Benci Takkan Mengurangi Berkatnya


Di suatu pagi hari, ada seorang teman yang mengirimkan sebuah pesan kepada saya dengan mengatakan “Lia, Happy belated Birthday”. Ternyata pesan tersebut ingin mengucapkan selamat hari ulang tahun kepada saya yang sudah lewat beberapa hari dari tanggal ulang tahun saya yang sebenarnya. Walau pun demikian, saya tetap senang dan menghargai ucapan tersebut, kemudian saya menjawab “thank you”.

Tak sampai semenit, teman saya melanjutkan percakapan tersebut, dia berkata “Lia, apakah kamu tahu, saya dan beberapa orang teman dengan sengaja tidak memberikanmu ucapan selamat ulang tahun, karena kami tidak merasa perlu mengucapkannya?”. Dengan tetap tenang saya menjawabnya “that’s ok” (didalam bahasa Indonesia berarti “tidak apa-apa” atau “tidak masalah”), karena saya benar-benar tidak pernah mempermasalahan seorang teman itu mengingat hari ulang tahun saya atau tidak.

Kemudian teman saya berkata “tetapi akhirnya saya mengucapkannya juga karena saya merasa tidak enak hati, apakah kamu merasa kesal dengan kita?”. Saya menjawab dengan santai dan sambil tersenyum “saya tidak merasa kesal”. Mungkin karena penasaran, teman saya terus mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan, mengapa saya tidak merasa kesal, dan dia terus menerus mengatakan bahwa ada orang-orang yang sengaja melupakan hari ulang tahun saya itu.

Akhirnya saya menjawab “berkat yang akan saya terima di tahun ini, bukan ditentukan dari berapa jumlah orang yang mengingat dan mengucapkan selamat kepada saya, lalu mengapa saya harus buang energi untuk merasa kesal dengan perbuatan teman-teman yang tidak saya mengerti itu?”. Setelah menerima jawaban saya tersebut, teman saya itu tidak memberikan jawaban apa pun kepada saya.

Mari kita mengingat, didalam kehidupan kita yang pernah kita jalani selama ini, pernahkah kita merasa marah terhadap seseorang, yang disebabkan oleh rasa iri hati yang mungkin tidak kita sadari, lalu kita berusaha untuk menyakiti hatinya terus menerus, dengan harapan seseorang itu kemudian akan menderita?

Sewaktu saya masih sekolah, saya pernah melakukan hal itu. Mami saya sering membanding-bandingkan nilai rapor saya dengan seorang teman yang nilainya lebih baik. Lalu saya merasa kesal (sebenarnya merasa iri hati), dan akibatnya saya selalu berusaha untuk menyakiti hatinya, misalnya dengan cara mencubit atau mendorongnya agar terjatuh, tanpa mengatakan apa yang menyebabkan saya berbuat demikian padanya. Dengan harapan, dia kemudian akan mengerti rasa kesal saya, dan dia tidak perlu belajar agar nilainya sedikit lebih jelek, sehingga saya menjadi yang lebih baik daripada dia.

Tetapi realitanya, teman saya itu hanya menganggap saya sedang usil, dan karena dia tetap belajar, maka nilainya pun tetap baik. Ternyata usaha saya untuk menyakitinya tidak mengubah apa pun, khususnya nilai rapor-nya yang saya harapkan segera turun angkanya menjadi dibawah saya.

Dengan berjalannya waktu, saya akhirnya mengerti bahwa setiap orang diluar diri kita dan termasuk diri kita sendiri, mempunyai peluang untuk gagal dan mempunyai peluang untuk menjadi sukses. Sungguh merupakan hal yang manusiawi apabila kita merasa iri ketika melihat orang lain jauh lebih berhasil dibandingkan dengan diri kita sendiri.

Tetapi merupakan hal yang sifatnya sungguh sangat kekanak-kanakan apabila kemudian kita berusaha untuk menyakiti orang lain yang jauh lebih berhasil itu, (sebenarnya) dengan harapan orang lain itu dapat mengerti bahwa dia ‘tidak layak’ menjadi lebih berhasil daripada kita. Atau mungkin kita dapat berharap, dengan kita bersikap menyakitinya, maka orang lain itu akan merasa terpojok atau terintimidasi, kemudian menyesali keberhasilannya.

