Apakah Salah Jika Anak Boleh Menegur Orang Tua?


Pada suatu hari seorang teman mengeluh karena dia mempunyai orang tua selalu meminta perintahnya untuk dilakukan dan tidak berkenan untuk dikoreksi oleh anak-anaknya. Kadangkala perintahnya itu cukup merepotkan tetapi ternyata setelah selesai dilaksanakan, orang tuanya berkata bahwa perintahnya itu salah dan harus diulangi lagi dengan perintah yang sedikit berbeda.

Namanya anak-anak, walau pun memiliki usia yang jauh lebih muda dan pengalaman hidup yang lebih sedikit daripada orang tuanya, namun juga masih mempunyai rasa lelah dan mood yang sedang tidak baik, sehingga pada saat orang tuanya menyuruhnya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, bisa saja seorang anak itu membantah orang tuanya.

Tetapi yang lebih menyusahkan lagi, apabila orang tua sudah mempunyai senjata dengan menyebutkan ayat didalam Firman Tuhan, Efesus 6:2-3 yang menuliskan “hormatilah ayahmu dan ibumu, ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi”. Sehingga anak-anak akhirnya lebih memilih untuk taat walau pun mungkin hati sedang merasa jengkel.

Ketika mendengar cerita tersebut diatas, saya tersenyum karena sepertinya hampir semua orang tua berlaku demikian, walau pun orang tua sudah mengenal kebenaran Firman Tuhan. Orang tua saya juga mungkin seperti cerita tersebut diatas, tidak suka apabila anak-anaknya membantah mereka.

Tetapi mungkin ada juga orang tua yang demokratis, yang memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk bersuara, termasuk untuk menegur orang tuanya. Seperti orang tua saya, yang walau pun mungkin sebagian besar mereka adalah pemberi keputusan, tetapi paling tidak anak-anak masih diberi kesempatan untuk berbicara.

Bagaimana dengan Anda? Menurut Anda, Anda orang tua yang bagaimana? Atau bagi yang belum menjadi orang tua, kedepan Anda ingin menjadi orang tua yang bagaimana?

Orang tua yang tidak suka jika dikoreksi oleh anak-anaknya adalah orang tua yang memiliki gengsi yang berlebihan dan memiliki sifat yang sangat egois.

Mungkin dari sisi usia, seorang anak memang tidak memiliki pengalaman hidup lebih daripada orang tuanya. Ketika seorang anak itu masih berada didalam usia anak-anak yang masih perlu diajari dan diberitahu, mereka mungkin belum benar-benar dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Tetapi berjalannya waktu, ketika anak-anak menginjak usia dewasa, maka mereka mempunyai kemampuan lebih untuk dapat melihat kesalahan orang tuanya.

Bukankah orang tua juga manusia yang juga mempunyai peluang untuk berbuat kesalahan?

Artikel ini dibuat sama sekali tidak untuk melawan para orang tua atau orang-orang yang memiliki usia yang lebih tua daripada saya. Tetapi ijinkanlah saya untuk mengingatkan bahwa masih ada ayat Firman Tuhan didalam Efesus 6:4a yang berkata “dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu…”.

Orang tua yang tidak mengijinkan dirinya untuk dikoreksi, sebenarnya sudah membangkitkan amarah didalam hati anak-anaknya, karena mereka merasa bahwa orang tuanya egois dan tidak cukup bijaksana dengan tidak menghendaki pendapat anak-anaknya. Selain itu, sikap orang tua yang tidak suka dikoreksi oleh anak-anak, sebenarnya adalah sikap orang tua yang telah mengantarkan anak-anaknya untuk membuat anak-anaknya menjadi lebih sulit untuk menghormati orang tuanya.

Lalu pada ayat 4b berkata “tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan”. Kadangkalah orang tua menegur anak-anaknya, tetapi mereka tidak sadar bahwa hal-hal yang tidak mereka sukai didalam diri anak-anaknya, sebenarnya ada didalam dirinya. Bukankah anak-anak itu mempunyai kebiasaan yang seringkali juga menjadi kebiasaan orang tuanya?

Selanjutnya didalam Keluaran 32 diceritakan sikap bangsa Israel yang sangat tidak sabar terhadap Musa, sehingga mereka membangun anak lembu emas. Melihat anak lembu emas ciptaan bangsa Israel tentunya membuat Tuhan begitu sangat marah dan hendak membinasakan mereka. Tetapi didalam ayat 11 dikatakan bahwa Musa mencoba untuk melunakkan hati Tuhan.

