Tepati Janji!


Ada seorang anak bernama Agung dan bernama Made, mereka bersahabat karib sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar dan rumah mereka juga berdekatan, sehingga hampir sepanjang hari lamanya, mereka selalu bersama-sama. Kini mereka sudah sama-sama bekerja, walau pun di kantor yang berbeda, tetapi mereka masih sering bertemu, karena masing-masing belum menemukan pasangan hidupnya.

Suatu hari Agung berkata kepada Made bahwa ia ingin meminjam uang karena ada suatu keperluan pembayaran yang tidak bisa ditunda, sedangkan gajiannya baru diperoleh keesokan harinya. Made dapat dikatakan sebagai seorang yang lebih beruntung dibandingkan dengan Agung, karena Made sudah menjadi seorang manager, sedangkan Agung masih seorang pegawai biasa.

Walau pun Made dapat dikatakan lebih banyak jumlah gaji yang diperolehnya setiap bulan, tetapi Made juga mempunyai tanggung jawab yang setiap bulannya memakan biaya tidak sedikit. Hanya saja, Made tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun juga, termasuk kepada Agung sahabatnya sendiri.

Oleh karena Agung berjanji untuk membayarkannya kepada Made uang pinjamannya keesokan harinya setelah ia mendapatkan gaji, maka Made berani meminjamkan uang yang seharusnya digunakan untuk pembayaran yang menurutnya masih dapat ditunda sehari saja.

Tetapi sialnya, Agung tidak menepati janjinya kepada Made. Selama berbulan-bulan Agung bertemu dengan Made seperti tidak ada hutang apa-apa. Agung tidak membicarakannya dan Made pun sudah lelah menagih. Akhirnya Made pun terpaksa harus meminjam uang kepada saudaranya, untuk membayarkan tanggungannya. Padahal Made setiap bulan sudah mempunyai perhitungan dan gajinya benar-benar pas untuk kehidupannya, tetapi demi sahabatnya, Made harus berhutang, dan hutangnya itu lama baru bisa terbayarkan.

Agung tidak mengetahui kesusahan sahabatnya Made yang harus berhutang karena dia tidak membayarkan uang yang dipinjam. Sampai suatu hari Agung kembali meminjam uang kepada Made dan karena merasa kasihan, Made hanya bisa memastikan bahwa Agung tidak menunda-nunda pembayarannya lagi seperti sebelumnya.

Tetapi kejadian yang sama terulang dan kali ini Agung berkata bahwa Made tentu akan diberkati oleh Tuhan walau pun Agung tidak membayarkan hutangnya itu. Made merasa sangat kecewa dengan sahabatnya itu, dan berkata kepada Agung “bagaimana seandainya pada saat kamu meminjam uang kepadaku dan aku menjawab Tuhan pasti akan memberkatimu?”. Agung terdiam. Dan sejak saat itu Made tetap bersahabat dengan Agung, tetapi Made tidak mau meminjamkan uang kepada Agung, apa pun alasannya.

Mungkin Agung berpikir Made mempunyai jabatan yang lebih tinggi, tentu uang pinjaman tersebut tidak masalah bagi Made apabila tidak dikembalikannya. Tetapi Agung mempunyai dua kesalahan, yang pertama Agung tidak berhak menilai orang lain dengan pemikirannya sendiri, dan yang kedua Agung tidak menepati janjinya, sehingga akibatnya Made tidak mempercayainya lagi.

Mungkin saja kisah tersebut diatas pernah dialami oleh salah seorang dari Pembaca atau pernah didengar ceritanya. Mungkin Anda pernah berada di posisi sebagai Made, tentunya akan merasa sangat jengkel dengan sosok seorang seperti Agung dalam cerita tersebut diatas, atau sebaliknya Anda pernah di posisi Agung, yang menganggap orang lain tentu lebih kaya dan tidak perlu dikembalikan uangnya.

