kehidupan ini, dulu ketika kita masih kecil, kita mungkin hanya mengerti segala sesuatu yang membuat hidup kita nyaman. Sebagai contoh apabila kita lapar, kemudian kita nangis, maka orang tua akan segera memberi kita minum susu atau makan. Kita tidak pernah tahu betapa sulitnya belajar untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah, dan kita tidak pernah tahu betapa sulitnya membangun sebuah perusahaan dari nol.

Tetapi ketika kita beranjak dewasa, maka kita semakin mengerti bahwa ada hal-hal tidak enak yang harus dilalui, untuk menikmati hal-hal yang enak di kemudian hari. Jika kita ingin dihargai di sekolah, maka kita harus belajar, untuk mendapatkan nilai yang baik, karena tidak ada anak yang tidak naik kelas yang akan mendapatkan pujian (baca: penghargaan). Jika kita ingin punya uang untuk kehidupan, maka kita harus bekerja dengan baik.

Suatu hari ketika saya memasang foto hasil belajar memasak sop merah di Facebook, tiba-tiba saya mendapatkan begitu banyak message, yang mengucapkan betapa bahagianya hidup saya sekarang ini. Saya agak keheranan dengan pemikiran orang-orang tersebut, karena menurut saya, setiap orang tentunya mempunyai kesusahan dan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tidak ada orang yang didalam hidupnya hanya mendapatkan salah satu diantara kebahagiaan dan kesusahan, karena selama kita hidup tentu ada suka mau pun duka.

Kalau pun saat ini mungkin kita merasa orang lain atau diri kita sendiri hidupnya sedang dilimpahi dengan begitu banyak berkat, maka kita harus dapat melihat sebuah sisi dimana kita atau orang lain itu sedang berjuang untuk mendapatkan berkat yang saat ini sedang dilimpahkan pada kita atau orang lain itu, sehingga kita dapat melihat sisi-sisi kehidupan yang ‘tidak enak’.

Sama seperti pia dalam cerita tersebut diatas, untuk dapat menikmati rasa asli pia, maka kita harus menikmati semuanya secara utuh, mulai dengan menggigit bagian luarnya. Kehidupan ini tak hanya dapat dilihat dari sisi enaknya saja. Tetapi kita harus memperluas pandangan kita dengan melihat seluruh kehidupan, dimana kita tak hanya sekedar melihat hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga dapat melihat adanya perjuangan, adanya air mata, dan rasa sakit, barulah kita dapat melihat secara utuh kehidupan ini.

Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s