Kita semua tahu bahwa Tuhan itu diatas segala-galanya, jika orang tua saja tidak bisa dikoreksi, apalagi Tuhan yang Empunya langit dan bumi. Tetapi Musa berusaha melunakkan hati Tuhan, tentunya dengan kata lain Musa mencoba untuk ‘mengkoreksi’ Tuhan, agar tidak membuat malu namaNYA sendiri dengan membinasakan bangsa yang sudah berusaha diselamatkanNYA.

Bisa dibayangkan, jika Tuhan seperti orang tua yang mempunyai sifat yang tidak mau dikoreksi oleh anak-anaknya, maka bisa saja Musa sudah dibinasakan olehNYA dan tidak akan pernah ada cerita bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Tetapi untungnya walau pun Tuhan berkuasa atas langit dan bumi, Tuhan tetap mendengarkan Musa dan DIA menyesali niat hatiNYA (tertulis didalam ayat 14 yang berkata “dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkanNYA atas umatNYA”).

Dan yang terakhir, mungkin ada orang tua yang merasa dirinya tentu akan mendapatkan pembelaan dari Tuhan apabila anak-anaknya tidak menghormati orang tua. Hal itu benar, karena didalam Firman Tuhan juga diajarkan hukum tabur tuai. Tetapi jangan lupa bahwa sebenarnya, orang tua yang suah ‘membangkitkan’ amarah didalam hati anak-anaknya, juga bepeluang untuk mendapatkan ‘resiko’ atau tuaiannya sendiri.

Bukankah setiap orang mempunyai pertanggungjawabannya sendiri-sendiri ketika berhadapan dengan Tuhan nantinya?

Jika sebagai orang tua, kita merasa anak-anak kita tidak pantas untuk menyatakan koreksinya bagi kita, maka kita orang tua, tentunya juga tidak pantas untuk merasa marah, merasa kecewa, atau merasa jengkel apabila anak-anak kita tidak dapat mempunyai pemikiran yang sama seperti yang kita pikirkan, karena dari usianya pun mereka sudah jauh lebih muda daripada kita.

Sampai pada saat saya menuliskan artikel ini, saya belum akan dan belum menjadi orang tua, jadi saya belum dapat merasakan bagaimana jika seorang anak menegur kesalahan saya. Tetapi biarlah tulisan ini dapat mengingatkan saya dan teman-teman dikemudian hari dan mengingatkan setiap orang tua yang telah mempunyai anak saat ini, bahwa selama kita masih hidup, kita dapat berbuat kesalahan, dan harus mau menerima koreksi dari semua orang, termasuk anak-anak kita, dan para bawahan kita di kantor misalnya.

Koreksi itu tidak pernah menyenangkan karena koreksi selalu mengusik harga diri dan ego kita. Tetapi koreksi itu membuat kita menjadi lebih baik. Kebersamaan itu tidak hanya menghadirkan pujian, tetapi juga koreksi. Jika kita ingin mempunyai sebuah keluarga yang harmonis, dimana anak-anak dapat menghargai dan khususnya dapat menyukai keberadaan orang tuanya, maka harus ada pujian dan menerima koreksi didalam keluarga itu.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+cartoon+son+and+mother&start=252&hl=id&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=1n1O1ox8X_NKJM:&imgrefurl=http://www.123rf.com/photo_9659587_large-childlike-cartoon-characters-little-kids-boys-and-girls-holding-a-very-big-blank-banner-and-we.html&docid=uCPM2dtQJFqK8M&imgurl=http://us.cdn2.123rf.com/168nwm/mirage3/mirage31106/mirage3110600005/9659584-large-childlsh-cartoon-characters-mother-and-son-happy-in-front-of-their-new-house-with-blank-sign-b.jpg&w=168&h=107&ei=NJywT7PvDMTKrAenqOmDBA&zoom=1&iact=hc&vpx=1063&vpy=192&dur=4909&hovh=85&hovw=134&tx=74&ty=70&sig=115066408690274837010&page=12&tbnh=85&tbnw=134&ndsp=23&ved=1t:429,r:17,s:252,i:188

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s