Suatu hari, ketika seorang teman berhasil memenangkan sebuah perlombaan, ada seorang teman yang lain berbisik kepada saya “saya tidak akan memberinya ucapan selamat, sok banget sih, baru menang segitu aja”.

Saya pikir ada orang-orang yang tanpa disadari juga bersikap tidak ingin menghargai keberhasilan seseorang, karena merasa keberhasilan seseorang itu tidak layak atau tidak pantas diperolehnya. Padahal kenyataannya, sikap ‘membenci’ atau tidak menyukai keberhasilan orang lain, sebenarnya timbul dari rasa iri hati.

Dan tahukah Anda, ketika kita bersikap tidak menyukai keberhasilan orang lain, kemudian kita berusaha untuk menyakiti hati orang lain itu, maka sikap kita itu tidak akan pernah mengurangi jumlah berkat yang akan diterima oleh orang lain itu. Justru semakin kita bersikap memusuhi atau tidak menyukai orang lain yang berhasil tersebut, maka berkat akan semakin mengikutinya, tetapi berkat akan menjauh dari kita yang mempunyai hati ‘benci’ itu.

Saya menceritakan mengenai sikap seorang teman yang dengan sengaja tidak mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ kepada saya, bukan karena saya merasa kecewa atau sakit hati padanya. Saya tidak pernah berusaha untuk menyakiti hatinya, dan saya merasa bahwa ada hal-hal yang saya peroleh, mungkin membuatnya menjadi iri terhadap saya, sehingga saya tidak punya alasan untuk merasa kecewa padanya.

Tetapi justru saya ingin mengajak Anda, para pembaca, untuk kembali mengkoreksi hati kita masing-masing, adakah sikap kita selama ini, yang dilandasi oleh rasa iri hati atau sikap-sikap hati yang tidak benar? Apakah yang menyebabkan kita marah? Apakah yang menyebabkan kita merasa kesal? Apakah yang menyebabkan kita merasa tersinggung? Apakah yang menyebabkan kita memandang seseorang itu tidak penting lagi?

Firman Tuhan berkata bahwa hari Tuhan sudah semakin dekat, kebenaran dan kesalahan itu semakin tipis perbedaannya. Kecenderungan orang akan menyukai hal-hal yang dirasa enak dan benar menurutnya. Mungkin kita menganggap sikap kita terhadap orang lain selama ini sudah benar, walau pun mungkin sikap kita itu adalah sikap membenci, sikap tidak menyukai, dan sikap yang berusaha untuk menyakiti atas keberhasilan orang lain.

Tuhan itu melihat hati. Ketika hati kita baik, maka hal-hal baik akan mengikuti kita. Sebaliknya, ketika hati kita tidak baik (sedang merasa iri hati atau membenci), maka hal-hal yang tidak baik juga akan mengikuti kita.

Tidak adanya ucapan selamat ulang tahun kepada saya (yang dikarenakan rasa iri atau rasa benci yang tidak beralasan), tidak akan pernah mengurangi berkat-berkat Tuhan didalam kehidupan saya. Tidak adanya ucapan selamat terhadap orang-orang yang berhasil, tidak akan mengurangi keberhasilan orang-orang tersebut. Lalu apa gunanya kita bersikap menyakiti hati orang-orang yang mampu mendapatkan keberhasilan lebih daripada kita, hanya karena kita merasa iri terhadapnya?

Tuhan memberkati.

***picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+jealous&start=224&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=687&tbm=isch&tbnid=qzjxw6kAb3-dhM:&imgrefurl=http://www.allcartoonclips.com/cartoon-disney-characters/scar/&docid=ZbN_BOGinxNlBM&imgurl=http://www.allcartoonclips.com/dchar_Images/350px-Scar.jpg&w=350&h=299&ei=yLRmT7WEEMjYrQfBt6ihBA&zoom=1&iact=hc&vpx=749&vpy=259&dur=857&hovh=207&hovw=243&tx=126&ty=147&sig=115066408690274837010&page=11&tbnh=167&tbnw=196&ndsp=22&ved=1t:429,r:14,s:224

Iklan

One thought on “Benci Takkan Mengurangi Berkatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s