Firman Itu Pedoman Hidupku


Akhir-akhir ini, khususnya dalam satu atau dua tahun terakhir ini, saya sering mendengar tentang berbagai kisah perselisihan, pertengkaran, atau sikap-sikap, yang tidak selayaknya terjadi, apalagi jika kisah-kisah tersebut terjadi didalam tempat ibadah, atau di kalangan orang-orang yang menyebut dirinya anak-anak Tuhan.

Ada kisah-kisah yang mengungkapkan tentang iri hati seseorang, yang akhirnya menyebabkan seseorang itu membenci dan memusuhi orang yang satu dan yang lainnya tanpa sebab.

Ada orang-orang yang sangat suka mencampuri dan selalu ingin tahu tentang persoalan dan kehidupan orang lain secara detail, sampai dengan hal-hal yang tidak terlalu penting pun ingin diketahui dan diurusnya, sehingga membuat orang lain serasa tidak mempunyai kehidupannya secara pribadi dan tidak nyaman.

Ada orang-orang yang suka menceritakan dan mengucapkan berbagai kebohongan, misalnya saja dengan menceritakan segala sesuatu yang tak dimilikinya, mungkin hanya sekedar ingin membuat orang lain menyukainya, terkagum padanya, atau mengandalkan dirinya.

Tak hanya itu, ada juga kisah yang menyedihkan lainnya yang terjadi, seperti misalnya para pemimpin didalam gereja yang saling berselisih, sehingga timbul perpecahan didalam gereja itu sendiri. Sesama pelayan didalam gereja, suka bersaing, suka mencari muka, dan suka mengadu domba, agar mendapatkan perhatian dari pemimpin. Dan tentunya kejadian-kejadian itu apabila diketahui oleh jemaat, akan mengecewakan sekali.

Sampai suatu ketika ada begitu banyak kabar buruk yang terdengar, ada seseorang yang berkata kepada saya “apakah mereka didalam kesehariannya tidak mempunyai persekutuan dengan Tuhan secara pribadi, sebab jika mereka mempunyai persekutuan dengan Tuhan secara pribadi maka tentu saja Firman itu akan menegur?”.

Mendengar pertanyaan tersebut, saya berpikir bahwa yang dikatakan oleh seseorang itu kepada saya ada benarnya juga. Karena saya teringat ketika pelajaran agama di sekolah, dikatakan bahwa Firman Tuhan itu adalah Buku Kehidupan. Kalau dikatakan sebagai Buku Kehidupan, maka dalam segala hal, baik suka mau pun duka, dalam segala persoalan yang terjadi disetiap kalangan dan usia, tua mau pun muda, tentunya Buku Kehidupan akan menuntun kita, untuk menemukan jawaban yang benar dan yang seharusnya, baik dengan cara menegur, menghibur, menguatkan, mau pun sekedar menginformasikan.

Kita semua harus menyadari bahwa kita bukan manusia yang sempurna. Sepandai-pandainya kita, tentu kita mempunyai kebodohan, sekuat-kuatnya kita, tentu kita mempunyai kelemahan, semampu-mampunya kita, tentu kita mempunyai kekurangan, dan sebaik-baiknya kita, tentu kita mempunyai kejahatan.

Dan tentunya, kita semua ingin menjadi seseorang yang lebih baik, agar hidup kita dihargai dan dicintai oleh orang lain. Oleh karenanya, kita membutuhkan persekutuan dengan Tuhan, tidak hanya sekedar berdoa, tetapi juga harus merenungkan dan membaca Firman Tuhan. Firman Tuhan tidak hanya berguna untuk disampaikan kepada orang lain, untuk menguatkan atau menegur orang lain. Tetapi sangat berguna untuk diri kita sendiri, menguatkan dan menegur kita secara pribadi.

Ketika kita mempunyai waktu untuk merenungkan dan melakukan Firman Tuhan, maka hikmat dan pengetahuan yang dari Tuhan itu akan bertambah-tambah didalam hidup kita, kekuatan yang dari pada Tuhan itu tentunya akan menambah kemampuan kita didalam menghadapi setiap masalah, dan teguran yang benar itu akan memperbaiki setiap kata atau perilaku kita.

Ada seorang mama dari seorang Hamba Tuhan yang saya kenal, saya memanggilnya dengan sebutan ‘oma’, dia orangnya tidak banyak bicara, karena usianya yang sudah sangat tua dia memiliki kelemahan secara fisik, dan kami jarang bertemu, atau sekali bertemu pun, kami hanya bisa bertemu tidak lebih dari lima belas menit. Tetapi dalam setiap perkataannya kepada saya, dia selalu memberikan kekuatan dan tips yang membangun kehidupan saya.

Pernah saya melihatnya dari jauh beberapa kali, yang dilakukannya selalu meluangkan waktu untuk membaca Firman Tuhan. Tak heran jika dia menjadi orang tua yang selalu diceritakan oleh anaknya didalam kotbah-kotbahnya, bahwa mamanya itu digambarkan sebagai sosok yang bijaksana, berhikmat, dan selalu memberkati orang lain melalui perkataan dan pemberian yang sederhana yang bisa diberikannya kepada orang lain, walau pun terdapat banyak kelemahan didalam dirinya secara fisik.

Jika kita ingin menjadi seseorang lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih cakap, lebih pandai, lebih berwawasan, lebih kaya, dan lebih baik lagi dalam segala hal, maka jangan hanya sekedar perkaya hidup kita dengan pengetahuan-pengetahuan atau pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan setiap hari, tetapi perkayalah pengertian yang benar akan Firman Tuhan, dan miliki waktu khusus untuk bersekutu bersama Tuhan.

Tuhan memberkati!

**inpired by Oma Oscar and noted by Mrs.Sophia Kailas

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+bible&hl=id&sa=X&biw=1280&bih=687&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=cGcn6-18YzXYxM:&imgrefurl=http://dovemountaineers.blogspot.com/2012/01/one-i-chose.html&docid=T38So46bV1GFFM&imgurl=http://4.bp.blogspot.com/-VBJMYE_oon4/TwFGxJKEQYI/AAAAAAAABW4/zJYnkd8XJTw/s1600/holy-bible.png&w=391&h=412&ei=BB9wT7T_PMTTrQeWuLmgDg&zoom=1&iact=hc&vpx=405&vpy=75&dur=1945&hovh=230&hovw=219&tx=126&ty=151&sig=115066408690274837010&page=1&tbnh=150&tbnw=158&start=0&ndsp=16&ved=1t:429,r:7,s:0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s