Penonton = ‘Pemain’ Terbaik


Apakah Anda suka menonton pertandingan bola? Ada seorang teman yang sangat menyukai pertandingan bola, sehingga pada saat pertandingan bola, khususnya untuk pemain kesukaannya, seorang teman ini akan menyediakan waktunya untuk menonton. Tentu saja pada saat menonton, seorang teman ini memberikan komentarnya, ikut bersorak senang apabila terjadi goal, dan ikut merasa sangat sedih apabila terjadi kekalahan.

Pada suatu hari, di pagi hari, di sebuah ruangan kerja terdengar seorang teman itu menceritakan kesedihannya karena pertandingan sepak bola semalam sebelumnya mengalami kekalahan, dan seorang teman itu juga berkata bahwa ada pemain-pemain yang bermain tidak benar-benar serius dan seorang teman itu juga berkomentar bahwa ada pemain-pemain yang tidak pandai menendang bola sehingga bola tidak pernah masuk ke gawang.

Mendengar ceritanya itu, tiba-tiba ada seorang teman yang lain bertanya padanya sambil tersenyum, kira-kira pertanyaannya seperti ini “kamu suka menonton pertandingan sepak bola dan suka mengomentarinya, apakah kamu bisa bermain sepak bola?”. Seorang teman itu segera menjawab pertanyaan itu sambil tersenyum kecut “tentu saja saya tidak bisa bermain sepak bola karena saya seorang wanita dan saya hanya suka menonton saja untuk menemani pacar saya”.

Spontan saja semua orang yang berada didalam satu ruangan itu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban seorang teman yang terlihat salah tingkah itu. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, seperti biasa saya mencoba untuk merenungkannya sebagai bahan artikel saya kali ini.

Seperti pada judul artikel ini “penonton adalah pemain terbaik”, demikian pula didalam kehidupan ini, seringkali kita menjadi seorang penonton dan sekaligus pemeran terbaik didalam kehidupan pribadi orang lain.

Untuk memperjelas maka saya akan menjelaskan dengan contoh sederhana. Apabila kita menonton sebuah film atau menonton sebuah sinetron, tentu kita akan melihat tiga tipe pemain, yaitu pemain antagonis (penentang/jahat), pemain protagonis (tokoh utama/baik), dan pemain tritagonis (tokoh penengah). Dan sebagai penonton, tentu saja secara emosi, seolah-olah kita mempunyai ‘hak’ untuk merasa tidak suka pada pemain antagonis.

Didalam kehidupan ini, tentu ada sikap dari orang-orang yang tidak secara langsung mengenai kita yang membuat kita pada akhirnya memutuskan untuk merasa tidak suka pada orang-orang itu karena sikapnya yang seolah-olah adalah pemeran antagonis didalam kehidupan ini. Walau pun tidak bijaksana, namun kenyataannya kita mempunyai hak untuk menentukan sikap ketika kita melihat sikap orang-orang yang menurut kita tidak baik itu.

Saya pernah mengatakan kata-kata yang terdengar sedikit kasar ketika saya sedang bercanda dengan seorang teman dekat saya. Teman dekat saya sama sekali tidak tersinggung karena dia mengenal saya dengan baik. Tetapi teman-teman yang ada di sekitar kami yang mendengar kata-kata saya itu, mereka tiba-tiba menjadi berubah sikap dan kemudian mereka memutuskan untuk menjauhi saya.

Walau pun saya terkejut dengan perubahan sikap teman-teman saya itu, namun saya segera menyadari bahwa mereka adalah seorang penonton kehidupan saya yang mempunyai hak untuk memutuskan untuk merasa tidak suka pada saya.

Hal yang serupa terjadi ketika saya melihat seorang rekan sepelayanan berbicara kasar dan marah-marah pada suami saya, saya dan beberapa orang teman lainnya yang mendengar seseorang itu berbicara kasar dan marah-marah pada suami saya pun berhak untuk menentukan sikap untuk merasa tidak suka pada rekan sepelayanan itu.