Apabila kita sedang berada di posisi seperti Made, maka sebaiknya kita harus tetap berusaha untuk mengampuninya, tetapi jangan mengulangi pengalaman yang buruk untuk kedua kalinya, agar kedepan hubungan tetap terjaga dengan baik, dan jangan sampai rasa kecewa berubah menjadi sakit hati yang tak tersembuhkan. Tetapi apabila kita sedang berada di posisi seperti Agung, maka tak ada kata lain selain segeralah bertobat!

Kita tidak berhak menilai seseorang itu kaya atau miskin, bahagia atau susah hidupnya hanya dari sekedar tampak luarnya saja. Seseorang itu terlihat bahagia, bisa membeli apa pun, belum tentu dia adalah seorang yang benar-benar sudah mapan hidupnya. Saya dapat memastikan bahwa setiap orang mempunyai masa-masa susah dan masa-masa senang, tetapi kita tidak berhak untuk menebak-nebak untuk kepentingan kita sendiri.

Mami saya selalu mengajarkan kepada saya, walau pun dengan saudara sendiri, atau pun dengan anak kandung sendiri, saya tidak boleh menebak-nebak kehidupan mereka dan mengharapkan mereka memberi untuk saya.

Tetapi mungkin masing-masing keluarga memiliki pemikirannya sendiri. Mungkin masih ada orang tua atau saudara dari teman-teman yang mengharapkan pemberian anak atau saudaranya atau bahkan memaksa anak atau saudaranya untuk memberinya dengan berkata meminjam uang tetapi tidak mengembalikannya, dengan anggapan anak atau saudaranya sudah menjadi kaya. Hingga membuat rasa percaya anak-anak kepada orang tuanya atau hubungan diantara saudarapun menjadi pudar.

Menepati janji adalah salah satu poin penting untuk menumbuhkan rasa percaya didalam diri seseorang. Seperti pada contoh diatas, apabila kita meminjam uang, maka kembalikanlah uang tersebut sesuai dengan janji. Apabila kita tidak dapat menepatinya, maka sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk memberitahukan kepada orang yang bersangkutan bahwa kita menunda pembayaran dengan alasan yang sebenarnya. Paling tidak, orang yang mendapatkan janji kita itu melihat sikap tanggung jawab dari kita. Tetapi selanjutnya, tentu kita tetap harus menepati janji yang kita buat sendiri sebagai bukti kita bertanggung jawab.

Contoh lain, apabila kita sudah berjanji untuk bertemu pada jam tertentu atau berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu, maka usahakanlah untuk tepat waktu, atau paling tidak kita memberi kabar bahwa kita sedang dalam perjalanan atau terlambat dikarenakan oleh sesuatu hal. Pemberitahuan itu membuat orang lain yakin bahwa kita tidak melupakannya dan merupakan suatu sikap tanggung jawab dari kita.

Dengan kita menepati janji, maka kita akan lebih dihargai dan yang terutama, kita akan lebih dapat dipercayai. Mengembalikan segala sesuatu yang kita pinjam, termasuk perihal menepati janji karena ‘segala sesuatu’ yang masih harus dikembalikan itu adalah sebuah pinjaman, yang harus dikembalikan, bukan sebuah pemberian, yang tidak perlu dikembalikan.

Tuhan memberkati.

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+of+promise&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=t83Us1JdURFhMM:&imgrefurl=http://heartofaleader.wordpress.com/2012/05/27/is-a-promise-always-a-promise/&docid=mNVZrKP8rd7OWM&imgurl=https://heartofaleader.files.wordpress.com/2012/05/promise_day_02.png&w=1274&h=1037&ei=K_vOT8z5MMPtrAfMxbCuDA&zoom=1&iact=rc&dur=414&sig=115066408690274837010&page=2&tbnh=150&tbnw=184&start=15&ndsp=24&ved=1t:429,r:7,s:15,i:116&tx=141&ty=54

One thought on “Tepati Janji!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s