If I’m A Devil, Are You An Angel?


Melihat kesalahan orang lain adalah hal termudah yang dapat kita lakukan, apabila dibandingkan melihat kesalahan diri kita sendiri. Didalam Matius 7:3 dikatakan “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok didalam maramu tidak engkau ketahui?”.

Ada seseorang yang bernama Susi, menegur seseorang yang bernama Asyer, karena beberapa orang teman mereka sering mengeluh bahwa Asyer itu suka melukai hati mereka. Oleh karena Asyer cukup mempercayai Susi dan sering menceritakan segala hal kepada Susi, maka Susi berani untuk menegur Asyer, walau pun sebenarnya Susi tidak terlalu suka kepada Asyer, hanya saja Susi pandai menutupi rasa tidak sukanya itu.

Susi mengatakan kepada Asyer mengenai setiap kesalahannya yang membuat teman-temannya tidak suka kepada Asyer. Asyer cukup terkejut mendengar teguran tersebut dan mengatakan bahwa didalam hatinya tidak pernah berniat buruk terhadap teman-teman. Namun Asyer tetap merenungkan teguran Susi dan berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Beberapa kali Asyer suka mendengar teman-teman yang lain kalau berkata-kata lebih tidak sopan dan menyakitkan hati walau pun dalam suasana bercanda. Dan sayangnya, walau pun Susi tahu, tetapi dia tidak pernah menegur teman-temannya itu. Akhirnya Asyer memilih untuk tetap diam, menyimpan semua rasa kecewa di hatinya. Walau pun Asyer tetap merasa tidak terima tetapi menurutnya yang terpenting dia menjadi lebih baik saja.

Sampai pada suatu saat, didalam sebuah pembicaraan ringan bersama teman-teman, seorang teman datang dan berkata bahwa dia minta waktu untuk membersihkan badan sebentar karena dia baru saja pulang dari kantor. Lalu teman-temannya sambil bercanda dan tertawa-tawa, berkata “jangan lupa kaos kakinya dicuci supaya tidak bau”. Tak disangka-sangka, seorang teman itu menjawab “kalau kaos kaki bau lebih baik dibuat untuk membungkam mulut pembantu saja”.

Asyer mengira teman-teman akan segera menegur seorang teman itu, karena seburuk-buruknya sifat Asyer menurut yang dikatakan teman-temannya, tetapi dia tidak pernah berpikir untuk merendahkan status seorang pembantu dan menertawakan seorang pembantu didepan teman-temannya, tetapi realita yang terjadi sungguh mengejutkan Asyer, karena teman-teman yang lain memilih untuk tertawa terbahak-bahak, seolah-olah menganggapnya sekedar lelucon.

Pada waktu kejadian tersebut terjadi, Susi tidak sedang bersama dengan mereka, sehingga Asyer bertanya kepada Susi mengenai kejadian tersebut, dan Asyer kembali terkejut melihat tanggapan Susi yang tanpa alasan tetap menyalahkan Asyer, seolah-olah Asyer tetap jauh lebih buruk dibandingkan teman-temannya yang seharusnya telah berbicara jauh lebih kasar jika dibandingkannya.

Sebenarnya proses yang dialami oleh Asyer telah membuatnya menjadi seseorang yang jauh lebih baik, tetapi seolah-olah dalam setiap kejadian, Asyer selalu menjadi seseorang yang disalahkan. Susi yang selama ini dipercayai oleh Asyer, diam-diam didalam hatinya ternyata juga selalu menentang Asyer. Dan perilaku semua orang disekitar Asyer, sungguh membuat Asyer merasa bukan lebih baik, melainkan menjadi sangat tertekan.

Orang lain memang seringkali dapat dengan mudah melihat kesalahan kita, padahal kita jelas-jelas tahu bahwa orang lain itu juga melakukan kesalahan, hanya saja, orang lain itu tak pernah menyadari atau mengakuinya. Sebaliknya, tanpa disadari, kita seringkali dapat dengan mudah melihat kesalahan orang lain, padahal orang lain juga melihat bahwa kita juga melakukan kesalahan, tetapi sayangnya, sulit bagi kita untuk mengetahui dan mengakui kesalahan kita.