Penonton adalah pemain yang terbaik, dan tanpa kita sadari, seringkali kita pun menjadi penonton yang seolah-olah bermain dengan sangat baik didalam kehidupan orang lain, tanpa kita benar-benar menyelami apa yang sedang terjadi dengan kehidupan orang lain itu dan itulah realita yang selalu terjadi didalam kehidupan ini.

Tetapi kehidupan seorang manusia tentunya berbeda dengan yang ada di film-film atau sinetron. Pemeran di film atau di sinetron adalah orang-orang yang memang bertugas untuk memerankan setiap jenis peran yang telah ditentukan. Sedangkan didalam kehidupan ini, kalau kita ingin orang lain tidak memutuskan dirinya untuk merasa tidak suka pada kita, maka kita harus mau belajar untuk memerankan kehidupan ini dengan sangat baik.

Memerankan kehidupan dengan sebaik mungkin sama sekali bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan mengubah kepribadian yang tidak baik menjadi lebih baik seperti yang tertulis didalam Firman Tuhan didalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahkan oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah yang kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Kepribadian yang tidak baik itu salah satu contohnya seperti bersikap sombong, bersikap suka menertawakan dan membicarakan orang lain, bersikap bossy atau semena-mena, bersikap suka menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain, dan lain-lain. Dan jika kepribadian yang tidak baik itu mau berubah, maka akan menjadi pribadi yang rendah hati, dapat menahan diri untuk tidak membicarakan orang lain, dapat menjadi pribadi yang tidak semena-mena atau mementingkan diri sendiri, dan dapat memiliki hati kasih yang tulus terhadap orang lain.

Kita tidak dapat mencegah orang lain untuk mengambil keputusan untuk suka atau tidak suka pada kita, dan kita juga dapat bersikap acuh terhadap orang-orang yang tidak suka pada kita karena kita mungkin tidak memerlukan kehadirannya didalam hidup kita. Tetapi hidup kita tidak akan menjadi lebih baik apabila kita mempertahankan kebiasaan-kebiasaan buruk atau sifat-sifat buruk didalam diri kita. Oleh karena itu kita perlu berubah.

Dan apabila kita tidak ingin orang lain ikut serta memerankan peran yang seharusnya milik kita, maka kita harus belajar untuk tidak menjadi penonton yang ‘sok pintar’, yang selalu mempunyai komentar untuk peran orang lain didalam kehidupannya, dengan kata lain jangan suka mencampuri urusan orang lain kalau urusan kita tidak ingin dicampuri!

Hidup ini terlalu indah dan terlalu singkat untuk diisi dengan hal-hal yang buruk dan kebencian. Oleh karena itu, mari kita mainkan peran sebagai orang yang terbaik didalam kehidupan ini! Pengkotbah 8:1 “Siapakah seperti orang berhikmat? Dan siapakah yang mengetahui keterangan setiap perkara? Hikmat manusia menjadikan wajahnya bercahaya dan berubahlah kekerasan wajahnya”.

Tuhan memberkati!

**picture taken from:
http://www.google.co.id/imgres?q=picture+cartoon+of+penonton&start=261&um=1&hl=id&sa=N&biw=1280&bih=707&tbm=isch&tbnid=y-25Xwxsag4V0M:&imgrefurl=http://unikbaru.blogspot.com/2011_01_23_archive.html&docid=28b7Y4mWAR-pLM&imgurl=http://nasywadayinta.files.wordpress.com/2010/05/gimana-ya-cara_gambar_cartoon_anak-laki.jpg&w=438&h=375&ei=iIHVT4W3KcjQrQfhmuj7Dw&zoom=1&iact=hc&vpx=996&vpy=145&dur=956&hovh=208&hovw=243&tx=154&ty=114&sig=115066408690274837010&page=13&tbnh=162&tbnw=189&ndsp=20&ved=1t:429,r:9,s:261,i:252

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s