Layak Dan Tidak Layak


Pada suatu hari, ada seorang Ibu, yang sedang merasa sangat jengkel dengan anaknya. Ibu tersebut tidak menegur anaknya, tetapi dia segera menelpon suami dan saudara-saudara dekatnya untuk menceritakan kesalahan anaknya itu menurut pendapatnya.

Tidak berhenti sampai disitu, ketika sang Ibu bertemu dengan teman-teman baiknya dan suasana hatinya masih dalam keadaan jengkel, maka sang Ibu tidak akan segan-segan menceritakan kembali rasa jengkelnya terhadap anaknya itu.

Sang Ibu selalu menceritakan kepada orang lain mengenai setiap kejengkelan hatinya baik terhadap anggota keluarganya sendiri, mau pun kejengkelannya terhadap orang lain. Dan parahnya lagi, seringkali, dia mengatakan hal-hal yang hanya ada didalam pemikirannya sendiri. Jadi sebenarnya apa yang dia ceritakan itu belum tentu benar.

Akibatnya, beberapa orang diluar keluarga, mau pun saudara-saudara dari keluarganya yang tidak dapat menerima ceritanya dengan sikap yang bijaksana, jadi ikut-ikutan tidak suka (baca: tidak dapat menghargai) anak sang Ibu ini.

Suatu ketika, ada seorang teman sang Ibu yang menerima cerita mengenai rasa kecewanya terhadap anaknya. Lalu seorang teman Ibu ini menyarankan agar sang Ibu berhenti untuk bersikap selalu menceritakan segala isi hatinya kepada orang lain, karena hal itu bukanlah sikap yang bijaksana, tetapi lebih baik sang Ibu menegur orang yang bersangkut secara pribadi, agar tidak timbul hati yang pahit, khususnya dari seorang anak.

Sang Ibu menjawab bahwa dia merasa tidak selevel atau tidak layak untuk menegur anaknya, karena biasanya selalu berakhir dengan sebuah pertengkaran. Sang Ibu menjelaskan bahwa dia merasa posisinya sebagai orang tua, yang membuat sang Ibu memilih untuk mendiamkan anaknya. Tetapi karena hati sedang merasa sangat kecewa, kemudian sang Ibu berbicara kepada semua orang seperti yang dia pikirkan dan bayangkan.

Dan seorang teman ini pun menjawab sang Ibu dengan hati-hati “kalau Ibu merasa tidak selevel atau tidak layak untuk bertengkar dengan anak karena posisi Ibu sebagai orang tua, maka sebenarnya Ibu juga tidak layak untuk jengkel dengan seorang anak, yang secara usia dan pemikirannya belum bisa sampai seperti Ibu, dan seharusnya Ibu sebagai orang tua bukan mengajaknya ribut, tetapi Ibu berkewajiban untuk menegur sesuatu yang salah agar anak mengerti dan berubah menjadi lebih baik”.

Lalu sang Ibu mulai berkata dengan nada tinggi, sambil terus membela dirinya, dan berkata bahwa dia selalu menegur baik-baik, tetapi anaknya tidak pernah dapat menerima. Seorang teman yang cukup bijaksana ini memberikan jawaban yang cukup mengenai hati sang Ibu “berarti Ibu mungkin berpikir tentang hal yang salah tentang anak Ibu, sehingga dia tidak dapat menerima teguran Ibu, dan sebaliknya Ibu tidak dapat menerima jika seorang anak memberitahukan kesalahan-kesalahan Ibu, sehingga anak tidak dapat menghargai Ibunya, karena dia merasa selalu salah dimata Ibu”.

Mendengar kisah ini, saya mendapatkan beberapa poin yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran didalam hidup ini, yang pertama, ketika kita marah atau merasa kecewa pada seseorang, kecenderungan kita itu selalu menceritakan isi hati kita pada saudara, sahabat, teman dekat, atau siapa pun orangnya yang menurut kita pada saat itu nyaman untuk diberitahukan mengenai isi hati kita.

Tetapi seorang pakar keluarga, ibu Linda Rahardjo menuliskan pada buku kecilnya bahwa tidak baik jika kita menceritakan masalah keluarga khususnya pada orang lain, HANYA untuk MEMBUAT LEGA hati kita. Karena menurut saya, kita tidak pernah tahu orang-orang yang kita ceritai itu apakah benar-benar orang yang cukup bijaksana? Bisa-bisa orang-orang itu justru ikut-ikutan membenci atau marah, yang tidak pada tempatnya.

Masalah didalam keluarga khususnya, bukan untuk dijadikan sebagai bahan pembicaraan, karena pada akhirnya hanya akan membuat keluarga kita itu menjadi bahan tertawaan orang lain.