Seseorang bisa saja melakukan kesalahan dimata kita, dan tidaklah salah apabila kita menegur seseorang itu. Tetapi apabila kita terus menerus melihat seseorang itu sebagai sosok yang selalu salah, maka kita tidak akan pernah mempunyai waktu untuk mengkoreksi diri kita sendiri yang tak pernah luput dari kesalahan.

Cobalah sesekali kita merenungkan kembali semua tindakan kita! Pernahkah kita tidak menyukai seseorang dan menganggap seseorang itu bersalah, karena perkataannya yang tidak baik terhadap kita? Dan sebaliknya, apakah perkataan kita sudah terlalu baik untuk dapat dijadikan seseorang sebagai contoh didalam hidupnya?

Pernahkah kita merasa tidak suka pada seseorang hanya karena cerita buruk dari seorang teman mengenainya? Dan sebaliknya, apakah diri kita sudah cukup bijaksana untuk memutuskan untuk tidak suka pada seseorang itu? Pernahkah kita marah pada seseorang karena dia tidak memberikan pertolongannya ketika kita membutuhkan? Dan sebaliknya, apakah kita sadar ketika seseorang itu menagih pinjaman kita, lalu kita merasa tidak suka dan memarahinya untuk tidak menagih-nagih terus, padahal kita tidak tahu keadaan seseorang yang kita pinjam uangnya tersebut?

Kalau kita menyebut orang lain itu sebagai seorang yang bersalah, apakah kita dapat mengatakan bahwa diri kita ini sudah yang terbaik? Seperti judul diatas, kalau kita berpikir seseorang itu jahat, apakah kita sudah merasa bahwa diri kita ini sudah cukup baik?

Menghakimi, merasa diri paling baik dan benar, dan bersikap sombong didalam hati adalah contoh-contoh sikap yang paling mudah untuk dilakukan, paling sulit untuk diperbaiki, dan parahnya lagi, paling sulit untuk diketahui atau ditemukan didalam dan oleh diri sendiri. Tetapi sadarkah kita bahwa sikap-sikap tersebut adalah sikap yang paling mudah untuk ‘membunuh’ seseorang?

Kita boleh mengkoreksi kesalahan orang lain, tetapi kita tidak boleh lupa untuk memujinya dikala dia telah berbuat hal baik. Kita boleh mengkoreksi orang lain, tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa kita juga tidak luput dari kesalahan, dan sangat mungkin orang mengkoreksi kita.

Lukas 6:38b “…Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”. Oleh sebab itu, mari kita bersama-sama mengusahakan agar jangan diri kita menghakimi orang lain menurut ukuran penilaian kita, agar jangan sampai kita dihakimi menurut ukuran penilaian kita itu sendiri.

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+angel+and+devil&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=687&tbm=isch&tbnid=s2e98ATFTfxGrM:&imgrefurl=http://msjialat.blogspot.com/&docid=JSGooQ_50gZRfM&imgurl=http://3.bp.blogspot.com/_0xNxOxIAEt4/TNtryE5V9OI/AAAAAAAAAAc/CU0xqa_B2ZI/S760/Devil-And-Angel-cartoon.jpg&w=480&h=280&ei=dsGDT5-SIcXRrQfvnP3WBg&zoom=1&iact=hc&vpx=777&vpy=187&dur=1102&hovh=171&hovw=294&tx=206&ty=112&sig=115066408690274837010&page=4&tbnh=116&tbnw=199&start=61&ndsp=24&ved=1t:429,r:22,s:61,i:249

One thought on “If I’m A Devil, Are You An Angel?

  1. Standart ukuran yang kita gunakan harus sesuai dengan standart yang Allah mau, itu bisa menjadi tuntunan dalam kita hidup bersama..cheers… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s