Jangan Malu Karena Pasanganmu!


Seseorang menikah, yang bukan karena terpaksa atau dipaksakan, maka berarti seseorang itu telah memilih sendiri pasangannya untuk dinikahinya. Setelah mereka menikah, maka pasangan itu menjadi seorang suami dan seorang istri, yang mana keseharian mereka akan semakin menunjukkan pribadi mereka, seperti sifat mereka, kebiasaan mereka, kesukaan dan ketidaksukaan mereka.

Pada waktu mereka pacaran, mungkin mereka masing-masing sudah mengetahui sifat dan kebiasaan mereka satu dengan yang lain, tetapi ketika mereka menikah, maka kebersamaan dan ‘kewajiban’ untuk saling ‘mengurus’ satu dengan yang lain, lambat laun hal-hal yang sebenarnya tidak menyenangkan untuk salah satunya akan sangat memungkinkan untuk ‘menggesek’ mereka, seperti misalnya membuat salah satu dari mereka merasa marah, kecewa, dan kesal, dan tentunya akan memancing yang lainnya untuk ikut merasa marah, kecewa, dan kesal.

Kadang-kadang, dari sikap-sikap yang ‘baru diketahui’ saat sudah menikah, masing-masing suami mau pun istri mungkin berpikir untuk dapat merasa malu apabila sikap-sikap tersebut sampai diketahui oleh orang lain. Sehingga akhirnya mereka dengan atau tanpa disengaja berusaha untuk mengacuhkan pasangan mereka, dan akhirnya pasangan mereka akan merasa sangat kecewa karena merasa tidak lagi dicintai, dihargai, atau diterima.

Bagaimana dengan kita selama ini? Apakah kita pernah merasa malu dengan pasangan yang sudah kita pilih sendiri untuk menjadi suami atau istri kita?

Seumur hidup kita, tidak akan pernah ditemui seseorang yang sempurna. Semua orang, sebaik dan sesempurna apa pun seseorang itu menurut kita, pasti dia mempunyai peluang untuk membuat kita marah, kecewa, dan kesal. Apalagi jika kita hidup setiap hari dan setiap waktu bersama seseorang itu, maka peluang untuk kita bergesekan dengan seseorang itu akan semakin besar.

Jadi sebenarnya kita tidak mempunyai alasan untuk merasa malu dengan seseorang yang sudah kita pilih untuk menjadi pasangan kita.

Coba kita bayangkan! Seorang suami yang kita pilih untuk menjadi seorang ayah bagi anak-anak kita, untuk menjadi seseorang yang berkewajiban memenuhi kebutuhan hidup kita, menjagai dan melindungi kita, seumur hidup kita, telah berjuang untuk melakukan yang terbaik bagi kita, lalu setelah menikah dan mengetahui segala kelemahannya, setiap kita bepergian dengannya, kita enggan untuk digandeng atau disentuh olehnya, tentulah hal itu tidak hanya sekedar mengecewakan hati suami kita, tetapi juga membuatnya sulit untuk dihargai dan diterima oleh orang lain.

Sebaliknya, coba bayangkan apabila Anda seorang pria, apabila Anda telah memilih seseorang untuk menjadi seorang istri, untuk menjadi seorang ibu bagi anak-anak Anda, untuk dipercayai mengurus rumah Anda, dan menolong atau menemani Anda di saat Anda sakit, selama seumur hidup Anda, lalu pada saat Anda telah menikahinya, seseorang itu telah berusaha untuk mempelajari segala sesuatu yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya dan berusaha untuk melakukannya dengan sebaik mungkin, kemudian ketika seseorang itu bepergian dengan Anda, Anda enggan untuk menggandeng atau menyentuhnya, tentulah hal itu akan menyakiti perasaannya, dan orang lain yang melihatnya pun tentu juga akan ikut berpikir hal yang negatif tentang istri Anda.

Perasaan malu karena pasangan kita tidak akan pernah memperbaiki kebiasaan buruk pasangan kita, tetapi justru akan membuat kita mempunyai hubungan yang renggang dengan pasangan kita. Dan tentunya, kita tidak pernah mengharapkan pernikahan yang berakhir hanya karena kita merasa malu akibat kehadiran pasangan yang sudah kita pilih untuk kita nikahi bukan?

Jeffrey Rahmat didalam kotbahnya yang berjudul Family Ties berkata ketika kita berpikir bahwa rumput tetangga terlihat lebih hijau, maka kita harus mengerti bahwa tetangga telah merawat rumputnya dengan baik. Apabila kita ingin melihat rumput kita lebih hijau dari rumput tetangga maka kita harus merawat rumput kita dengan sebaik mungkin.

Demikian pula didalam kehidupan pernikahan kita, suami atau istri kita adalah seseorang yang dapat kita banggakan seumur hidup kita, karena selain kelemahan yang tidak kita sukai dari pasangan kita, tentu ada kelebihan yang jauh lebih dapat membanggakan kita. Jika kita memelihara hubungan kita dengan pasangan kita, maka kita tentu akan merasa sangat bahagia hidup bersama pasangan kita, tanpa harus merasa iri dengan pasangan lainnya.

Kalau kita merasa malu dengan pasangan kita, maka jangan kita berharap orang lain dapat menghargai pasangan kita, dan lambat laun, kita pun akan dibuat malu karena orang lain juga tidak akan dapat menghargai kita.

Tom Cruise dalam filmnya yang berjudul Mission Impossible pada seri yang keempat (Ghost Protocol) diakhir cerita berkata “aku lah orang yang paling bertanggung jawab untuk melindungi istriku”, yang dapat membuat kita semua mengerti bahwa pasangan kita adalah orang yang paling berharga bagi hidup kita dan pasangan kita adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan cinta, perhatian, pembelaan dari kita.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+married&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=5rnPueIp1a4fhM:&imgrefurl=http://courtneymeinen.blogspot.com/&docid=xeIPMMUpwvzMBM&imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_8et6Hiddrws/TBowgN1j6oI/AAAAAAAACDY/alAZuD1C1XU/s320/wedding%252Bcartoon.jpg&w=200&h=232&ei=eGmrT7m1EoKrrAfVytiTAQ&zoom=1&iact=hc&vpx=1063&vpy=274&dur=1501&hovh=185&hovw=160&tx=126&ty=123&sig=115066408690274837010&page=4&tbnh=143&tbnw=130&start=65&ndsp=23&ved=1t:429,r:22,s:65,i:259

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s