Gengsi Yang Tidak Perlu


Sejak saya memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan seseorang yang saat ini telah menjadi suami saya, maka sejak saat itu, tanpa saya sadari, sebenarnya saya sedang memutuskan secara tidak langsung untuk mengalami gesekan dengannya. Benar, semakin kita dekat dengan seseorang, maka peluang untuk bergesekan dengan seseorang itu akan semakin besar.

Sebagai contoh yang termudah adalah anggota keluarga kandung, atau keluarga suami atau keluarga istri yang mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan kita. Diantara teman-teman yang dekat dengan kita, tentu orang yang paling sering mengalami gesekan dengan kita adalah anggota keluarga kita yang terdekat dengan kita itu.

Oleh karena itu, kita tak perlu heran apabila orang-orang terdekat kita itu adalah orang yang mungkin dikagumi oleh orang banyak, tetapi orang yang paling sering menyakiti hati kita, yang mempunyai hubungan paling dekat.

Mengalami gesekan itu tidak hanya sekedar meributkan masalah kecil atau sesekali berbeda pendapat, tetapi mengalami gesekan itu seringkali ‘menggesek’ karakter kita. Seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan didalam Amsal 27:17 “besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”, demikian pula, setiap gesekan yang terjadi akan membuat karakter kita menjadi lebih baik dan atau menjadi lebih buruk.

Didalam setiap gesekan yang timbul diantara saya dan suami, salah satu karakter yang ‘digesek’ adalah sifat gengsi diantara kami. Saat ada hal-hal yang membuat kami bertengkar, saya sebagai seorang wanita, akan lebih suka jika suami saya yang minta maaf terlebih dahulu, karena merasa diri ini lebih dicintai. Sebaliknya, suami saya sebagai seorang pria, akan lebih suka jika saya yang minta maaf terlebih dahulu, karena dia akan merasa dirinya lebih dihargai.

Tetapi untungnya, kami berdua adalah orang yang tidak suka bertengkar terlalu lama karena harus saling mendiamkan dan tidak menyapa, sehingga dalam hitungan menit dan paling lama jam, kami akan segera memutar otak untuk berbaikan. Dan lebih untung lagi, karena tidak ada jalan keluar untuk berbaikan, selain mencoba memahami masalah yang sedang diributkan, dan meminta maaf.

Tetapi disisi lain, yang menjadi masalah, jika salah satu diantara kami harus meminta maaf, maka kami harus mengalahkan gengsi yang ada didalam diri kami masing-masing, dan itu sangat tidak mudah. Ketika kami saling berbagi cerita, maka kami dapat mengerti bahwa pada awalnya, jangankan untuk meminta maaf, untuk mengatakan “I love you” saja seringkali kami membuat ‘perhitungan’ seperti “sudah berapa kali aku mengatakan I love you, tapi kamu belum juga membalasku”, sehingga akhirnya kami membatasi kata-kata “I love you” dan “maaf” secara berlebihan, padahal kami adalah pasangan.

Kami masing-masing belajar, ketika kami merasa gengsi untuk mengatakan “maaf” dan mau mengakui kesalahan kami, maka masalah yang tadinya sederhana akan menjadi semakin rumit. Sehingga mau tidak mau, jika kami ingin melanjutkan hubungan, maka kami harus menekan gengsi kami untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf satu dengan yang lain.

Sampai sekarang, ada saat-saat dimana kami merasa ‘gengsi yang tidak perlu’, yang pada awalnya mungkin sulit untuk kami akui, tetapi harus dikalahkan, untuk menjaga hubungan diantara kami. Bisa dibayangkan apabila seumur hidup kami terus menerus mempertahankan ‘gengsi yang tidak perlu’ diantara kami, maka dapat dipastikan usia pernikahan kami tidak akan lama.

Dan saya rasa, ‘gengsi yang tidak perlu’ seringkali terjadi tidak hanya diantara pasangan pria dan wanita, atau suami istri, tetapi juga diantara orang tua dan anak, mertua dan menantu, kakak dan adik, atasan dan bawahan, orang yang mampu dan orang yang tidak mampu.

Hal ini tidak mengherankan, karena melalui pangkat atau usia seseorang, dapat menentukan seberapa besar gengsi yang dimilikinya. Tetapi masalahnya, ‘gengsi yang tidak perlu’ itu seringkali memperbesar dan memperumit masalah. Kalau pun masalah tidak menjadi besar dan rumit, maka yang terjadi adalah sakit hati, dan sakit hati tetaplah masalah.

Contoh ‘gengsi yang tidak perlu’ itu adalah mengucapkan kata maaf (apalagi jika jelas-jelas kita telah melakukan kesalahan), mengakui kesalahan (apalagi jika kita tahu kesalahan kita), menyapa seseorang terlebih dahulu (hanya karena kita merasa lebih penting), ingin menolong atau memberi tetapi menunggu orang memintanya terlebih dahulu, berusaha menunjukkan bahwa diri mampu padahal sebenarnya tidak mampu, dan lain-lain.

Benar jika Firman Tuhan mengatakan agar anak-anak menghormati orang tuanya (Matius 19:19), tetapi belum dapat ditemukan Firman Tuhan yang mengatakan agar orang tua jangan meminta maaf pada anak-anaknya atau meminta maaf pada orang yang lebih muda darinya, atau orang-orang yang berpangkat dan lebih mampu untuk memberikan pertolongan sesudah diminta terlebih dahulu.

Jadi ketika kita sudah berhasil menata kehidupan kita dan mungkin ketika kita menganggap diri kita paling beruntung di dunia ini karena dilahirkan didalam keluarga yang kaya raya dan memiliki kepandaian, tetapi pada saat kita mempertahankan ‘gengsi yang tidak perlu’, maka pada saat itu sebenarnya apa pun yang sudah kita raih dan apa pun yang sudah kita miliki, sebenarnya tidak ada nilainya lagi, karena kita telah menyakiti hati seseorang yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

‘Gengsi yang tidak perlu’ akan mengakibatkan masalah dan atau luka hati yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Jadi apakah kita masih ingin mempertahankan ‘gengsi yang tidak perlu’?

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+gengsi&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=687&tbm=isch&tbnid=cl3MxQ-sr_kfzM:&imgrefurl=http://jaspret.wordpress.com/2011/02/23/putus-nyambung-salah-nggak-yah/&docid=5sUnQ86hmoyUqM&imgurl=http://jaspret.files.wordpress.com/2011/02/clipart-cartoon-design-13.gif&w=460&h=460&ei=ju6QT6LBNMT4rQe-xYj4BA&zoom=1&iact=hc&vpx=1014&vpy=169&dur=2052&hovh=225&hovw=225&tx=176&ty=155&sig=115066408690274837010&page=4&tbnh=154&tbnw=149&start=67&ndsp=22&ved=1t:429,r:21,s:67,i:259

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s