Keluarga kita bangun dengan memilih suami dan istri sendiri, dan anak-anak dilahirkan, karena mereka adalah anugerah dari Tuhan, bukan untuk dijadikan sebagai bahan tertawaan orang lain. Sekali pun seorang menantu pun adalah hasil dari keputusan anak-anak kandung dari orang tua, untuk menjadi pendamping hidup mereka, sehingga sebagai orang tua sudah seharusnya menghargai keputusan anak-anaknya itu, dengan tidak menjadikan mereka (menantu) sebagai bahan pembicaraan atau tertawaan orang lain.

Pemikiran yang kedua, seringkali, ketika kita emosi, merasa jengkel atau kecewa dengan orang lain, kita secara sadar mau pun tidak sadar, suka mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang orang lain itu.

Mazmur 4:5 berkata “biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam”. Seringkali orang menerjemahkan arti dari ayat tersebut adalah tidak boleh marah, dan marah itu dosa, tetapi ijinkan saya menuangkan pendapat mengenai ayat tersebut, bahwa kita boleh saja marah, tetapi ketika kita marah, jangan sampai kita mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain yang belum tentu benar dipikirkan atau dilakukannya! Karena sebenarnya kata-kata kita yang buruk tentang orang lain yang belum tentu benar itulah yang membuat kita berdosa.

Itulah sebabnya, apabila kita marah dan berpikir buruk tentang orang lain, maka sebaiknya kita diam, menunggu hati kita tenang, dan apabila kita masih merasa orang lain itu buruk, maka sebaiknya kita segera meminta konfirmasi darinya.

Pemikiran yang ketiga, teguran itu selalu mendatangkan rasa tidak nyaman, apalagi jika datangnya dari orang yang kita anggap ‘tidak layak’ untuk menyampaikan isi hatinya terhadap kita, maka kita akan segera marah karena merasa tidak terima.

Coba bayangkan, kita akan lebih mudah melihat isi lemari yang berada sejajar atau lebih rendah dari pandangan kita, dibandingkan isi lemari yang berada lebih dari tinggi kepala kita, bukan? Oleh karenanya, kita akan meletakkan barang-barang yang jarang terpakai (baca: tidak penting) di bagian atas lemari.

Apabila kita merasa posisi kita terlalu tinggi untuk mendapatkan teguran dari orang-orang yang kita anggap tidak layak, maka jangan heran apabila suatu saat kita akan menjadi orang-orang yang tidak penting lagi, walau pun mungkin kita adalah orang tua atau pimpinan tertinggi dalam suatu perusahaan, karena kita sudah membuat diri kita berada di posisi yang ‘sulit terjangkau’, sehingga orang akan enggan untuk berurusan dengan kita.

Dan dari ketiga hal tersebut, yang paling penting adalah sikap saling memaafkan dan saling meminta maaf. Seringkali orang tua berkata bahwa di hati orang itu itu tentu akan selalu ada pintu maaf bagi anak-anaknya. Tetapi pernahkah orang tua menyadari bahwa belum tentu ada pintu maaf baginya dihati anak-anaknya? Kelakuan seorang anak yang buruk itu tidak akan terlalu menyakitkan, jika dibandingkan ketika orang tua tahu bahwa anak-anaknya sedang menyimpan sakit hati padanya.

Memaafkan itu sebenarnya adalah sikap yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan meminta maaf. Padahal, meminta maaf itu tidak akan pernah mengurangi harga diri kita. Merasa diri sendiri itu paling benar adalah hal termudah yang dapat kita lakukan, jika dibandingkan merasa diri kita bersalah. Coba pikirkan, berapa kali kita sudah mengakui kesalahan kita terhadap pasangan kita, anak-anak kita, saudara kita, bawahan kita, atasan kita, atau teman-teman kita?

Melalui artikel ini, saya berharap, kita semua dapat belajar untuk memahami bahwa hidup ini jangan hanya sekedar mempertahankan ego, karena pada suatu ketika, kita semua dapat menjadi orang-orang ‘tidak penting’ lagi jika kita tidak dapat hidup dan berpikir dengan bijaksana.

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+mother+and+son&start=134&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=687&tbm=isch&tbnid=aI0Pct_Ol6sumM:&imgrefurl=http://hempbeach.com/mother-and-son-arrested-for-marijuana-growing-operation-in-livingston-county/&docid=tMFGg_ANmsyZgM&imgurl=http://hempbeach.com/wp-content/uploads/2011/10/mommy-boy-blond-hemp-beach-tv-hbtv.jpg&w=325&h=325&ei=4NaMT5S3LYTtrAf2nJG7CQ&zoom=1&iact=rc&dur=7&sig=115066408690274837010&page=7&tbnh=172&tbnw=178&ndsp=26&ved=1t:429,r:21,s:134,i:158&tx=104&ty=128

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s